Sawatdi Kha, Thailand

Sawatdi adalah kalimat yang diucapkan saat memberi salam di Thailand (wai). Kalau kamu perempuan akhiri dengan “kha”, kalau kamu lelaki akhiri dengan “khrap”. Walaupun pada praktinya, khususnya di kalangan orang lokal, cukup dengan penggalan “kha” atau “khrap”.

Kalau pada penambahan usia sebelumnya saya menghadiahi diri dengan bertandang ke negeri Paman Ho, tahun kemarin saya membawa diri lost in translation ke Thailand. (Dari perjalanan kali ini saya mendapati fakta bahwa wajah saya memang tipikal oriental Asia Tenggara. Selama perjalanan di Vietnam saya sering disangka orang lokal; begitupun selama di Thailand.)

Untuk tips dan trik traveling ke Thailand, silakan cari-cari di travel website dan travel blog di luar sana, karena di sini saya hanya akan cerita tentang hal-hal menarik yang saya temui selama empat hari di Bangkok dan empat hari di Chiang Mai.

Continue reading

You Don’t Have to Score

Ada masanya dalam hidup, kita disalahpahami oleh orang lain. Dituduh berbuat tidak baik terhadap orang lain itu, walaupun kita tau perkataan, perbuatan, bahkan pikiran kita tidak begitu.

Kita pun berupaya mengurai benang yang kusut.

Lalu saat kita kira kesalahpahaman sudah diluruskan, tiba-tiba kita dengar kabar dari orang ketiga bahwa si orang lain masih mengganggap kita sebagai orang jahat.

Kita tidak terima. Kita bahkan mungkin marah. Kita setidaknya merasa dikhianati. Kita ingin mengajak si orang lain kembali duduk berhadapan; kembali beradu argumen. Kembali ingin menjelaskan bahwa kita tidak jahat; si orang lain hanya salah paham.

“Ikhlasin.”

“You don’t have to score.”

Seburuk kedengarannya, nasihat di atas benar adanya.

Terima saja. Silakan marah. Silakan sedih. Tapi gak perlulah kembali mencoba menjelaskan diri. You did that already. If it was not enough for that person, it’s never gonna be enough.

Dan gak akan mudah. Saya berkali-kali kepikiran untuk kembali melakukan konfrontasi, supaya kelak saya mati saya tau kalau orang lain itu tidak salah paham terhadap saya. Namun, pada akhirnya, apapun yang orang lain itu pikirkan tentang saya gak relevan; saya gak bisa mengendalikan pikiran orang lain.

“I’m only responsible for what I say or do, I’m not responsible for what you understand.”

Dan kehidupan terus berlangsung.

KeMESRAan Cirebon

Kalau di pertengahan Desember lalu saya ikut grup kantor #TWjamesbon alias Think.Web jalan-jalan mesra ke Cirebon, maka kemarin, dalam rangka pergantian tahun 2015 ke 2016, saya dan teman-teman dekat jalan-jalan penuh keMESRAan ke… Cirebon juga.

Penuh kemesraan karena jam terbang kebersamaan kami banyak. Dan MESRA alias MEpet Sampe-sampe RA bisa gerak di kamar hotel, di dalam mobil sewaan dan di tempat-tempat makan yang kami kunjungi; maklum bersembilan.

Ide jalan-jalan akhir tahun ini datang tiba-tiba (kaya cinta) saat kami sedang update info terkait persiapan pernikahan salah dua personil tim keMESRAan ini pada suatu kafe. Langsung saja ide ini disepakati dan ditindaklanjuti dengan membeli tiket kereta Cirebon Express di gerai Alfamart di sebelah kafe. Hotel pun segera dipesan.

Tim keMESRAan kemudian mendapat satu tambahan anggota yang langsung diinagurasi sebagai adik bersama.

Kami tidak memiliki rencana perjalanan, bahkan sampai hari kami tiba di kota Empal Gentong. Ya, kecuali itu, sowan ke warung-warung empal gentong. Tiba di Stasiun Cirebon barulah kami menentukan ke mana arah kaki kami melangkah. Destinasi berikutnya secara konsisten kami tentukan dari lokasi kami berpijak.

Destinasi (atau lebih pantas disebut menu?) yang akhirnya kami kunjungi selama di Cirebon di antaranya:

Empal Gentong Putra Mang Darma

Keluar stasiun kereta kami langsung disambut warung empal gentong. Empal gentong di sini lebih enak bila dibandingkan dengan empal gentong H Apud yang saya cobain saat #TWjamesbon. Entah karena lapar atau karena memang lebih enak.

Empal Gentong Bu Darma

Sedikit lebih jauh dari Putra Mang Darma, ada Bu Darma yang juga menyajikan empal gentong. Soal rasa, ibu dan putra ini sebelas dua belas lah.

Keraton Kasepuhan Cirebon

CMIIW, ada tiga keraton di Cirebon yang terbuka untuk kunjungan umum. Keraton Kasepuhan ini salah satunya dan yang paling besar dari ketiganya.

Dengan luas total 25 hektar, area keratonan ini terbagi menjadi empat: area untuk duduk-duduk dan (pada masanya) menyaksikan pertunjukan, area museum, bangunan utama keraton yang masih digunakan sebagai tempat tinggal, dan area sumur. Sekitar satu jam kami berkeliling di sana bersama pemandu wisata yang menyenangkan — dari info yang disampaikan dan cara penyampaiannya. Saran saya sih sewa jasa tour guide supaya kunjungan ke keraton lebih dari sekadar foto-foto.

Nasi Lengko H. Barno

Selain empal gentong, kuliner yang juga khas di Cirebon adalah nasi lengko. Nasi lengko H. Barno ini sepertinya cukup terkenal jika dilihat dari antriannya.

Pada dasarnya nasi lengko adalah nasi dengan topping sayuran, tahu tempe, sambal kacang dan kecap. Tidak ada yang bisa diistimewakan dari sajian ini, kecuali sambal kacangnya. Dan side dish berupa sate kambing muda (dengan formasi daging-lemak-jeroan dalam satu tusuk) yang lembut, gurih, nikmat.

Kawasan Batik Trusmi

Daerah Trusmi terkenal akan hasil batik khas Cirebon bermotif Mega Mendung dan Pesisir. Lembar demi lembar kain batik Cirebon bisa kamu susuri dari area pertokoan di depan gerbang, sampai blusukan ke area rumah-rumah produksi batik.

Banyu Panas Gempol

Ini mungkin deatinasi yang paling menarik yang kami kunjungi karena terletak di dalam kawasan industri Indocement. Kolam pemandian air panas ini memang memanfaatkan sumber air panas dan belerang yang dimanfaatkan juga oleh perusahaan semen ini.

Saat berendam di sini kamu akan terus mendengar pengumuman dari pihak pengelola untuk memberi jeda pada tiap sesi berendam, untuk alasan kesehatan tentunya.

image

H. Moel Seafood

Restoran seafood ini dikunjungi karena sehari sebelumnya kebetulan kami lewati dan mendadak ngidam berjamaah; sayang waktu itu restoran sudah tutup.

Menu jagoan di sini adalah kepiting saus bangkok dan udang lady rose bakar. Selama makan di sana kami khusyuk menikmati sajian di piring masing-masing sambil sesekali terdengar suara “slurps” dan “aahhh”. Silakan bayangkan sendiri penampilan dan rasanya ya.

Nasi Jamblang Bu Nur

Tempat ini epic! Antrian mengular, pilihan menu melimpah, tempat duduk terbatas, dan ruangan yang panas. Kami bersembilan duduk MESRA Tapi semua bahagia begitu keluar dari warung ini. (Mungkin bahagia karena akhirnya ketemu angin.)

CSB Mall

“Jalan-jalan ke luar kota kok malah ke mal?” Mungkin pertanyaan pertanyaan ini lebih cocok muncul saat seseorang bercerita tentang jalan-jalannya ke Singapore. Buat kami, mal ini penyelamat kedua (setelah staf Hotel Smile yang amomodatif) saat kami berencana kelaparan tengah malam (dengan menu resto takeaway-nya), butuh dopping  kesehatan (dengan drug store-nya), dan idle time management (dengan coffee shop dan rooftop-nya).

Tiga hari dua malam rupanya lebih daripada cukup — berlebihan malah — untuk berwisata di Cirebon dan sekitarnya.

Jalan-jalan ke Cirebon
Jangan lupa makan empal gentong
Cukup sekian
Dan terima kasih

(Loh kok gak nyambung non?)
(Ya terserah saya dong!)

2015 Best Nine Songs

Tahun 2015, seperti tahun-tahun sebelumnya, menyimpan banyak emosi. Beberapa bisa diwakilkan dengan lagu, beberapa cukup dibawa joget aja.

2015 Best Nine Songs versi saya (bisa juga disimak di Youtube playlist ini):

1) Your Arms Around Me – Jens Lekman

Di awal tahun ada kejadian yang mengguncang hubungan baik saya dengan seseorang. Dia sempat mengutip lirik lagu ini: What’s broken can always be fixed, what’s fixed will always be broken.

Kutipan itu melekat di ingatan, bahkan sampai penghujung tahun ini.

2) Ue O Muite Arukou – Kyu Sakamoto

Lagu ini mestinya akrab di telinga kamu juga lewat versi bahasa Inggris (Sukiyaki-nya Boyz II Men) atau versi bahasa Indonesia (Nyanyian Kode-nya Dono Kasino Indro).

Ketemu versi asli lagu ini waktu nonton From Up On The Poppy Hill (Studio Ghibli), dan makna liriknya bikin brebes mili.

3) If I Could Cry (It Would Be Like This) – Jens Lekman

Satu lagi dari Jens Lekman. Belakangan memang lagi menenangkan diri dengan alunan musik dari lelaki Skandinavia. Jens Lekman salah satunya.

4) My Tears Dry On Their Own – Amy Winehouse

Kakak Amy memang dahsyat ya suaranya! Lagu ini cukup sering saya putar di antara playlist female vocals.

5) Hello – Adele

Sungguh. Saya berusaha tidak “jatuh” ke lagu-lagu galau ala Adele, tapi lagu ini memang langsung nempel begitu pertama kali didengar.

6)  Am I The Same Girl – Swing Out Sisters

Ini lagu favorit buat berbenah kosan! Nadanya enak banget buat jejogetan sambil nyapu, ngepel dan cuci-cuci, sambil nyanyi-nyanyi tentunya.

7) Bang Diggy Bang Bang – MFBTY

Ini juga parah! Musiknya menyugesti badan untuk berjoget. Grup hiphop asal Korea ini asyik banget. Pun lagunya kali ini sarat nuansa India; jadi makin joget kan tuh.

8) Sorry – Justin Bieber

Is it too late to start listening to Bieber? Ini juga lagu yang sekali dengar langsung nempel di kuping dan nempel di badan. Bawaannya joget parah.

9) Hari Ini – Gabriel Mayo

Untuk menutup daftar kali ini, saya kasih satu lagu yang musiknya enak dan liriknya menyemangati. Lumayan, buat modal menyambut hari-hari baru di 2016.

2015 Best Nine Movies (and TV Series)

Thanks to juragan torrent Mr. Cineplaque, saya punya lebih banyak pilihan film dan serial.

2015 Best Nine Movies (and TV Series) versi saya:

1) Monster (2003)

Seorang teman membuat lagu berdasarkan film ini; it was so intense. Saya jadi penasaran seperti apa sih filmnya. Dan saya jadi paham kenapa lagu teman saya itu “gelap” (dibandingkan lagu-lagunya yang lain), karena menyalurkan jiwa gelap dalam cerita film Monster ini.

Ceritanya disadur dari kisah nyata seorang pelacur yang kemudian jadi pembunuh.

2) The Imitation Game (2014)

Juga disadur dari kisah nyata. Kali ini dari seorang ahli matematika di jaman Perang Dunia II.

Umpan casting Benedict Cummberbatch tentu saja saya sambut dengan lahap. Bang Ben menghadirkan sosok introvert yang sering kali disalahpahami orang-orang di sekitarnya.

3) The 100-Year Old Man Who Climbed Out The Window And Disappeared (2013)

Dari novel berjudul sama, yang menurut seorang teman dituturkan secara lambat.

Plot film berjalan cepat, berpindah dari satu kekonyolan ke kekonyolan lain. It was beyond hilarious. Saya menonton film ini pada suatu festival film, dan ruang auditorium Erasmus Huis dipenuhi gema suara tawa.

Film yang bikin bahagia.

4) The IT Crowd (2006)

“Hello, IT. Have you tried turning it off and on again?”

Tiga orang staff technical support — dua geek dan satu control freak– bekerja dari lantai basement kantor korporasi besar.

Ah, premis ini saja sudah menjanjikan komedi.

5) Still Alice (2014)

Yang menarik dari film ini justru kehadiran Kristen Stewart. Saya tidak terpesona pada K-Stew sejak perannya di Twilight. Ekspresinya begitu-gitu aaja. Emosinya begitu-gitu saja.

Namun di film ini saya melihat dia lebih hidup. Lebih berekspresi. Lebih beremosi.

K-Stew, you now have my attention.

6) Mr. Robot (2015- )

Instant crush on Rami Malek!

Pilot episodenya setting the bar too high, gak bisa dicapai episode-episode lanjutannya.

Tapi, karena banyak hal yang gak tuntas di Season 1 ini, saya sih menantikan kelanjutannya.

7) The Good Dinosaur (2015)

Pixar emang paling-paling ya untuk urusan kucek-kucek mata. Setelah Inside Out di tengah tahun, The Good Dinosaur juga bikin saya usap-usap pipi di kegelapan bioskop.

Yang bikin The Good Dinosaur masuk daftar ini ya karena animasinya yang semakin mendekati live action. Kalau kamu sempat nonton film ini, pasti ngeh kalau pemandangan sungai, hutan, gunung, langitnya lebih mirip foto daripada kartun.

8) Inside Out (2015)

Kata siapa Inside Out gak masuk daftar ini? Gila kali!

Masa saya gak masukin film yang ngacak-ngacak emosi ke dalam daftar ini? Gila kali!

Who’s your friend who likes to play?
Bing Bong Bing Bong!
His rocket makes you shout “Hooray!”
Bing Bong Bing Bong!

Sudah ya.. jangan nangis lagi.

9) Chungking Express (1994)

Dua teman saya, kakak-beradik Simatupang, suka (kayanya pake banget) sama film ini.

Ini film Wong Kar Wai pertama yang saya tonton. Dari film ini, saya jadi penasaran sama film-film lainnya garapan sutradara ini.

image

The end.
Iya, gak ada The Force Awakens.
?

2015 Best Nine Books

Mumpung #2015BestNine lagi trending, saya mau ikutan bikin daftar 9 terbaik versi saya ah.

2015 Best Nine Books:

1) Kafka On The Shore, Haruki Murakami

Pada Norwegian Wood saya langsung jatuh suka sama cara Murakami-san menuturkan cerita dan membiarkan saya larut di dalamnya. Bahkan meninggalkan nelangsa saat saya selesai membacanya. Maka, setelah move on dari Norwegian Wood, saya memberanikan diri terhanyut dalam tulisan-tulisannya yang lain.

Kafka On The Shore jadi buku pilihan berikutnya. Kafka bukan buku yang mudah dipegang. Berkali-kali saya ingin menyerah membacanya. Murakami-san memberi petunjuk demi petunjuk bagaimana dua tokoh utamanya akan bertemu, dan saya menghabiskan batas sabar saya menantikan pertemuan itu.

Kafka masuk daftar ini karena kegigihannya menarik saya, yang berkali-kali berusaha kabur, untuk kembali tenggelam dalam halaman demi halamannya.

2) Jatuh Ke Matahari, Djokolelono

Buku terbitan circa 1970 ini saya pinjam dari Om Bin, yang memang kolektor buku lawas.

Cerita fiksi sains tentang perjalanan para astronot menjelajahi luar angkasa ini mengingatkan pada Interstellar, yang beberapa waktu sebelumnya saya tonton. Dan, betapa buku ini ahead of time dibanding generasinya.

3) Kitchen, Banana Yoshimoto

Saya pertama membaca novelette (saya lupa judulnya) yang turut mendampingi Kitchen di buku ini. Lalu terus tertarik membaca tulisan mbak Banana yang lainnya.

Saya tak bisa menghindari membandingkan Yoshimoto dengan Murakami, untuk nuansa melankolis Jepang yang dihadirkan lewat tulisan.

Thanks to mbak Banana, saya jadi tertarik membaca novel karya penulis Jepang lainnya.

4) Kitchen, Jo Joo Hee

Kitchen yang ini berupa seri kumpulan cerita pendek grafis (1-3), yang menghadirkan kisah-kisah ringan tapi dalam dari sudut pandang perempuan muda. Resonansinya terasa kuat.

5) Kicau Kacau, Indra Herlambang

Saya paling iri pada orang-orang yang menulis dan menggambar sama baiknya. Indra salah satunya.

Awalnya sempat skeptis pada tulisan karya selebriti (dan selebtwit). Apa sih, paling juga isinya menye-menye gak jelas sembari humblebrag.

Namun tulisan (dan ilustrasi) Indra membantah keskeptisan saya. Tulisannya ringan, tepat guna, beberapa bahkan membuat saya bereaksi “Ah, bener juga ya.”

6) Melihat Api Bekerja, Aan Mansyur & Emte

Ini pertama kalinya saya membaca puisi karya Aan Mansyur, sekaligus mengagumi ilustrasi Emte. Sebenarnya, ilustrasi Emte lah yang pertama memanggil saya untuk melihat isi buku ini.

Karya mereka saling melengkapi, tulisan menegaskan gambar, dan gambar memberi makna lebih pada tulisan. Karya yang nikmat dipandang mata kepala dan mata jiwa.

7) Wonder, RJ Palacio

Covernya selalu memanggil tiap kali saya lihat di toko buku. Sayangnya excerpt di sampul belakang tidak berhasil menggaet saya untuk membawanya ke meja kasir.

Baru setelah ada rekomendasi dari teman, saya mendatangi toko buku itu dan menebus Wonder dari rak buku.

Warning: This book is such a tearjerker!

8) The Little Prince, Antoine de Saint-Exupéry

Membaca ulang novel ini demi menyambut filmnya jadi keputusan yang baik. Karena saya jadi bisa menikmati karya yang lebih baik terlebih dahulu, sebelum karya coba-lagi-besok-ya yang menyusul.

The book is better than the movie. As usual.

9) The Curious Incident Of The Dog In The Night Time, Mark Haddon

Membaca ulang buku ini, dan sekaligus memilikinya di tahun ini, setelah entah di tahun berapa saya membacanya via pinjam teman.

Buku ini mengajak pembacanya untuk ikut berpikir dan merasakan hal-hal sehari-hari dari sudut pandang yang berbeda. And it’s a lovely thing.

Ya begitulah daftar sembilan dari segelintir buku yang saya baca tuntas di tahun ini.

Seorang teman kemarin mengajak mengikuti tantangan 52 buku dalam 1 tahun. Siapa takut? Saya sih takut.

Halfworlds, Pilot Episode Spoiler

Tadi nonton episode perdana Halfworlds di Facebook Page-nya. Secara umum menarik. Mungkin karena unsur “karya anak bangsa”, mungkin karena ide cerita demit vs manusia. Tapi ada dua detil yang mengganggu.

[SPOILER ALERT]

Pertama, waktu Pinung ke tempat Sarah dan melihat ilustrasi yang ditempel di dinding. Ilustrasinya menggambarkan gimana kedua orang tua Sarah dibunuh sesosok siluet. Pada salah satu ilustrasinya digambarkan kedua orang tua Sarah merangkul Sarah di antara mereka, berhadapan dengan sosok siluet itu. Dari bangku penonton memang enak dilihat, tapi sudut pandang penceritanya jadi berantakan.

Begini, ilustrasi itu kan dari kenangan Sarah kecil pada saat kejadian berlangsung, maka sudut pandang kenangan itu dari mata Sarah kecil. Sementara ilustrasi dibuat dari sudut pandang orang ketiga, yaitu yang menyaksikan Sarah kecil dan kedua orang tuanya berhadapan dengan siluet itu; padahal yang membuat ilustrasi itu adalah Sarah dewasa. Ya, bisa aja begitu, tapi kenapa Sarah — yang mengalami kejadian itu di depan matanya — kepikiran untuk menggambarkannya dari sudut pandang orang ketiga, seolah dia menarik diri keluar dari kenangan?

Kedua, pada adegan Sarah melihat temannya yang tengah dimangsa tokoh demit yang diperankan Adinia Wirasti. Sarah sempat lari dan teriak minta tolong, lalu warga sekitar berbondong mengikuti Sarah ke tempat kejadian. Saat warga melihat tidak ada apa-apa di sana, satu persatu mereka membalik badan meninggalkan Sarah. Salah satu warga mengenakan kemeja warna terang (putih?). Saat dia membalik badan, terlihat bercak darah di belakang pakaiannya. (Mungkin bekas dipakai di adegan lainnya?) Kenapa gak ganti baju sih, mas?

Dua detil ini gak mengganggu keseluruhan cerita pilot episode Halfworlds kok. Cuma terlanjur terlihat dan bikin saya bertanya “Kenapa sih?”

Musik di Perjalanan

thank you pexels.com!

thank you pexels.com!

Musik adalah salah satu sumber energi terbarukan pembangkit emosi tenaga kenangan.

Kenangan-kenangan yang menempel pada lagu-lagu tertentu bisa membangkitkan emosi untuk melakukan hal-hal tertentu. Saya gak lagi ngomongin lagu-lagu yang membangkitkan emosi suicidal, tapi tolong — demi kebaikan bersama — singkirkan benda tajam di sekitar kamu. SEKARANG JUGA.

Yang mau saya omongin justru lagu-lagu yang membangkitkan emosi jalan-jalan.

Buat saya, ada beberapa album (iya, saya anaknya gak suka pilihin lagu satu-satu, mending sekalian satu album) yang belakangan sukses menghembuskan kenangan perjalanan lalu, sekaligus membangkitkan hasrat bikin itinerary. Atau, ya setidaknya, bikin saya dreamy.

Lagu-lagu Kings of Convenience selalu membuat saya rindu road trip. Lagu-lagu dari semua album KoC jadi soundtrack perjalanan saya dan beberapa teman ke Pangandaran. Alunan sendu dari duet folk-pop menemani kami PP selama total 20 jam, menemani kami tersasar karena kehilangan sinyal GPS, bahkan menemani kami bermanuver menghindari kecelakaan. Kenangan yang menempel pada lagu-lagu KoC bukan hanya sebatas kenangan atas perjalanan, tetapi juga atas pertemanan yang pernah dekat. Tuh kan, jadi sendu lagi.

Lain halnya lagu Sweet Disposition-nya Temper Trap. Lagu yang pada masanya dibangga-banggakan secara semu oleh warga internet Indonesia atas fakta salah satu personil Temper Trap yang keturunan Indonesia (so what?) ini sempat menemani perjalanan berkereta dari Jakarta ke Surabaya dan dari Semarang ke Jakarta — perjalanan panjang pertama saya bersama dua travelmate kesayangan. Dan karenanya setiap mendengar lagu ini, yang saya bayangkan adalah duduk di bangku sebelah jendela kereta eksekutif sambil menikmati pemandangan yang lalu-lalang dengan cepat.

Namun yang istimewa mungkin album Ghost Stories-nya Coldplay. Saya cepat-cepat mengunduhnya begitu album tersedia di iTunes pada pertengahan tahun lalu, dan lekas-lekas menyimpanya di iPod. Rencananya saya ingin earworming lagu-lagu di album ini pada perjalanan dari Lombok sampai Rote di depan mata. Dan benar saja, lagu-lagu dari album paling galau versi Coldplay ini jadi teman… tidur saya sepanjang perjalanan. Maaf ya Chris dan kawan-kawan, tapi lagu-lagu kalian di album ini lebih cocok jadi lagu-lagu pengantar tidur. Saya ingat selalu menyetel album ini setiap akan tidur selama di perjalanan. Dan saya akan selalu tertidur setelah empat-lima lagu pertama. Sampai saya akhirnya tersadar “Kok gue gak pernah tau lagu-lagu berikutnya kaya apa ya?” Dan, bahkan sampai sekarang pun, kalau ngantuk tak kunjung datang, saya tau cara meninabobokan diri sendiri.

Kalau kamu, apa lagu kenangan jalan-jalanmu?

Drama Bandara

drama bandara-twirasdotnet

thank you pexels.com!

Kamu pernah nonton The Terminal (2004)? Ceritanya Victor Novarski (Tom Hanks) datang ke Amerika lewat bandara JFK. Dia datang dari suatu negara yang pemerintahannya baru saja digulingkan. Karena situasi politik tersebut, segala surat identitas Victor dinyatakan tidak berlaku. Victor tidak dapat berpindah ke mana pun dan terpaksa harus tinggal di dalam bandara, sampai situasi politik negara asalnya kembali normal. Dari situlah drama bandara dimulai.

Pasti banyak dari kita yang pernah mengalami drama di bandara, walaupun gak perlu serumit kasusnya Victor. Drama yang pada saat terjadi bikin lelah atau minimal terengah-engah tapi setelah dilewati justru jadi cerita yang seru untuk ditukar-tambah.

Bagasi

Yang terakhir saya alami adalah drama bagasi, yang mengharuskan saya dan rombongan membongkar pasang dua kardus barang; yang pertama karena dicurigai membawa benda cair, yang kedua karena kelebihan berat. Untungnya [sebagai orang Indonesia, harus selalu bisa melihat untungnya] kami tiba untuk check-in dalam waktu yang cukup lengang, jadi dengan drama bagasi pun kami masih bisa bernapas sejenak sebelum boarding.

Berpacu dengan Waktu

Drama bandara yang paling sering terjadi mungkin yang berhubungan dengan mengejar waktu, memaksa kita sebagai pemeran utama drama ini berlarian ke sana ke mari. (Dari sudut pandang yang berbeda, saat saya melihat adegan orang-orang berlari di bandara, ada kalanya saya ingin berteriak menyemangati: Ayo! Kalian bisa!)

Drama kejar-kejaran yang paling berkesan mungkin pada suatu trip liputan ke Jogja. Saya bersama dua rekan kerja sudah duduk santai di ruang tunggu, sambil menunggu panggilan boarding. Saat boarding tiba, kami bertiga memasuki pesawat lewat jembatan belalai. Saya curiga saat melihat pesawat yang akan kami masuki adalah Wings Air, padahal tiket kami Lion Air. Ah, mungkin karena satu grup, jadi bisa pinjam-pinjaman pesawat. (Iya, ini pembenaran diri yang bodoh. Tolong, jangan pernah abaikan kecurigaan kamu.) Saat tiba di nomor bangku kami, sudah ada tiga orang duduk tentram di sana. Kepada pramugari terdekat kami bertanya. Dan… benar saja: Kami salah naik pesawat. Wings Air ini akan berangkat ke Lombok. Dan pesawat kami ternyata dipindahkan ke gate lain, yang berseberangan arah dengan gate yang kami datangi. Ternyata tadi sudah anda info tentang perpindahan ini, tetapi tidak satu pun dari kami yang mendengarnya. Jadilah kami bertiga berlarian ke arah gate untuk pesawat Lion Air menuju Jogja. Untungnya [tuh kan, untung lagi] kami bepergian dengan bawaan yang ringkas, masing-masing dengan satu tas ransel saja. Kecepatan kaki kami menyelamatkan kelalaian telinga kami.

Drama kejar-kejaran yang kurang epik mungkin pada perjalanan pulang Tegar dan saya dari Medan, setelah mengantarkan donasi barang dan bermain bersama-sama anak-anak di pengungsian pasca erupsi Sinabung. Dari Kota Medan kami bertolak ke Bandara Kualanamu menggunakan Rail Link yang super nyaman. Jadwal Rail Link yang terintegrasi dengan jadwal keberangkatan pesawat memungkinkan kami tiba jauh lebih awal dari waktu boarding; cukup untuk berkunjung ke toilet dan sarapan dengan santai. Sambil sarapan kami menjaga telinga tetap awas untuk segala informasi yang merambat lewat udara. Saat sarapan selesai, kami menuju nomor gate yang tercantum di tiket. Ternyata… sudah ada panggilan terakhir untuk Bapak Tegar dan Ibu Tere. *insert WHAT? face here* Kapan panggilan pertama dan keduanya? Sepertinya lagi-lagi terlewat dari telinga saya. Untungnya [gimana, sudah mulai bosan untung terus?]… gak ada untungnya sih, kecuali nama saya jadi menggaung se-Kualanamu.

Metal Detector

Drama nyangkut di pintu screening mungkin yang paling jarang terjadi di sekitar saya. (Atau lagi-lagi saya terlewat mendengarnya?) Saya sendiri baru sekali nyangkut di screening, karena membawa senjata tajam gunting dan cutter di tas ransel. Lupa deh kalau kedua benda itu gak bisa masuk kabin. Padahal rencananya saya masih mau membuat prakarya kecil untuk bahan presentasi di depan anak-anak Tana Paser. Tidak ada kesulitan berarti di pintu screening, saya hanya perlu merelakan kedua benda tajam itu jadi koleksi pengurus bandara.

Kangen-kangenan

Ini mungkin yang paling norak. Dan saya gak sedang ngomongin orang-orang yang displaying public affection di bandara. Saya lagi ngomongin orang-orang yang segitunya kangen jalan-jalan pakai pesawat udara tapi rupiah dan waktu belum mengizinkan sehingga datang ke bandara hanya untuk menghirup hawa jalan-jalan. Iya, saya ngomongin tentang saya dan beberapa teman yang pernah ke bandara hanya untuk duduk ngobrol di coffee shop sambil bawa buku bacaan masing-masing. Atau yang datang malam hari hanya untuk duduk-duduk di area “view point” sambil melihat-lihat kerlap-kerlip lampu di tubuh pesawat. Paling norak kan.

Kenapa jadi bahas drama di bandara? Karena kangen bandara. Gitu aja.

Biasa Karena Terbiasa

Hal-hal yang awalnya terasa luar biasa bisa jadi biasa saja kalau sudah terbiasa atau dibiasakan.

Kalau kemarin-kemarin kita terbiasa terpapar suhu udara di atas 34 derajat Celcius, maka bisa jadi lain kali kita terpapar hawa bertemperatur 34°C kita berkomentar: wes biasa.

Kalau sehari-hari kita makan nasi merah, maka sensasi ini-nasi-dikunyah-kok-gak-lumat-lumat-juga-sih jadi biasa. Lain kali kita makan nasi merah, gak terasa ada yang istimewa.

Kalau terbiasa di-PHP-in orang lain… ya, salahmu sendiri, kenapa dibiasain? Atau, ya salahmu sendiri, kenapa berharap?

Pilihan kita, mau terbiasa atau membiasakan sesuatu atau tidak.