Tentang Mono No Aware

Saya tiba di Bandara Adi Sucipto satu jam lebih awal dari waktu boarding. Ada perasaan muram yang menggelayut; meninggalkan Jogja lebih awal daripada teman-teman yang masih menikmati weekend bernuansa Waisak. Yang terpikir saat itu adalah membeli buku atau majalah di Periplus untuk membunuh waktu. Norwegian wood jadi tameng terhadap waktu sepi nan keji sejak hari itu. Ini adalah novel Haruki Murakami pertama untuk saya.

20130714-131246.jpg

Toru, a quiet and preternaturally serious young college student in Tokyo, is devoted to Naoko, a beautiful and introspective young woman, but their mutual passion is marked by the tragic death of their best friend years before. Toru begins to adapt to campus life and the loneliness and isolation he faces there, but Naoko finds the pressures and responsibilities of life unbearable. As she retreats further into her own world, Toru finds himself reaching out to others and drawn to a fiercely independent and sexually liberated young woman.

A poignant story of one college student’s romantic coming-of-age, Norwegian Wood takes us to that distant place of a young man’s first, hopeless, and heroic love.(less)

Hampir dua bulan kemudian barulah saya menyelesaikan novel yang lebih dari sekadar percintaan antara Toru, Naoko dan Midori; tentang sepi dan kehilangan, tentang pergi dan pulang, tentang ingin mengerti dan ingin dimengerti. Dan ada perasaan muram yang menggelayut selama saya membaca novel ini.

Edo menjelaskan dalam sebuah obrolan tentang mono no aware dalam budaya Jepang yang terlihat diantaranya dalam buku-buku dan film-film Jepang. Ada sesuatu yang menggerakkan perasaan saya saat membaca kalimat demi kalimat dalam Norwegian Wood yang membuat saya merasa mengerti bagaimana rasanya menjadi Toru, Naoko dan Midori secara bergantian dan sekaligus; menikmati keindahan deskripsi eksternal dan setiap rasa yang dialami masing-masing tokoh; membuat saya berempati kepada tiap-tiap tokoh walaupun hanya sementara. Mungkin inilah makna mono no aware dalam Norwegian Wood untuk saya.

And I now find it a little hard to move on from Toru’s love life.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *