Napak Tilas Maling Jemuran

Jemuran bukan sekedar jemuran.  Ia adalah instalasi artistik & pernyataan gamblang seseorang mengenai selera, gender, usia, kelas sosial, budaya & etnisitas, dan beragam identitas lain yang tak terhingga jumlahnya.

Kalimat ini membawa perkenalan saya pada sesosok seniman bernama Aiko Urfia Rakhmi. Saat itu, awal tahun 2012, dia sedang menggelar pameran instalasi & fotografi berjudul Maling Jemuran (Part 2) di Galeri Foto Jurnalistik Antara.

Saya, yang saat itu tengah getol berlagak jadi citizen journalist, berniat mengangkat topik pameran tersebut di blog Kompasiana. Jadilah saya datang ke sana pada suatu sore.

Kebetulan galeri cukup lengang dan Aiko sedang berjaga di sana. Saya menyempatkan ngobrol dengan mbak yang-selalu-dituduh-keturunan-Jepang-karena-namanya itu. Obrolan mengalir dari behind the scene pameran tersebut sampai ke topik yang-selalu-sukses-membuat-saya-berhenti-sejenak-dari-segala-rutinitas : passion. Passionnya pada seni membuatnya berani keluar dari zona nyaman bernama pekerjaan tetap dan “mencicil” mimpi. Dari sana kekaguman saya bermula.

Pertemuan berikutnya terjadi tak sengaja saat saya datang ke perpustakaan The Japan Foundation. Dari obrolan pada hari itu saya jadi tahu kalau Aiko tengah mengajukan permohonan beasiswa untuk meneruskan studinya ke Jepang. Yang saya tau saat itu, studi ke Jepang itu semacam “pursuit of happiness” untuknya.

Update berikutnya saya dapat di jejaring Facebook. Dia tengah packing untuk berangkat ke Jepang.

Lama berselang saya tidak mendengar membaca kabarnya. Sampai beberapa hari lalu, tau-tau saya membaca update lampau dari Aiko tentang pameran instalasi & fotografi berjudul Start Over? yang digelar di Jepang secara paralel dengan penyelenggaraan Jakarta Biennale 2011.

Dan saya.. setengah senang, setengah iri. Senang karena dia benar-benar mengerjakan omongannya tentang mimpi dan passion. Iri karena dia benar-benar mengerjakan omongannya tentang mimpi dan passion.

Saya, Aiko, kamu.. pasti punya mimpi yang ingin diwujudkan. Buat Aiko :

Mimpi itu harus dikejar.. mati-matian. Akan ada banyak orang yang gak percaya pada mimpi-mimpi lo, tapi pasti ada beberapa orang yang selalu di belakang lo.. you just gotta  stick with them.

Saya yakin kamu juga setuju dengan pernyataan itu.

Buat saya, mimpi itu punya tempat semacam ini :

Pertanyaannya : sudahkah kita mulai mencicil mimpi itu?

 

Saat ini Aiko sedang mempersiapkan project berikutnya Journey To My Childhood. Kamu bisa ikuti progress project tersebut di blog-nya. Ganbatte, Aiko-chan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *