Tentang Board Game

Malam ini sekali lagi saya ikut bertualang bersama beberapa teman dalam dunia imajinasi. Kami sudah beberapa kali menggelar board game night, program ekstra kurikuler tidak resmi yang mengambil waktu Jumat malam selepas jam kerja.

image

Lebih dari sekadar bermain, board game mengajak berstrategi untuk mencapai tujuan perorangan maupun kolektif. Tujuan ini yang harus dinyatakan di awal, karena semua tindakan yang dilakukan satu pemain di dalamnya akan mempengaruhi pemain lainnya — kadang menguntungkan bersama, kadang merugikan salah satu pihak.

Khususnya pada board game baru, ada brief dari ‘juru kunci’ tentang journey permainan dalam gambaran besar. Selanjutnya… jalanin aja dulu, toh di tengah perjalanan kami selalu bisa bertanya pada juru kunci tentang kondisi-kondisi tertentu yang dihadapi. Atau jika juru kunci tidak memahami, kami bisa beralih pada buku manual. Dan kalau buku manual gagal dipahami pun, kami selalu bisa berimprovisasi dan membuat house rules.

Turut bermain dalam papan yang sama selama beberapa kali pun tidak menjadikan tiap pemainnya — bahkan si juru kunci — ahli dalam permainan. Pemain yang terlihat menguasai area pun bisa satu dua kali terpeleset dalam langkahnya. Gak ada yang terlalu profesional atau terlalu amatir di sana.

It’s all fair in life and board game.

#WriteEveryDamnDay

Tentang Menangis

image

It is alright to cry, crying is a natural response to pain. -Baymax

Saya suka tengsin kalau ketauan diam-diam nangis. Kayanya nangis itu wujud perasaan yang cukup memalukan kalau sampai kelihatan orang lain. Padahal tangis itu reaksi alami dari rasa sakit dan emosi lainnya.

Ketawa sampai nangis. Terharu sampai nangis; biasanya efek nonton film yang tiba-tiba menyelinap dan menggedor hati. Marah — terlalu marah sehingga gak ada kata hanya tangis yang bisa mewakili perasaan. Ketakutan; biasanya kalau membayangkan orang kesayangan gak lagi ada bersama. Dan sedih, kecewa, terluka.

Yang terakhir mungkin yang paling sulit ditutup-tutupi. Berusaha tersenyum, berusaha bersikap dan menggunakan kata-kata yang biasa saja, tetap rasa sakit itu terlihat. Bulir-bulir kepalang menggenang, lalu.. gravitasi turut ambil bagian.

“It’s okay, Twiras.”

#WriteEveryDamnDay

Tentang Bela Diri

image

Sore tadi di kantor berlangsung semincil alias seminar kecil — kesempatan untuk thinkers berbagi tentang apapun.  Salah satu yang mengambil giliran hari ini adalah Radit — selain berkarya sebagai strategis di kantor juga menggiati aikido sampai sabuk hitam

Radit berbagi strategi bela diri, khususnya untuk perempuan, karena perempuan masih jadi “target market” pelaku kejahatan. Sejak awal Radit mengingatkan kalau KPI atau tujuan bela diri ini adalah untuk bertahan hidup, dan untuk bertahan hidup perlu strategi. Maka strateginya mencakup menjaga diri (1. Don’t resist, 2. Maintain your balance) dan menjatuhkan lawan (3. Use atracker strength, 4. Break attacker balance).

Yang menarik adalah poin ke-3, tentang menggunakan kekuatan lawan sebagai senjata. Strategi yang sama juga pernah dibagikan pelatih kelas muay thai yang saya ikuti: jangan melawan dengan kekuatan sendiri, tapi balikkan arah kekuatan lawan ke dirinya.

Saya pikir langkah-langkah strategi ini juga berlaku pada kondisi pertikaian lainnya, gak hanya pertikaian fisik.

#WriteEveryDamnDay

Tentang Pesan Subliminal

sub·lim·i·nal
adjective
(of a stimulus or mental process) below the threshold of sensation or consciousness; perceived by or affecting someone’s mind without their being aware of it.

Hari ini di timeline social media channel yang saya ikuti tengah beredar meme dengan gambar latar pemandangam ciamik, layout quotes ala-ala Tumblr atau Pinterest, dan pilihan kosakata berikut makna subliminalnya.

image

Salah satu meme yang beredar hari ini

Saya merasa kecolongan. Kosakata “Hey :)” (iya, lengkap dengan emotikon smiley) memang secara tidak sadar sering kita saya gunakan untuk basa-basi pembuka untuk menanyakan kabar, khususnya kepada orang tertentu yang sudah lama tidak berkomunikasi. Biasanya terjadi saat ada hal yang mengingatkan kita saya kepada orang tertentu itu. Mendadak ingin berkabar. Dan tentunya penuh muatan rindu.

Hari ini pun saya mencoba board game baru, Dixit, yang menguji kemampuan pemainnya untuk membaca pesan subliminal. Tiap pemain akan mendapat giliran sebagai storyteller yang misinya menyampaikan pesan subliminal dari kartu pilihannya dengan harapan pesan tersebut dapat ditangkap pemain lainnya, tetapi cukup terselubung sehingga tidak mudah ditebak. Nah loh. Sudah mulai pusing?

image

Kartu board game Dixit, dengan muatan subliminal

Ilustrasi di masing-masing kartu penuh makna, dan cenderung dapat dipahami berbeda oleh tiap pemain. Kemampuan pemain untuk membaca kepribadian pemain lainnya dalam menyampaikan pesan tersembunyi di dalam kartu inilah yang jadi kunci kemenangan permainan.

Di antara meme dan board game tiba-tiba ada benang merah.

#WriteEveryDamnDay

Tentang Akhir Bahagia

Saya baru saja menonton Stand By Me Doraemon. Dan hampir merasa dikibuli oleh premis tear jerking.

Salah sendiri. Sudah jelas film ini untuk konsumsi anak-anak, mana mungkin dikasih sad ending. Bisa heboh dunia pengasuhan anak.

Saat Doraemon menyadari kalau misinya di masa lalu sudah selesai dan tiba saatnya kembali ke masa depan — kontras dengan Nobita yang sangat senang sehingga terbang melayang tinggi bersama awan — jadi adegan paling penting dalam film ini. Robot berbentuk kucing yang berperilaku layaknya manusia ini naik level dengan fitur tambahan self reflection. Ketika merunut ulang daftar kelemahan Nobita, tau-tau Doraemon menangis menyadari kalau waktunya bersama Nobita tinggal sedikit, lalu bertanya pada diri sendiri: kok gue jadi melankolis begini sih?

Namun adegan-adegan selanjutnya lantas merampungkan film ini dengan happy ending. Yang awalnya tidak membuat saya turut bahagia. “Kenapa gak biarin aja Doraemon kembali ke masa depan supaya Nobita belajar dewasa sendiri sih?” suara si Twiras Satu protes. Lalu Twiras Dua menjawab, “Ini bukan soal mendewasakan Nobita, ini soal nemenin Nobita tumbuh dewasa. Lo sadar kan kalo Doraemon itu satu-satunya sahabat Nobita, yang bisa nerima dia apa adanya tanpa tawar-menawar?”

And then it hits me. Akhir bahagia buat Nobita itu bukan tentang menjadi dewasa dan menikahi Shizuka, melainkan menjalani hari-hari bersama sahabatnya Doraemon.

Sekali lagi bendungan air mata saya kalah melawan film animasi. Dammit.

#WriteEveryDamnDay

Tentang Membaca Pikiran

Kalau ada satu kekuatan super yang boleh saya kuasai, saya pasti akan memilih kekuatan membaca pikiran orang lain. Tidak always on sehingga ruang dengar menjadi berisik, tetapi hanya jika saya butuhkan pada situasi atau kepada orang-orang tertentu. Bukan karena terlalu kepo sampai-sampai ingin tau detil pikiran orang lain, tetapi untuk menentukan bagaimana saya harus merespon situasi atau orang-orang tertentu tadi. Khususnya pada situasi yang membuat saya tidak nyaman.

Tapi kan saya manusia biasa. Membaca pikiran sendiri saja saya sudah kewalahan, apalagi kalau bisa membaca pikiran orang lain.

“What do you want from me? How do you want me to respond to your silence? Is it okay if I try to approach you, or is it better to leave the space between?”

#WriteEveryDamnDay

Tentang You And Me Tour

image

Malam ini saya turut senang SENANG bisa ambil bagian dalam You & Me Tour-nya Gabriel Mayo.

You & Me Tour mengambil konsep intimate gig di mana host mengajak beberapa teman menyaksikan penampilan Gabriel Mayo membawakan lagu-lagu ciptaan sendiri.

Saya mengajak beberapa sahabat untuk berkenalan lebih dekat dengan Mayo dan musiknya. Kami mendapat kemudahan dari Ruang Ke-3 Specialty Coffee Artisans yang menyediakan “ruang intim” untuk kami malam ini, lengkap dengan kopi lokal dan kudapan nikmat.

Mayo membawakan sepuluh lagu yang tengah digarapnya untuk album pertama (akan dirilis tahun ini), dan versi cover I Think Of You – Rodriguez sebagai encore. Musik yang Mayo bawakan — termasuk cerita di balik masing-masing lagu — mendapat sambutan baik (malah cenderung riuh) dari para sahabat, pemilik dan pengelola kedai kopi, juga pengunjung kedai kopi.

Terima kasih semua yang turut menghangatkan suasana malam ini. Selamat untuk langkah pertama You & Me Tour.

#WriteEveryDamnDay

Tentang Mimpi

Belakangan mimpi yang saya alami sangat “terang”. Orang-orang, simbol-simbol, lokasi-lokasi dan inti cerita di dalamnya cukup jelas. Saya bisa mengasumsikan hal-hal di dunia nyata yang turut memberi latar belakang cerita ke dalam mimpi. Perosotan raksasa, misalnya, saya kira muncul di dalam mimpi karena paparan berita terkait QZ8501 — perosotan karet adalah salah satu barang yang pernah saya lihat di kartu petunjuk penyelamatan diri di dalam pesawat. Perosotan raksasa di dalam mimpi itu saya asumsikan sebagai pesan emergency; pesan yang kemudian baru bisa saya simpulkan setelah mengendapkan mimpi itu di alam sadar. Situasi emergency apa? Jawabannya harus saya cari saat terjaga.

Bermimpi itu seperti menonton film yang diproyeksikan dari dalam kepala ke layar lebar dari kursi beludru, bukan?

#WriteEveryDamnDay

Tentang Ruang Sosial

Hari ini saya mampir lagi ke sebuah kedai kopi kecil bernama Ruang Ke-3 di area Apartemen Kebagusan City. Setelah kunjungan sebelumnya sekadar melihat-lihat lokasi, kali ini saya datang untuk ngobrol bareng salah satu pemiliknya.

Saya tau tentang kedai kopi ini dari teman-teman yang tinggal di apartemen sana. Namanya menarik. Dan ada konsep menarik di balik namanya.

Ruang-ruang di Apartemen Kebagusan City tidak bisa dibilang luas. Setidaknya di ruang studio dan ruang dengan satu kamar tidur yang pernah saya lihat di sana tidak bisa dibilang luas. Maka hadirnya Ruang Ke-3 benar-benar memenuhi janjinya sebagai ruang tambahan untuk beraktivitas sosial.

Saya, yang lebih nyaman berada dalam lingkaran sosial kecil, konsep ruang ketiga memang tepat guna. Saya pikir, bumi yang saya pijak butuh lebih banyak tempat seperti ini, yang menyediakan ruang publik terbatas — untuk sebagian, tidak untuk semua.

#WriteEveryDamnDay

Tentang Menjaga Diri

“Mungkin dia lelah.”

Itu komentar yang belakangan semakin sering saya dengar, juga saya lontarkan. Ada kalanya obyek dia memang terlihat lelah secara lahir, tapi sering kali kesan lelah justru muncul secara batin. Entah karena deraan yang mendadak, atau — yang lebih berbahaya — deraan yang menahun.

Gak bisa dibiarkan. Harus dipulihkan. Untuk pulih, pertama harus jujur pada diri sendiri dan mengakui kalau kita lelah, kalau kita perlu dipulihkan.

Karena kita perlu kembali sehat dan kuat. Bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang-orang yang kita sayangi. Kalau kita gak bisa menjaga diri sendiri, apa mungkin kita bisa menjaga diri orang lain?

#WriteEveryDamnDay