2015 Best Nine Movies (and TV Series)

Thanks to juragan torrent Mr. Cineplaque, saya punya lebih banyak pilihan film dan serial.

2015 Best Nine Movies (and TV Series) versi saya:

1) Monster (2003)

Seorang teman membuat lagu berdasarkan film ini; it was so intense. Saya jadi penasaran seperti apa sih filmnya. Dan saya jadi paham kenapa lagu teman saya itu “gelap” (dibandingkan lagu-lagunya yang lain), karena menyalurkan jiwa gelap dalam cerita film Monster ini.

Ceritanya disadur dari kisah nyata seorang pelacur yang kemudian jadi pembunuh.

2) The Imitation Game (2014)

Juga disadur dari kisah nyata. Kali ini dari seorang ahli matematika di jaman Perang Dunia II.

Umpan casting Benedict Cummberbatch tentu saja saya sambut dengan lahap. Bang Ben menghadirkan sosok introvert yang sering kali disalahpahami orang-orang di sekitarnya.

3) The 100-Year Old Man Who Climbed Out The Window And Disappeared (2013)

Dari novel berjudul sama, yang menurut seorang teman dituturkan secara lambat.

Plot film berjalan cepat, berpindah dari satu kekonyolan ke kekonyolan lain. It was beyond hilarious. Saya menonton film ini pada suatu festival film, dan ruang auditorium Erasmus Huis dipenuhi gema suara tawa.

Film yang bikin bahagia.

4) The IT Crowd (2006)

“Hello, IT. Have you tried turning it off and on again?”

Tiga orang staff technical support — dua geek dan satu control freak– bekerja dari lantai basement kantor korporasi besar.

Ah, premis ini saja sudah menjanjikan komedi.

5) Still Alice (2014)

Yang menarik dari film ini justru kehadiran Kristen Stewart. Saya tidak terpesona pada K-Stew sejak perannya di Twilight. Ekspresinya begitu-gitu aaja. Emosinya begitu-gitu saja.

Namun di film ini saya melihat dia lebih hidup. Lebih berekspresi. Lebih beremosi.

K-Stew, you now have my attention.

6) Mr. Robot (2015- )

Instant crush on Rami Malek!

Pilot episodenya setting the bar too high, gak bisa dicapai episode-episode lanjutannya.

Tapi, karena banyak hal yang gak tuntas di Season 1 ini, saya sih menantikan kelanjutannya.

7) The Good Dinosaur (2015)

Pixar emang paling-paling ya untuk urusan kucek-kucek mata. Setelah Inside Out di tengah tahun, The Good Dinosaur juga bikin saya usap-usap pipi di kegelapan bioskop.

Yang bikin The Good Dinosaur masuk daftar ini ya karena animasinya yang semakin mendekati live action. Kalau kamu sempat nonton film ini, pasti ngeh kalau pemandangan sungai, hutan, gunung, langitnya lebih mirip foto daripada kartun.

8) Inside Out (2015)

Kata siapa Inside Out gak masuk daftar ini? Gila kali!

Masa saya gak masukin film yang ngacak-ngacak emosi ke dalam daftar ini? Gila kali!

Who’s your friend who likes to play?
Bing Bong Bing Bong!
His rocket makes you shout “Hooray!”
Bing Bong Bing Bong!

Sudah ya.. jangan nangis lagi.

9) Chungking Express (1994)

Dua teman saya, kakak-beradik Simatupang, suka (kayanya pake banget) sama film ini.

Ini film Wong Kar Wai pertama yang saya tonton. Dari film ini, saya jadi penasaran sama film-film lainnya garapan sutradara ini.

image

The end.
Iya, gak ada The Force Awakens.
?

2015 Best Nine Books

Mumpung #2015BestNine lagi trending, saya mau ikutan bikin daftar 9 terbaik versi saya ah.

2015 Best Nine Books:

1) Kafka On The Shore, Haruki Murakami

Pada Norwegian Wood saya langsung jatuh suka sama cara Murakami-san menuturkan cerita dan membiarkan saya larut di dalamnya. Bahkan meninggalkan nelangsa saat saya selesai membacanya. Maka, setelah move on dari Norwegian Wood, saya memberanikan diri terhanyut dalam tulisan-tulisannya yang lain.

Kafka On The Shore jadi buku pilihan berikutnya. Kafka bukan buku yang mudah dipegang. Berkali-kali saya ingin menyerah membacanya. Murakami-san memberi petunjuk demi petunjuk bagaimana dua tokoh utamanya akan bertemu, dan saya menghabiskan batas sabar saya menantikan pertemuan itu.

Kafka masuk daftar ini karena kegigihannya menarik saya, yang berkali-kali berusaha kabur, untuk kembali tenggelam dalam halaman demi halamannya.

2) Jatuh Ke Matahari, Djokolelono

Buku terbitan circa 1970 ini saya pinjam dari Om Bin, yang memang kolektor buku lawas.

Cerita fiksi sains tentang perjalanan para astronot menjelajahi luar angkasa ini mengingatkan pada Interstellar, yang beberapa waktu sebelumnya saya tonton. Dan, betapa buku ini ahead of time dibanding generasinya.

3) Kitchen, Banana Yoshimoto

Saya pertama membaca novelette (saya lupa judulnya) yang turut mendampingi Kitchen di buku ini. Lalu terus tertarik membaca tulisan mbak Banana yang lainnya.

Saya tak bisa menghindari membandingkan Yoshimoto dengan Murakami, untuk nuansa melankolis Jepang yang dihadirkan lewat tulisan.

Thanks to mbak Banana, saya jadi tertarik membaca novel karya penulis Jepang lainnya.

4) Kitchen, Jo Joo Hee

Kitchen yang ini berupa seri kumpulan cerita pendek grafis (1-3), yang menghadirkan kisah-kisah ringan tapi dalam dari sudut pandang perempuan muda. Resonansinya terasa kuat.

5) Kicau Kacau, Indra Herlambang

Saya paling iri pada orang-orang yang menulis dan menggambar sama baiknya. Indra salah satunya.

Awalnya sempat skeptis pada tulisan karya selebriti (dan selebtwit). Apa sih, paling juga isinya menye-menye gak jelas sembari humblebrag.

Namun tulisan (dan ilustrasi) Indra membantah keskeptisan saya. Tulisannya ringan, tepat guna, beberapa bahkan membuat saya bereaksi “Ah, bener juga ya.”

6) Melihat Api Bekerja, Aan Mansyur & Emte

Ini pertama kalinya saya membaca puisi karya Aan Mansyur, sekaligus mengagumi ilustrasi Emte. Sebenarnya, ilustrasi Emte lah yang pertama memanggil saya untuk melihat isi buku ini.

Karya mereka saling melengkapi, tulisan menegaskan gambar, dan gambar memberi makna lebih pada tulisan. Karya yang nikmat dipandang mata kepala dan mata jiwa.

7) Wonder, RJ Palacio

Covernya selalu memanggil tiap kali saya lihat di toko buku. Sayangnya excerpt di sampul belakang tidak berhasil menggaet saya untuk membawanya ke meja kasir.

Baru setelah ada rekomendasi dari teman, saya mendatangi toko buku itu dan menebus Wonder dari rak buku.

Warning: This book is such a tearjerker!

8) The Little Prince, Antoine de Saint-Exupéry

Membaca ulang novel ini demi menyambut filmnya jadi keputusan yang baik. Karena saya jadi bisa menikmati karya yang lebih baik terlebih dahulu, sebelum karya coba-lagi-besok-ya yang menyusul.

The book is better than the movie. As usual.

9) The Curious Incident Of The Dog In The Night Time, Mark Haddon

Membaca ulang buku ini, dan sekaligus memilikinya di tahun ini, setelah entah di tahun berapa saya membacanya via pinjam teman.

Buku ini mengajak pembacanya untuk ikut berpikir dan merasakan hal-hal sehari-hari dari sudut pandang yang berbeda. And it’s a lovely thing.

Ya begitulah daftar sembilan dari segelintir buku yang saya baca tuntas di tahun ini.

Seorang teman kemarin mengajak mengikuti tantangan 52 buku dalam 1 tahun. Siapa takut? Saya sih takut.

Halfworlds, Pilot Episode Spoiler

Tadi nonton episode perdana Halfworlds di Facebook Page-nya. Secara umum menarik. Mungkin karena unsur “karya anak bangsa”, mungkin karena ide cerita demit vs manusia. Tapi ada dua detil yang mengganggu.

[SPOILER ALERT]

Pertama, waktu Pinung ke tempat Sarah dan melihat ilustrasi yang ditempel di dinding. Ilustrasinya menggambarkan gimana kedua orang tua Sarah dibunuh sesosok siluet. Pada salah satu ilustrasinya digambarkan kedua orang tua Sarah merangkul Sarah di antara mereka, berhadapan dengan sosok siluet itu. Dari bangku penonton memang enak dilihat, tapi sudut pandang penceritanya jadi berantakan.

Begini, ilustrasi itu kan dari kenangan Sarah kecil pada saat kejadian berlangsung, maka sudut pandang kenangan itu dari mata Sarah kecil. Sementara ilustrasi dibuat dari sudut pandang orang ketiga, yaitu yang menyaksikan Sarah kecil dan kedua orang tuanya berhadapan dengan siluet itu; padahal yang membuat ilustrasi itu adalah Sarah dewasa. Ya, bisa aja begitu, tapi kenapa Sarah — yang mengalami kejadian itu di depan matanya — kepikiran untuk menggambarkannya dari sudut pandang orang ketiga, seolah dia menarik diri keluar dari kenangan?

Kedua, pada adegan Sarah melihat temannya yang tengah dimangsa tokoh demit yang diperankan Adinia Wirasti. Sarah sempat lari dan teriak minta tolong, lalu warga sekitar berbondong mengikuti Sarah ke tempat kejadian. Saat warga melihat tidak ada apa-apa di sana, satu persatu mereka membalik badan meninggalkan Sarah. Salah satu warga mengenakan kemeja warna terang (putih?). Saat dia membalik badan, terlihat bercak darah di belakang pakaiannya. (Mungkin bekas dipakai di adegan lainnya?) Kenapa gak ganti baju sih, mas?

Dua detil ini gak mengganggu keseluruhan cerita pilot episode Halfworlds kok. Cuma terlanjur terlihat dan bikin saya bertanya “Kenapa sih?”

Musik di Perjalanan

thank you pexels.com!

thank you pexels.com!

Musik adalah salah satu sumber energi terbarukan pembangkit emosi tenaga kenangan.

Kenangan-kenangan yang menempel pada lagu-lagu tertentu bisa membangkitkan emosi untuk melakukan hal-hal tertentu. Saya gak lagi ngomongin lagu-lagu yang membangkitkan emosi suicidal, tapi tolong — demi kebaikan bersama — singkirkan benda tajam di sekitar kamu. SEKARANG JUGA.

Yang mau saya omongin justru lagu-lagu yang membangkitkan emosi jalan-jalan.

Buat saya, ada beberapa album (iya, saya anaknya gak suka pilihin lagu satu-satu, mending sekalian satu album) yang belakangan sukses menghembuskan kenangan perjalanan lalu, sekaligus membangkitkan hasrat bikin itinerary. Atau, ya setidaknya, bikin saya dreamy.

Lagu-lagu Kings of Convenience selalu membuat saya rindu road trip. Lagu-lagu dari semua album KoC jadi soundtrack perjalanan saya dan beberapa teman ke Pangandaran. Alunan sendu dari duet folk-pop menemani kami PP selama total 20 jam, menemani kami tersasar karena kehilangan sinyal GPS, bahkan menemani kami bermanuver menghindari kecelakaan. Kenangan yang menempel pada lagu-lagu KoC bukan hanya sebatas kenangan atas perjalanan, tetapi juga atas pertemanan yang pernah dekat. Tuh kan, jadi sendu lagi.

Lain halnya lagu Sweet Disposition-nya Temper Trap. Lagu yang pada masanya dibangga-banggakan secara semu oleh warga internet Indonesia atas fakta salah satu personil Temper Trap yang keturunan Indonesia (so what?) ini sempat menemani perjalanan berkereta dari Jakarta ke Surabaya dan dari Semarang ke Jakarta — perjalanan panjang pertama saya bersama dua travelmate kesayangan. Dan karenanya setiap mendengar lagu ini, yang saya bayangkan adalah duduk di bangku sebelah jendela kereta eksekutif sambil menikmati pemandangan yang lalu-lalang dengan cepat.

Namun yang istimewa mungkin album Ghost Stories-nya Coldplay. Saya cepat-cepat mengunduhnya begitu album tersedia di iTunes pada pertengahan tahun lalu, dan lekas-lekas menyimpanya di iPod. Rencananya saya ingin earworming lagu-lagu di album ini pada perjalanan dari Lombok sampai Rote di depan mata. Dan benar saja, lagu-lagu dari album paling galau versi Coldplay ini jadi teman… tidur saya sepanjang perjalanan. Maaf ya Chris dan kawan-kawan, tapi lagu-lagu kalian di album ini lebih cocok jadi lagu-lagu pengantar tidur. Saya ingat selalu menyetel album ini setiap akan tidur selama di perjalanan. Dan saya akan selalu tertidur setelah empat-lima lagu pertama. Sampai saya akhirnya tersadar “Kok gue gak pernah tau lagu-lagu berikutnya kaya apa ya?” Dan, bahkan sampai sekarang pun, kalau ngantuk tak kunjung datang, saya tau cara meninabobokan diri sendiri.

Kalau kamu, apa lagu kenangan jalan-jalanmu?

Drama Bandara

drama bandara-twirasdotnet

thank you pexels.com!

Kamu pernah nonton The Terminal (2004)? Ceritanya Victor Novarski (Tom Hanks) datang ke Amerika lewat bandara JFK. Dia datang dari suatu negara yang pemerintahannya baru saja digulingkan. Karena situasi politik tersebut, segala surat identitas Victor dinyatakan tidak berlaku. Victor tidak dapat berpindah ke mana pun dan terpaksa harus tinggal di dalam bandara, sampai situasi politik negara asalnya kembali normal. Dari situlah drama bandara dimulai.

Pasti banyak dari kita yang pernah mengalami drama di bandara, walaupun gak perlu serumit kasusnya Victor. Drama yang pada saat terjadi bikin lelah atau minimal terengah-engah tapi setelah dilewati justru jadi cerita yang seru untuk ditukar-tambah.

Bagasi

Yang terakhir saya alami adalah drama bagasi, yang mengharuskan saya dan rombongan membongkar pasang dua kardus barang; yang pertama karena dicurigai membawa benda cair, yang kedua karena kelebihan berat. Untungnya [sebagai orang Indonesia, harus selalu bisa melihat untungnya] kami tiba untuk check-in dalam waktu yang cukup lengang, jadi dengan drama bagasi pun kami masih bisa bernapas sejenak sebelum boarding.

Berpacu dengan Waktu

Drama bandara yang paling sering terjadi mungkin yang berhubungan dengan mengejar waktu, memaksa kita sebagai pemeran utama drama ini berlarian ke sana ke mari. (Dari sudut pandang yang berbeda, saat saya melihat adegan orang-orang berlari di bandara, ada kalanya saya ingin berteriak menyemangati: Ayo! Kalian bisa!)

Drama kejar-kejaran yang paling berkesan mungkin pada suatu trip liputan ke Jogja. Saya bersama dua rekan kerja sudah duduk santai di ruang tunggu, sambil menunggu panggilan boarding. Saat boarding tiba, kami bertiga memasuki pesawat lewat jembatan belalai. Saya curiga saat melihat pesawat yang akan kami masuki adalah Wings Air, padahal tiket kami Lion Air. Ah, mungkin karena satu grup, jadi bisa pinjam-pinjaman pesawat. (Iya, ini pembenaran diri yang bodoh. Tolong, jangan pernah abaikan kecurigaan kamu.) Saat tiba di nomor bangku kami, sudah ada tiga orang duduk tentram di sana. Kepada pramugari terdekat kami bertanya. Dan… benar saja: Kami salah naik pesawat. Wings Air ini akan berangkat ke Lombok. Dan pesawat kami ternyata dipindahkan ke gate lain, yang berseberangan arah dengan gate yang kami datangi. Ternyata tadi sudah anda info tentang perpindahan ini, tetapi tidak satu pun dari kami yang mendengarnya. Jadilah kami bertiga berlarian ke arah gate untuk pesawat Lion Air menuju Jogja. Untungnya [tuh kan, untung lagi] kami bepergian dengan bawaan yang ringkas, masing-masing dengan satu tas ransel saja. Kecepatan kaki kami menyelamatkan kelalaian telinga kami.

Drama kejar-kejaran yang kurang epik mungkin pada perjalanan pulang Tegar dan saya dari Medan, setelah mengantarkan donasi barang dan bermain bersama-sama anak-anak di pengungsian pasca erupsi Sinabung. Dari Kota Medan kami bertolak ke Bandara Kualanamu menggunakan Rail Link yang super nyaman. Jadwal Rail Link yang terintegrasi dengan jadwal keberangkatan pesawat memungkinkan kami tiba jauh lebih awal dari waktu boarding; cukup untuk berkunjung ke toilet dan sarapan dengan santai. Sambil sarapan kami menjaga telinga tetap awas untuk segala informasi yang merambat lewat udara. Saat sarapan selesai, kami menuju nomor gate yang tercantum di tiket. Ternyata… sudah ada panggilan terakhir untuk Bapak Tegar dan Ibu Tere. *insert WHAT? face here* Kapan panggilan pertama dan keduanya? Sepertinya lagi-lagi terlewat dari telinga saya. Untungnya [gimana, sudah mulai bosan untung terus?]… gak ada untungnya sih, kecuali nama saya jadi menggaung se-Kualanamu.

Metal Detector

Drama nyangkut di pintu screening mungkin yang paling jarang terjadi di sekitar saya. (Atau lagi-lagi saya terlewat mendengarnya?) Saya sendiri baru sekali nyangkut di screening, karena membawa senjata tajam gunting dan cutter di tas ransel. Lupa deh kalau kedua benda itu gak bisa masuk kabin. Padahal rencananya saya masih mau membuat prakarya kecil untuk bahan presentasi di depan anak-anak Tana Paser. Tidak ada kesulitan berarti di pintu screening, saya hanya perlu merelakan kedua benda tajam itu jadi koleksi pengurus bandara.

Kangen-kangenan

Ini mungkin yang paling norak. Dan saya gak sedang ngomongin orang-orang yang displaying public affection di bandara. Saya lagi ngomongin orang-orang yang segitunya kangen jalan-jalan pakai pesawat udara tapi rupiah dan waktu belum mengizinkan sehingga datang ke bandara hanya untuk menghirup hawa jalan-jalan. Iya, saya ngomongin tentang saya dan beberapa teman yang pernah ke bandara hanya untuk duduk ngobrol di coffee shop sambil bawa buku bacaan masing-masing. Atau yang datang malam hari hanya untuk duduk-duduk di area “view point” sambil melihat-lihat kerlap-kerlip lampu di tubuh pesawat. Paling norak kan.

Kenapa jadi bahas drama di bandara? Karena kangen bandara. Gitu aja.

Biasa Karena Terbiasa

Hal-hal yang awalnya terasa luar biasa bisa jadi biasa saja kalau sudah terbiasa atau dibiasakan.

Kalau kemarin-kemarin kita terbiasa terpapar suhu udara di atas 34 derajat Celcius, maka bisa jadi lain kali kita terpapar hawa bertemperatur 34°C kita berkomentar: wes biasa.

Kalau sehari-hari kita makan nasi merah, maka sensasi ini-nasi-dikunyah-kok-gak-lumat-lumat-juga-sih jadi biasa. Lain kali kita makan nasi merah, gak terasa ada yang istimewa.

Kalau terbiasa di-PHP-in orang lain… ya, salahmu sendiri, kenapa dibiasain? Atau, ya salahmu sendiri, kenapa berharap?

Pilihan kita, mau terbiasa atau membiasakan sesuatu atau tidak.

Exclusively NOT For Everybody

…adalah frase yang saya dan teman-teman pelesetkan dari tagline suatu campaign sebuah brand minuman beralkohol yang ditangani kantor dulu. Kalau brand itu menyampaikan pesan “Exclusively For Everybody”; bahwa “area” eksklusif bisa diakses oleh siapapun yang ingin, kami justru menegaskan kalau yang namanya eksklusif memang tidak bebas untuk diakses oleh siapapun.

Maka sekali dua kali saya menggunakan frase itu untuk menolak oknum-oknum yang ingin memaksakan diri masuk ke lingkaran eksklusif tempat saya berada. Bisa saja saya bilang, “No, I don’t want you to join us,” tetapi masyarakat kita sampai 2015 sesudah masehi pun seperti belum siap menerima pernyataan frontal semacam itu. Apalagi, generasi baper saat ini.

Menjadi eksklusif memang hakikat suatu komunitas. Fakta ini pertama-tama harus kita hadapi; baik saat kaki kita berada di dalam lingkaran maupun — khususnya — saat kaki kita berada di luar lingkaran.

Tiap komunitas punya kadar ke-eksklusif-annya; ada yang sangat kental sehingga sangat tertutup kecuali untuk mereka yang sudah saling mengenal, ada yang sangat cair sehingga perkenalan pun mudah mengalir. Setidaknya ini yang saya pahami dari mampir ke beberapa komunitas akhir-sana-sini.

Ada komunitas yang terlihat terbuka untuk umum. Tapi begitu saya hadir di antara mereka, karena topik obrolan utama yang sedang mereka bahas menarik minat saya, saya tetap merasa terasing. Di luar topik obrolan utama, rupanya mereka lebih seru membahas topik-topik lain, dalam kelompok-kelompok kecil di belakang.

Lalu ada komunitas yang sejak awal kehadiran saya sudah terlihat sibuk dalam kelompok-kelompok kecil. Tapi begitu ada kursi kosong, mereka langsung menawarkan bergabung. Komunitas yang membuat saya merasa tidak terasing, karena kami berbagi minat yang sama di atas meja.

Mungkin itu kuncinya: berbagi minat yang sama. Berbagi, ya. Bukan sekadar punya minat yang sama.

Di Sini*

Mari duduk, berdiri atau terlentang di dekatku
Tidak peduli apa posturmu
Hanya ingin kamu bersamaku
Di sini

Tak perlu banyak kata
Mungkin sekadar bertatap mata
Itu pun sebelum salah satu dari kita memalingkan muka
Di sini

Aku akan berkeluh kesah tentang hidup
Sementara kamu melipat tangan, mulut terkatup
Bagiku begitu saja cukup
Di sini

Lalu giliranmu bercerita
Ternyata kita sama saja, penuh tanya
Dan kita sama saja, tak tahu jawabnya apa
Di sini

Mari ambil sepatu dan kenakan
Kita berjalan-jalan, dengan atau tanpa tujuan
Kita berangkat, bergandengan tangan
Dari sini

*untuk semua yang masih keliru menulis “disini”

Memahami Mimpi, Memahami Diri

Kemarin pagi adalah salah satu hari di mana saya bangun dari tidur dalam keadaan menangis, tidak hanya basah di mata tetapi juga sesak di hati. Saya ingat, sebelumnya, dalam mimpi, saya menyaksikan adegan yang terlalu buruk untuk jadi kenyataan. Saya ingat, dalam mimpi saya menunduk, mencoba tidak melihat adegan itu, akan tetapi mendapati diri menangis. Lalu saya terbangun.

Yang lebih memilukan adalah adegan yang saya lihat dalam mimpi kemarin seperti dejavu. Saya pernah melihat adegan serupa di mimpi sebelumnya. Adegan di mimpi kemarin seperti sekuel mimpi sebelumnya, seolah mengonfirmasi: Ya, yang lo lihat di mimpi sebelumnya beneran terjadi.

Pada mimpi-mimpi semacam itu saya ingin protes, entah kepada siapa: Kenapa gue mimpi begitu?

Pada bab Dreams di buku (atau mini ensiklopedia) Psych 101 karya Paul Kleinman, ada Sigmund Freud, Carl Jung, Robert McCarley-J. Allan Hobson, Calvin S. Hall, dan G. William Domhoff yang mencoba mengartikan mimpi.

Mengikuti teori psikoanalisis mimpi ala Freud, saya jadi bisa memilah komponen dalam mimpi tersebut: 1) Konten manifestasi, yaitu yang terlihat nyata, adegan dan tokoh yang saya lihat dalam mimpi; dan 2) Konten laten, yaitu makna yang tersembunyi, makna di balik adegan yang saya lihat, makna di balik kehadiran tokoh dalam mimpi.

Membaca teori dan analisa mereka tidak membuat saya benar-benar langsung memahami arti mimpi, tapi setidaknya saya jadi tau harus mulai dari mana untuk belajar memahami mimpi tadi. Dan belajar memahami diri sendiri.

Saya sering masuk ke “pit stop” dan bertanya kepada diri sendiri: Lagi ngapain sih lo? Mau ke mana sih lo? Kenapa sih lo? Dan sesering itu juga saya tidak menemukan jawaban atas pertanyaan saya sendiri. Buku Psych 101, dan Philosophy 101 dari pengarang yang sama, jadi investasi yang penting buat saya untuk belajar memahami diri.

Sekali lagi, membaca teori-teori psikologi dan filosofi tidak membuat saya langsung mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan, tetapi membuat saya tau dari mana saya harus memulai, untuk meladeni diri saya sendiri.

Breakfast At Tiffany’s

And I said what about Breakfast at Tiffany’s?
She said I think I remember the film
And as I recall I think, we both kind o’ liked it
And I said well that’s, the one thing we’ve got
-Deep Blue Something

Tiap hubungan, baik itu pertemanan, pekerjaan, apalagi percintaan, pasti punya Breakfast At Tiffany’s masing-masing — setidaknya satu hal yang menyatukan kedua pihak.

Kalau hubungan pekerjaan cukup jelas disatukan oleh tujuan bersama (atau tujuannya klien?). Walau kadang sering perjalanan untuk mencapai tujuan bersama tidak selalu satu jalan, bisa jadi berselisih jalan malah. Saat keadaan mulai ngaco, kita selalu bisa berhenti sejenak dan ngobrol baik-baik dan mengingat-ingat kembali kalau sebenarnya kita punya tujuan bersama. Selalu bisa. Belum tentu selalu dilakukan.

Hal yang menyatukan hubungan percintaan juga cukup jelas: bercinta. (Eh, bukan itu doang ya?) Dan walaupun tau-apa-sih-gue-soal-cinta-cintaan, survey membuktikan kalau Breakfast At Tiffany’s-nya urusan percintaan tergolong paling jelas; I want you and you want me, we’re gonna make a big family. Or a small one. Size doesn’t matter. Oh, wait, sometimes size does matter. Saya yakin kalian lebih ngerti soal cinta-cintaan dan hal-hal terkait till-death-do-us-apart lainnya.

Nah gimana dengan hubungan pertemanan? Gak ada tujuan bersama (kecuali konteksnya memang lagi merencanakan jalan-jalan bareng). Gak ada klien yang bisa diomongin di belakang. Gak ada urusan ranjang dan selangkang (kecuali memang kesepakatannya demikian). Gak ada cicilan yang ditanggung bersama. Kita bahkan gak pernah bikin janji sampai-ajal-memisahkan-kita sama teman-teman kita.

Menurut saya hubungan pertemanan adalah yang paling rentan di antara ketiga hubungan ini, karena kekurangan tujuan bersama. Tapi sekaligus yang paling subur. Kesamaan-kesamaan kecil saja sudah bisa memupuk dan menggemburkan hubungan, sehingga menjadi bunga dan buah yang bisa dinikmati sepanjang musim. Kalau cukup kuat melewati pancaroba, bunga dan buah ini malah bisa dinikmati sepanjang tahun.

Oh, lo tuh anaknya temennya omnya kakak iparnya sepupunya tetangga gue toh!

Loh, lo suka baca Murakami? Gue juga! Gue punya buku-bukunya lengkap.

Asli! Lagu-lagunya KoC emang paling pas buat road trip kaya gini!

Berawal dari six degree of separation atau kesamaan minat seperti ini saja ada kalanya sudah cukup sebagai pondasi pertemanan. Ada kalanya. Karena di lain waktu, kesamaan-kesamaan sebesar apapun (seolah kesamaan memang bisa diukur kecil besarnya), bisa jadi gak cukup sebagai bahan untuk merajut hubungan pertemanan.

Tiap hubungan, baik itu pertemanan, pekerjaan, apalagi percintaan, pasti punya Breakfast At Tiffany’s masing-masing. Tinggal bagaimana menjadikan Breakfast At Tiffany’s ini (tetap) relevan dalam suatu hubungan.