Dari Lombok Sampai Rote (2)

Setelah sukses terombang-ambing di Laut Flores selama empat hari tiga malam tanpa mengalami mabuk laut, saya dan dua travelmates berlabuh lalu meneruskan trip overland Pulau Flores.

 

Berlabuh di Labuan Bajo

Saat kami merapat ke darat, hujan mengguyur Labuan Bajo sampai malam. Tidak sulit mencari penginapan di Labuan Bajo, cukup keluar dari pelabuhan dan susuri Jl. Soekarno Hatta. Banyak penginapan, tempat makan dan tour organizer berserakan di jalan itu. Kami mengambil kamar di Hotel (dan Restoran) Matahari yang menghadap ke arah laut. Selain tempat menginap dan tempat makan, hotel ini juga menyediakan layanan cuci kiloan. Jadilah saya dan travelmates memanfaatkan layanan ini untuk membersikan pakaian basah dan bekas pakai selama empat hari sebelumnya.

Kami menggunakan waktu lengang untuk regroup dan menentukan ke mana kaki kami akan melangkah di pulau ini. Salah satu destinasi yang ingin kami kunjungi selama overland adalah desa adat Wae Rebo. Namun, karena keterbatasan tenaga, waktu, dan dana, kami sepakat untuk merelakan Wae Rebo keluar dari itinerary kami. Sehingga yang tersisa dari itinerary awal adalah Ruteng, Bajawa, Moni (dan Kelimutu), dan Ende.

Malam itu kami menyempatkan makan layak di restoran Tree Top yang menyajikan seafood. Salah satu menu yang kami pesan dan kami nobatkan menjadi juara adalah teri pedas. Iya, teri pedas seperti pada umumnya. Mungkin teri pedas ini menjadi istimewa setelah empat hari sebelumnya kami makan ala kadarnya.

Hari kedua di Labuan Bajo kami diberkahi sinar matahari yang melimpah. Cuaca sangat mendukung…. untuk mengeringkan cucian kami, dan mengeksplorasi kota pelabuhan ini. Area Labuan Bajo sendiri terbilang kecil, dengan satu trayek angkot (yand di sini disebut bemo) pergi-pulang. Tidak banyak yang bisa dilihat atau dilakukan di sini; maklum Labuan Bajo adalah wilayah transit untuk mereka yang ingin mengeksplorasi Flores baik darat maupun laut. Salah satu tourist attraction di sini adalah Gua Batu Cermin yang dapat dijelajahi dalam 1-2 jam saja. Beberapa area dinding di dalam gua terlihat berkilauan karena kandungan mineral yang mengristal.

Setelah melihat beberapa opsi penyelenggara tour overland di sepanjang Jl. Soekarno Hatta, kami akhirnya sepakat menggunakan jasa Christian Adventure Tour untuk perjalanan 3 hari 2 malam menelusuri Pulau Flores sampai Ende. Jasa tour sudah mencakup biaya bensin Avanza dan sopir. Perjalanan akan dimulai pagi esok harinya. Di waktu yang tersisa di Labuan Bajo, kami sempat menyusuri jalan-jalan kecil di sana, menikmati bakso Malang Pak Sardi (yang asli Bojonegoro), menikmati rembang senja dari Restoran Matahari, makan malam di pusat jajanan, dan menyaksikan rangkaian keriaan MTQ yang berlangsung hari itu.

 

Overland Flores

Perjalanan overland Flores dari Labuan Bajo sampai Ende akan ditempuh dalam 3 hari 2 malam. Beruntung kami mendapatkan jasa sopir Bang Marcel (atau Marsel) yang mengantarkan kami menggunakan mobil Avanza ke tempat-tempat wisata yang kami sepakati dengan pihak penyelenggara tour dengan nyaman.

Perhentian pertama trip overland ini adalah Desa Melo di Manggarai Barat. Sebuah area dengan rumah tradisional di tengahnya berfungsi sebagai ruang penerimaan tamu (baca: turis) sekaligus menjadi taman baca dan viewing point. Di sana kami disambut Papa dan Mama yang tengah menjamu sekeluarga turis asing. Kami dipersilakan mengambil posisi di atas bantal duduk yang dibungkus anyaman daun pandan, lalu Papa menyalami kami satu per satu sambil mengucapkan kalimat sambutan selamat datang. Tak lama, Mama mengyuguhi kami dengan kopi buah panen kebun di desa itu.

Menyenangkan sekali rasanya bersantai sejenak di rumah itu.

Setelah berpamitan dengan Papa dan Mama, kami melanjutkan perjalanan ke Ruteng. Sepanjang perjalanan di Pulau Flores, saya pikir Ruteng adalah tanah yang paling subur; dengan hamparan sawah yang menghasilakan panen yang baik dan mata air (kami memang tidak menjelajahi mata air di sana, tapi air minum dalam kemasan bermerek Ruteng yang kami beli sepanjang perjalanan kami di sana cukup menjelaskan).

Yang paling terkenal dari Ruteng mungkin sehamparan sawah  berbentuk jaring laba-laba. Untuk melihat bentuknya dengan jelas, kami perlu mendaki bukit sejauh beberapa puluh meter. Perjalanan kami ke atas bukit ditemani Vera (atau Fera) yang kemudian saya titipkan sebuah buku cerita, sebagai bagian dari gerakan #1Traveler1Book.

Di atas bukit kami bertemu dengan 2 anak lainnya, yang sedang beristirahat sejenak dalam perjalanan pulang setelah mengambil kayu bakar di sisi lain desa. Beristirahat sejenak di atas bukit sambil menikmati pemandangan sawah dengan bentuk unik mungkin jadi pengalaman yang biasa saja untuk mereka, tapi tidak untuk kami yang biasa menikmati (?) pemandangan kemacetan.

Dari Ruteng kami menempuh perjalanan cukup panjang untuk mencapai Bajawa. Kami tiba di Bajawa saat malam, dan mengalami sedikit kesulitan mencari hotel yang masih menyediakan kamar, padahal jumlah hotel di sana tidak sedikit.

Jadwal kami di hari kedua trip overland Flores cukup padat, menjangkau beberapa tempat wisata sekaligus dalam perjalanan menuju Desa Moni di kaki Gunung Kelimutu di malam harinya. Desa Bena (atau juga disebut Kampung Bena) di Kabupaten Ngada menjadi salah satu destinasi yang menawan; memperlihatkan secuil keseharian orang-orang Bajawa. Desa yang terbentuk dari 45 rumah ini menghasilkan di antaranya kain songket, kerajinan anyaman daun pandan, biji vanila, kemiri dan kayu manis. Di sana kami sempat ngobrol dengan seorang Mama yang di usia lanjut masih tetap produktif menghasilkan kain songket. Proses produksi kain songket berukuran besar (standar kain sarung) bisa memakan waktu satu bulan. Dalam perjalanan ke Desa Bena, kami menyaksikan cantiknya Gunung Inerie di kejauhan.

Untuk masuk ke Desa Moni, kami melewati Kota Ende terlebih dahulu. Jalan utama yang kami lewati (dari Labuan Bajo) sampai Ende melewati beberapa titik kemacetan. Tapi bukan karena padatnya kendaraan, melainkan karena kendaraan harus bersabar mengantri truk-truk yang datang dan pergi mengangkut bebatuan yang dikeruk dari dinding bukit di salah satu sisi jalan.

 

BONUS

  • Selama perjalanan 11 hari ini, makan layak jadi sebuah “kemewahan” buat kami, sisanya… ya makan supaya gak lapar aja. Hampir tidak ada makanan khas, kecuali cabe yang semakin ke timur semakin pedas.
  • Jangan bayangkan hotel-hotel yang kami tempati seperti hotel-hotel berbintang sekian yang selama ini kamu tau. Hotel-hotel di sana tersedia dengan fasilitas seadanya, dengan harga yang terbilang tidak murah.

On (Puppy) Love

Dear you,

I supposed you have already felt what is called as a puppy love. He’s a nice smart boy, right? ;)

Spoiler alert: By now, he becomes a resident doctor at a local hospital. He’s in a relationship, but not with you. And you’re cool with that, because, by now, you have got over him long time ago. Because he’s just your another puppy love.

You will find yourself fall for more boys, and later more men. And at times you may think that you are prone to fall for the wrong guys. Don’t be bitter. They were and are never wrong guys. And it’s never wrong places nor wrong times. And at times you may think that you have enough of falling in love. Don’t be bitter. You will realize that being in love makes you a brighter person.

In times you will meet this significant guy and you thought “I want to grow old with him.” That’s okay, you could always grow old with him as friends, because friendship grows with love too.

I don’t have all the wisdom on love, but I know these things are true — at least for you and for me.

With love,

Me

 

 

 

Tulisan juga dipublish di kolom Women of Letters untuk UWRF 2014.

Dari Lombok Sampai Rote

kalender mei 2014

Gak ada bulan yang lebih ajaib di tahun 2014 selain Mei, sepertinya. Bulan penuh berkah buat pekerja kantoran dengan jatah cuti tahunan terbatas seperti saya. Bermodal cuti lima hari, saya dan dua orang travelmates pergi menjelajah Flores dan sekitarnya, dari Pulau Lombok sampai Pulau Rote, selama sebelas hari. Begini ceritanya…

 

ALL ABOARD!

Kamis pagi kami berangkat dari Jakarta ke Lombok. Sempat mencicip pedasnya nasi balap puyung di depan Bandara Lombok Praya. Lanjut ke headquarters Kencana Adventure Tours di Senggigi untuk mendaftar ulang paket. Perjalanan live on boat (LOB) selama 4 hari 3 malam kami mulai dari Labuan Lombok. Kapal berukuran kurang lebih 20 meter x 4 meter itu memuat 24 orang (4 di antaranya adalah traveler asing) dan 6 kru kapal. Fasilitas di atas kapal yang sudah termasuk dalam paket tur: life jacket, snorkeling gear, matras, bantal dan selimut, makan 3 kali sehari, kopi dan teh sepuasnya, air mineral 5 botol 1,5 liter per orang.

Matahari sudah tinggi saat kami mulai mengarungi lautan. Pemberhentian pertama kami (menurut itinerary tur) adalah menikmati sunset dan kawanan kelelawar di Gili Bola. Tapi, seharian itu saya lebih banyak menghabiskan waktu di atas matras, memulihkan kondisi tubuh yang mulai dikhianati usia. Menurut travelmates, sepertinya kami memang tidak berhenti di Gili Bola petang itu.

Pagi di hari kedua, kapal merapat ke Pulau Moyo untuk trekking ke air terjun. Sebenarnya spot ini juga cocok untuk snorkeling, tapi sepertinya para peserta LOB ini belum bersiap sedia untuk nyemplung. Kami lebih banyak menghabiskan waktu di air terjun, setidaknya untuk sekadar berbilas setelah sehari kemarin kami lalui tanpa bertemu air tawar. Saya sendiri bukan penggemar olahraga air karena tidak belum bisa berenang sehingga tidak nyaman berlama-lama di dalam air. Dari Pulau Moyo kapal bertolak ke Pulau Satonda, tempat yang lebih nyaman untuk snorkeling. Di tengah pulau Satonda terdapat danau air asin dengan pemandangan hijau-hijau — hijau lumut di tepian danau dan hijau pepohonan yang mengelilinginya. Menurut percakapan yang beredar, pulau ini dikelola pihak swasta, dengan fasilitas kantin dan kamar mandi umum (dengan air tawar). Untuk masuk ke pulau ini, kami dikenai biaya tambahan Rp 20.000 per orang, di luar biaya paket LOB.

Hari itu kapal menepi di masing-masing pulau dalam waktu yang terbatas, sekitar satu setengah sampai dua jam di tiap-tiap pulau, selebihnya kapal mengangkat jangkar. Sore itu kapal berangkat menuju Gili Laba yang memakan waktu tempuh 18 jam. Kebanyakan peserta LOB, selesai makan malam langsung makan obat anti mabuk supaya dapat tidur nyenyak malam itu.

Gili Laba (atau juga disebut Gili Lawa) adalah “pintu gerbang” memasuki Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Atraksi utama di Pulau Gili Laba adalah trekking ke puncak bukit untuk menyaksikan pemandangan kepulauan di sekitarnya secara 360 derajat. Kedua travelmates tiba di puncak dan menyaksikannya. Sementara saya merasa cukup (kelelahan) dan berhenti di dua per tiga perjalanan.

Dari Gili Laba kapal bertolak ke Pink Beach (atau juga disebut Pantai Merah) di Pulau Komodo. Pasir putih bertemu serpihan koral merah menjadikan pantainya terlihat kemerahan. Di sini kapal tidak boleh merapat ke pantai, sehingga peserta LOB bisa langsung nyemplung ke laut lalu berenang-renang ke tepian. Atau, untuk yang tidak sanggup berenang sejauh itu, bisa nego perahu-perahu kecil (yang sebenarnya berjualan cinderamata) ntuk mengantarkan ke pantai.

Dari Pink Beach kami pindah ke sisi lain Pulau Komodo, tepatnya ke Loh Liang, pintu masuk ke Taman Nasional Komodo. Rombongan kami cukup beruntung karena dapat mengiringi (iya, mengiringi!) seekor komodo berukuran cukup besar berjalan kaki selama beberapa puluh meter. Komodo itu tiba-tiba hadir saat ranger sedang yang menemani kami sedang menjelaskan tentang taman nasional dan tata krama di dalamnya. Rombongan terbagi dua; pertama mengiringi dari depan, yang kedua mengiringi dari belakang komodo.

Perjalanan hari ketiga berakhir dengan melepas jangkar dan bermalam di dekat Pulau Kalong. Malam itu kami menikmati langit gelap bertabur bintang (yang kata seorang teman, seperti wijen pada kue onde-onde, saking banyaknya). Sayang kami tidak “kebagian” seekor kalong pun. Saya dan beberapa peserta tur juga sempat menjajal permainan dadu “kanabul” yang diajarkan kakak beradik dari New Zealand. Sementara beberapa perserta tur lainnya sibuk berdebat akan nasib seekor ikan yang berhasil dipancing salah satu awak kapal.

Hari keempat dimulai dengan berlabuh di Loh Buaya, pintu masuk Pulau Rinca. Pulau Rinca memiliki populasi komodo yang lebih sedikit dibanding Pulau Komodo, tetapi dengan luas area yang lebih kecil penyebaran komodo di pulau ini jelas lebih padat. Terbukti nyata saat kami memulai trekking di pulau ini ditemain ranger setempat. Lebih banyak komodo yang kami amati dari dekat di pulau ini. Kondisi alam Pulau Rinca juga lebih menantang dibanding Pulau Komodo, dengan luas area trekking terbagi menjadi tiga level: short, medium dan long. Kami menempuh jalur trekking medium, demi mengejar jadwal. Trek medium ini memiliki bukit yang fotogenik sekaligus menjadi viewing point.

Dari Pulau Rinca kapal lanjut ke Pulau Kelor, tempat untuk sekali lagi snorkeling. Sayang (atau syukur?) dalam perjalanan hujan turun cukup deras. Saya sih mensyukuri air hujan yang bisa dimanfaatkan untuk berbilas, setelah sekian lama di laut hanya ketemu air asin. Hanya sayangnya pemangan menuju dan di Pulau Kelor jadi agak kelabu.

Pulau Kelor jadi pemberhentian terakhir sebelum kami mengakhiri perjalanan 4 hari 3 malam di lautan dan menepi di Labuan Bajo. Sebenarnya paket yang ditawarkan adalah 4 hari 4 malam, yang mengizinkan peserta menginap semalam lagi di atas kapal yang menepi di pemberhentian terakhir di Labuan Bajo. Hampir semua peserta LOB, kecuali 2 orang kakak beradik dari New Zealand itu, turun kapal dan meneruskan perjalanan masing-masing dengan biaya akomodasi masing-masing.

Dari sini perjalanan saya dan travelmates akan berganti dari lautan ke pegunungan.

Simak kelanjutan cerita saya di sini ya.. [BERSAMBUNG]

 

 

 

BONUS

  • Paket LOB Kencana Adventure Tours hanya berangkat tiap Senin dan Kamis. Jadi pastikan tiket pesawat ke Lombok yang kamu booking sesuai dengan itinerary tour.

Antara Surabaya dan Taman Nasional Baluran

Simak sekilas cerita road trip saya dan Sessi ke Taman Nasional Baluran dalam video ini:

 

Road trip kami mulai pagi hari dari perbatasan Sidoarjo-Surabaya, tempat kami bermalam di rumah teman Sessi.  Bermodal googling pada H-1, kami menyewa mobil dan sopir dari Okka Rent Car Transport untuk perjalanan hari itu. Untuk mencapai Taman Nasional Baluran, kami melewati Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo, Besuki dan Situbondo.

Buat saya, perjalanan menuju Taman Nasional Baluran justru lebih menarik daripada taman nasional itu sendiri. Di antaranya, kami melewati wisata lumpur Sidoarjo… (luar biasa, dari bencana jadi wisata!)

sub-sidoarjo

negeri lima menara PLTU Paiton di Probolinggo… (yang terlihat cantik di siang hari dan megah di malam hari)

sub-probolinggo

dan laut di tepi jalan raya sepanjang jalur Situbondo (yang bikin saya berasa lagi jalan di Miami beach dong!).

sub-situbondo

Taman Nasional Baluran sendiri jadi terkesan biasa saja dibanding hal-hal yang saya lihat dalam perjalanan ke sana. Mungkin karena saya terlalu sering membaca atau melihat tentang taman nasional itu, sehingga saat melihatnya langsung di depan mata, tidak ada efek kejutan. Lain halnya dengan ketiga pemandangan di foto-foto di atas, yang tidak saya sangka-sangka sebelumnya. (Kalau meminjam istilah teman saya yang lain, mungkin ini yang dia sebut sebagai random trip.)

Geladi Resik

Berkali-kali aku memutar adegan ini di kepala.

Pada suatu hari yang tidak diduga-duga, kita akan bertemu kembali, di tempat yang asing untuk kita berdua. Darahku akan segera mendidih. Lalu aku akan menghampirimu dengan tangan mengepal erat, sampai kuku jemari meninggalkan jejak di telapak. Rahangku terkatup rapat, menahan diri dari mengeluarkan kata-kata setajam belati. Lalu, saat kamu lengah, aku akan melesatkan kepalan tanganku ke arah hidungmu. Cukup untuk melontarkanmu ke belakang. Cukup untuk membuat nyeri di buku-buku jemariku. Cukup untuk mengobati sakit hatiku.

Kemudian hari itu tiba.

Kamu malah menyapaku, “Apa kabar?” Dan aku membalasmu dengan senyum, “Aku sudah sembuh. Kamu?”

Cintailah Produk-produk Indo…

Beberapa waktu yang lalu Ibu di perusahaan tempat saya bekerja “menantang” beberapa pekerja perempuan untuk menggantikan dia mengisi program Indie Mom di U-FM Jakarta. Our mission, should we accept it, is to share anything digital and social media marketing-relevant to mom-preneur to support their small-medium business. Saya dan Stefani lantas menjawab tantangan tersebut.

Di program itu kami bertemu perempuan-perempuan jagoan — jago membelah diri antara keluarga dan bisnis yang mereka geluti — dan cerita-cerita menarik dari perjalanan berbisnis mereka. Banyak di antara mereka yang menawarkan produk-produk handmade – dari selai dan kue sampai aksesoris, tas dan sepatu; dan baru di episode hari ini kami berbagi cerita dengan mom-preneur yang menawarkan jasa wedding organizer.

Khususnya dari cerita bisnis produk, saya mendapati perspektif baru. Dulu saya bertanya mengapa produk lokal mahal. Sekarang, setelah mendengar cerita “perjuangan” di balik setoples selai, seuntai kalung atau sepasang sepatu, pertanyaan tersebut terjawab dengan sedirinya. Banyak proses yang terjadi di balik sebuah produk handmade lokal, mulai dari ide kreatif, riset, trial-error, menentukan standar kualitas, rekrutmen dan training karyawan, produksi, sales, distribusi, after-sales, sampai promosi dan detil-detil lainnya. Maka harga yang terkesan “mahal” itu jadi terasa “sudah selayaknya begitu”.

Usaha kecil menengah (UKM) ini mau tidak mau harus berhadapan dengan merek-merek (banyak di antaranya impor) yang sudah mapan. Konsumen dihadapkan pada pilihan: A) membeli produk bermerek dengan iklan yang tersebar di berbagai media dan outlet yang tersebar di berbagai mal, atau B) membeli produk merek lokal yang baru merintis, yang masih mengandalkan social media sebagai media dan rumah-merangkap-outlet yang berada di pinggir kota. Agak ekstrim ya? Tapi begitulah.

Seorang teman baru-baru ini bercerita kalau dia sempat ingin membeli sebuah tas kulit domba dari sebuah merek lokal. Namun kemudian dia mengurungkan niatnya karena komunikasi yang dilakukan dengan pemegang merek tersebut via social media tidak berlangsung dengan baik. Menurut teman saya, si pemegang merek terkesan tidak bersahabat saat menanggapi pertanyaan-pertanyaannya. Singkat cerita, akhirnya teman saya ini memutuskan membeli tas bermerek — dengan penggunaan bahan kulit domba yang tidak seberapa — karena kemudahan berupa pelayanan yang ramah.

Amat disayangkan. Untuk teman saya dan si pemegang merek. Kalau saja teman saya itu memberi “kesempatan kedua” kepada pemegang merek ini, mungkin dia bisa merasakan empati yang saya rasakan terhadap usaha kecil menengah ini. Kalau saja si pemegang merek berkomunikasi lebih baik, mungkin mereka sudah punya setidaknya satu lagi pelanggan yang puas.

Kalau saja mencintai itu mudah. (Nah loh, kok jadi bahas cinta?) Ya karena memang begitu.

Kita sebagai konsumen perlu memberi peluang untuk bisa mencintai produk-produk karya pengusaha lokal, sementara para pengusaha perlu memberi peluang agar produk dan jasa mereka (termasuk consumer servicing) bisa dicintai.

Semua itu memang butuh waktu.

Beh..

dad

Kemarin posting gambar ini di Path, sambil cerita kalau saya, di usia 29 tahun plus-plus ini yang sudah banyak ini, agak risih sama perhatian kecil-kecil tapi berlebihan dari bapak saya. Sekadar tanya-tanya via SMS apakah sudah sampai di kost, atau apakah sudah makan, bahkan menemani sampai saya dapat kendaraan umum untuk melanjutkan perjalanan. Buat saya itu kecil-kecil tapi berlebihan.

Tapi saya mengamini kutipan di gambar ini: mungkin hanya bapak lah satu-satunya lelaki yang memberikan perhatian tanpa perlu saya minta. Sementara itu para lelaki lain.. biar saya atraksi jumpalitan pun gak akan berpengaruh apa-apa selama saya gak pernah mengisi ruang pikiran atau hatinya. (Cie.. Bawa-bawa hati.)

Teman-teman saya lantas berbagi cerita tentang bapak masing-masing. Umumnya para bapak sering menanyakan keberadaan anaknya — baik perempuan maupun lelaki; ada yang melarang anak lelakinya berkendara motor karena takut jatuh; ada yang ngambek kalau anak lelakinya tidak mengabari kalau akan lembur; ada yang menahan kantuk menunggu anak perempuannya pulang; ada yang bela-belain izin setengah hari dari kantornya demi menjemput anak perempuan yang menginap di Puncak dalam rangka perpisahan sekolah. Ada-ada saja para bapak ini!

(Ada juga teman-teman yang tidak bisa relate dengan gambar di posting itu — atau topik father-daughter secara umum, for their own personal reasons.)

Lalu, ada teman yang datang dengan komentar berbeda, katanya: Seakan-akan kalian gak pernah sakit hati sama bokap. Masa sih?

Tentu bapak saya tidak sempurna; ada perkataan atau perbuatannya yang bikin saya “elus dada”. Tapi saya justru lebih ingat beberapa kejadian di mana saya lah yang membuat dia sakit hati. (He cried. That explains.) Bahkan dengan kejadian-kejadian itu pun bapak masih memberikan perhatian kecil-kecil tapi berlebihan tadi.

Mumpung masih di hari peringatan perjuangan emansipasi perempuan, saya menyukuri keberadaan bapak saya “di belakang layar” yang mendukung saya menjadi perempuan berdaya.

A Friendly Notice

Saya ingin menggugat siapapun yang berencana resign untuk mempersiapkan rekan-rekannya jauh-jauh hari.
Kalau HRD mensyaratkan one month notice, rekan-rekannya punya hak yang sama untuk mengetahui keputusan resign lebih awal.
Kita umumnya menghabiskan lebih banyak waktu dalam sehari dengan rekan kerja, daripada dengan sahabat dan keluarga sendiri. Dan hubungan yang terjalin bukan hanya profesional, tetapi juga personal (by saying personal, I mean a good personal relationship). Setidaknya di perusahaan tempat saya bekerja begitu. Maka wajar saat seorang rekan resign, ada rongga tak kasat mata yang menganga — minimal secara fungsional, dan apalagi personal.
Hampir empat tahun menjalin hubungan profesional-personal di kantor ini, sudah beberapa kali saya “ditinggal wisuda” — yang meninggalkan rongga fungsional saja, maupun rongga kombo fungsional-personal.
Bedanya, rongga fugsional jadi urusan manajemen, sementara rongga personal jadi urusan pribadi tiap-tiap orang. Dan ini bukan perkara mudah.
(Minimal) sembilan jam sehari, lima hari seminggu, orang ini di bersama kita; bertemu muka, ngopi bareng, ngobrol ini-itu, berbagi cerita, dan hal-hal lain yang membuat kita dekat.
Tiba-tiba.. now you see him/her, now you don’t.

Don’t get me wrong.
Keputusan untuk resign adalah hak penuh siapapun yang merencanakannya. Dan resign bukan perpisahan permanen. (Toh masih bisa ketemu lagi!)
Tapi..

Gak ada tapi.
Saya cuma lagi terlanjur emosional saja karena baru ditinggal wisuda berondong kesayangan :)

Bullshit Level Saya

“#BullshitLVL : aku mau kok memulainya bersama dari nol. (Ini @twiras)”

Begitu bunyi tweet seorang teman.

Ceritanya saya, teman yang ngetuit ini, dan seorang teman yang terlalu suka kopi dalam perjalanan kembali ke kantor setelah mengikuti keriaan bareng penggiat social media lainnya.

Terjadilah obrolan, mulai dari nanya-nanya sembari colongan curhat lalu berujung pada berbalas komentar. Kemudian tercetuslah kalimat itu dari mulut saya. Yang lantas disambut tawa mencemooh dari kedua teman saya itu.

Apa yang salah dengan kalimat itu? pikir saya.

I was just defining romantic. Setidaknya itu gambaran romantis di kepala saya sampai saat ini: memulai segalanya bersama-sama dari nol (mungkin bukan dalam konteks finansial, tapi dalam konteks garis awal).

Memulai hari, perjalanan, usaha, mimpi, cerita.. apapun bersama-sama, tidak mendahului atau didahului; bersama pasangan yang setara — tidak kelebihan atau kekurangan. Merasa lelah bareng, dan bahagia bareng.

Saya memang belum mengalami yang namanya “memulai bersama dari nol” dengan siapapun. But admit it, the idea sounds like a good movie or song, right?

Atau jangan-jangan ide bagus seperti itu memang hanya terjadi di film atau lagu?

Atau jangan-jangan ide bagus seperti itu memang hanya bullshit?

Lelaki dari Kota Tua

Sudah 15 menit aku di halte ini, belum kelihatan tanda-tanda datangnya bus ke Kota Tua.

Lelaki di sampingku terlihat tenang, seperti sudah biasa dibuat menunggu seperti ini. Sudah tiga batang rokok habis dibakarnya bahkan sebelum aku datang. Setidaknya itu yang terlihat dari bekas puntung di dekat kakinya.

Seorang perempuan tua mendekatinya.

“Nak, bus ke Kota Baru sudah lewat?”

Dia menoleh ke arah perempuan itu. Detik demi detik berlalu tanpa lelaki itu memberi jawaban. Seperti tidak mendengar suara perempuan itu, atau tidak mengerti kalimatnya.

“Maaf, bus ke Kota Baru berangkat dari halte seberang,” suaraku memecah keheningan. Perempuan itu lantas menyeberang jalan, meninggalkan kami berdua di halte ini.

Rokok di tangannya sudah habis. Puntung keempat jatuh ke tanah. Tangannya segera merogoh kantong jaket, meraih bungkus rokok dan korek api, membakar batang kelima.

“Menunggu bus ke Kota Tua juga?” suaranya mengagetkanku. Dia terdengar lebih dewasa daripada dia terlihat.

“Eh.. Iya. Selalu lama seperti ini ya?”

“Orang-orang sudah jarang ke Kota Tua. Makanya bus ke sana juga sedikit.” Dia melirik jam tangannya. “Paling cepat setengah jam lagi. Tadi pas saya ke sini bus sebelumnya baru saja berangkat.”

“Oh gitu..”

“Saya Devan,” katanya tanpa menjulurkan tangan untuk bersalaman. Juga tanpa kesan menunggu balasanku menyebutkan nama.

Dari situ Devan mulai tenggelam dalam ceritanya. Dia berasal dari Kota Tua. Kemudian delapan tahun yang lalu dia dan keluarganya pindah ke kota ini, memulai hidup baru. Setahun terakhir ini dia rutin berkunjung ke Kota Tua. “Menikmati yang tersisa di sana,” katanya.

“Ada apa di sana?” tanyaku.

“Kuburan. Ada banyak kuburan di sana. Banyak yang bentuknya menarik, tapi ada satu kuburan yang istimewa. Letaknya di ujung Kuburan Utama, di dekat pohon-pohon bambu.”

“Ohya? Apa istimewanya?”

“Ada namaku di batu nisannya.”

Jantungku terasa berhenti berdetak. Insting pertamaku adalah melihat apakah kakinya menjejak tanah. Kuperhatikan baik-baik, kedua kakinya, beralas sepatu kanvas warna putih pudar, benar-benar menjejak tanah. Kaki kanannya kini menggerus puntung rokok kelima.

Sambil mengatur nafas, menetralkan detak jantungku yang tak beraturan, kuangkat pandanganku ke wajahnya.

“Kok bisa?”

“Itu juga pertanyaanku. Kok bisa?”

Tangannya baru saja mengarah kembali ke kantung jaketnya, sebelum tiba-tiba..

“Hey, itu bus kita,” tangannya batal masuk ke kantung jaket, malah menunjuk ke arah bus yang sudah mengerem di depan kami. Deru mesin tua memenuhi ruang dengarku.

“Ayo..” Dia berdiri menghampiri pintu bus.

“Ka-kamu duluan saja.. Saya menunggu teman..”

“Ohya?”

“Iya..”

“Senang berbicara denganmu,” wajahnya membentuk lekuk senyum yang manis dengan lesung di pipi kirinya.

Bus tua menuju Kota Tua melanjutkan perjalanannya dari halte ini. Meninggalkan dengus abu-abu pekat.

Aku melangkah menyeberang jalan, menuju halte tempat perempuan tua tadi menunggu bus ke Kota Baru.

“Nama saya Devina. Senang berbicara denganmu juga,” kubisikan kalimat itu ke langit lembayung.

Sore itu adalah terakhir kalinya aku melihat sosok lelaki itu. Bukan dari seberang halte seperti biasanya, tapi dari halte yang sama.