Menggugat Siapa?

Saya ingin menggugat. Tapi bingung harus menggugat siapa.

Begini ceritanya…

Setiap harinya ada 6,6 juta pengguna kendaraan umum yang berkeliaran di Jakarta (menurut info tahun 2012). Saya salah satu diantaranya. Moda kendaraan umum bervariasi; Trans Jakarta, Patas AC dan non AC dan sejenisnya, Kopaja/Metro Mini dan sejenisnya, Mikrolet/KWK dan sejenisnya, dan — yang terbaru dan hibrid — Kopaja AC.

Kebetulan tempat tinggal di Grogol dan lokasi kerja di Blok M dapat difasilitasi dengan Kopaja AC S13 jurusan Grogol – Ragunan (Belakang). Tarif yang terbilang mahal (Rp5.000; bandingkan dengan tarif Trans Jakarta Rp3.500) gak jadi masalah untuk warga kelas menengah ngehe, tentunya. Yang penting sampai tujuan dengan aman nyaman.

Manis Janjimu

Pada awal beroperasi, Kopaja AC memasang tarif perkenalan, hanya mengangkut penumpang sesuai jumlah bangku yang tersedia, dengan pintu depan sebagai pintu masuk dan pintu belakang sebagai pintu keluar, keduanya terkendali otomatis.

Lalu tarif normal diberlakukan, jumlah penumpang mulai melebihi kapasitas bangku (oh, ternyata itu tujuan adanya pegangan tangan di lorong bus!), pintu depan dan belakang mulai dikendalikan otomatis… oleh kenek.

Sekarang, Kopaja AC sudah terintegrasi dengan TransJakarta, dengan sliding door di kanan dan penyesuaian posisi bangku untuk mengangkut penumpang dari halte TransJakarta. Entah untuk siapa integrasi ini ditujukan. Yang pasti saya bukan diantaranya.

Kopaja AC yang pada awalnya saya bangga-banggakan (hih! ngapain juga pake bangga?), kini menjadi sebuah oksimoron.

Dan saya ingin menggugat biang keladi dibalik oksimoron ini!

kopaja ac s13

Kenapa Oksimoron?

Karena menurut saya kehadiran Kopaja AC seharusnya menjadi alternatif untuk pengguna kendaraan umum regular (bukan Trans Jakarta) dan bukan alternatif untuk pengguna Trans Jakarta. Dan, integrasi jalur ini, bukannya memperbaiki malah memperburuk keadaan. Pengguna kendaraan umum yang menanti di halte regular (bukan halte Trans Jakarta) harus menyeberang ke jalur Bus Way demi diangkut; atau sebaliknya, penumpang yang ingin turun di suatu lokasi (bukan halte Trans Jakarta) harus turun sembarangan dari jalur Bus Way dan menyeberang ke lokasi tujuannya itu. Bayangkan kekacauan yang terjadi untuk proses naik-turun penumpang tersebut!

In Bigger Picture

Tapi kalau mau jujur, masalah pada sistem transportasi umum tidak hanya terjadi pada Kopaja AC saja, melainkan pada semua moda transportasi umum.

Pertanyaannya adalah: “salah” di mana sih sistem transportasi umum ini?

Pikiran awam saya menyimpulkan kalau masalah utama sistem transportasi umum di Jakarta (dan mungkin kota-kota lainnya) ada di manajemen masing-masing perusahan pengada transportasi ini.

Kekacauan pada praktik harian sistem transportasi terjadi karena pekerja (sopir dan kenek) berlomba-lomba mengejar setoran. Kejar-kejaran setoran ini memicu kejar-kejaran di jalanan dan kejar-kejaran penumpang. Perilaku oknum sopir dan kenek yang sembrono ini juga mempengaruhi perilaku oknum penumpang  yang akan menghalalkan segala cara demi mendapat setidaknya pijakan kaki di dalam kendaraan umum. Senggol bacok!

Andai perusahaan pengada transportasi umum ini memberikan upah yang layak untuk sopir dan kenek, sehingga tidak perlu ada “kejar setoran” dan kejar-kejaran lainnya, sehingga tidak perlu ada “senggol bacok”.

 

 

 

Jangan bilang permintaan ini terlalu “tinggi”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *