Oksimoron

Sudah satu setengah jam saya duduk di kursi terujung coffee bar ini. Hanya membaca-baca blog post teman-teman, sembari sesekali menyesap hot cappuccino pesanan. Padahal sebenarnya membaca blog bisa dilakukan di atas kasur sambil kemulan dengan bantal dan guling. Saya hanya ingin berada di tempat asing, di tengah orang-orang yang tidak saya kenal, mungkin.

Sayup-sayup obrolan pengunjung kedai kopi, sayup-sayup obrolan para staff ditengah kecekatan mereka menyajikan makanan dan minuman, denting peralatan di dapur dan cangkir saji, senandung musik dan lirik dari speaker yang tergantung di langit-langit… semua menjadi background sound dari suara-suara di kepala.

Suara-suara yang mengingatkan saya kalau sudah enam hari berlalu sejak perang petasan berlangsung di langit tengah malam Jakarta. Suara-suara yang mengingatkan saya akan hutang membaca dan hutang menulis di bulan ini. Saya (kepalang) berkomitmen untuk menyelesaikan membaca buku Delivering Happiness karya Tony Hsieh yg diberikan pihak manajemen kantor secara cuma-cuma kepada pegawai yang bersedia membaca. Saya juga (kepalang) berkomitmen untuk mengontribusikan 1-3 cerita pendek dengan belasan orang yang aktif dan yang tidak aktif di Gerakan Membaca Sastra Indonesia (GIMS) untuk sebuah buku antologi cerita pendek.

Bahkan, pada hutang menulis, saya telah diberi kelonggaran, dari tenggat minggu kedua ke tenggat akhir bulan. Tiap hari saya membuka notes tempat saya drafting tulisan. Pada hari-hari tertentu saya dapat menambah beberapa kata atau kalimat di dalamnya. Pada hari-hari lain saya hanya membaca ulang dan merapikan tulisan. Pada kebanyakan hari, seperti hari ini, saya malah membaca-baca blog post teman-teman tak tentu arah.

Kemudian melarikan diri… dari diri sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles