Perempuan Berambut Jingga

Suasana kantin yang semula riuh perlahan meredup saat Tia melangkahkan kaki ke meja untuk dua orang, tempat sahabatnya Elv duduk. Tidak hanya Elv yang terperangah melihat penampilan baru Tia rupanya.

“Rambut lo, lo apain?” Tanya Elv setelah cepat-cepat mereguk es teh manis, membilas mie ayam yang tengah dikunyahnya.

“Gue cat. Bagus kan?” Jawab Tia percaya diri sambil mengatur posisi duduknya.

“Tapi, kenapa?” Tanya Elv lagi, masih tidak percaya dengan pemandangan baru di depan matanya.

“Banyak tanya ah lo! Mending pinjemin gue catatan kelas tadi,” jawab Tia sekenanya sambil mengulurkan tangan meminta catatan.

Elv yang masih penasaran harus menahan diri dari bertanya lebih lanjut. Dia mengeluarkan lembaran mata kuliah yang telah dibubuhi coretan tangannya, lalu melanjutkan mie ayamnya.

Suasana kantin kembali riuh, dengan topik bisik-bisik terbaru: rambut jingga Tia.

Hari-hari berikutnya suara-suara di kantin masih menyebut-nyebut tentang rambut jingga Tia. Sementara Elv cukup puas dengan jawaban Tia tentang pilihan warna rambutnya. “Karena jingga menggambarkan kehangatan, Elv” jawabnya pagi tadi.

Sorenya, seperti seminggu belakangan, Tia bergegas meninggalkan kampus tepat di jam setengah lima. “Gue ngejar matahari duluan ya, Elv,” kata Tia saat bangun dari tempat duduk langganan di kantin.

“Gue boleh ikut?” sergah Elv sebelum Tia membalikkan badan.

“Eh?” Gerakan Tia terhenti. Lalu, setelah memroses permintaan Elv dalam pikirannya, Tia menjawab, “Boleh!”

Mereka pergi dengan motor yang dikendarai Tia ke tempat yang setahun belakangan dikunjungi Tia setiap hari. Satu jam kemudian mereka tiba di lokasi, dan Elv disuguhi pemandangan baru lagi. Sebuah komplek berisi beberapa rumah tempo dulu, masing-masing dengan banyak pintu. Sekilas seperti komplek kos-kosan atau rumah petak kontrakan, kecuali di sini terlihat beberapa orang berseragam seperti perawat berlalu-lalang.

“Ini tempat apa?” Elv tak kuasa menahan tanya.

Tia melepas helm, meraih sisir ungu dari dalam tas, menyikat dengan teliti, membentuk gelung pada ujung potongan bob rambut jingganya.

“Lo inget dulu gue pernah cerita tentang nyokap yang lagi jalan-jalan keliling dunia?” Tanya Tia sambil merapikan pakaiannya.

Elv mengangguk mengerti, tetapi raut wajahnya menandakan tidak.

Tia sekarang menatap wajah Elv. “Nyokap gue lagi jalan-jalan keliling dunia. Bukan dengan tubuhnya. Tapi jiwanya,” jawab Tia tersenyum.

“Yuk masuk!”

Di depan sebuah kamar mereka berhenti. Tia mengambil posisi duduk pada sebuah bangku di teras kamar, tepat di depan sebuah jendela lebar. “Lo jangan duduk di depan jendela ya,” permintaan Tia kepada Elv.

Elv menurut saja. Mengambil posisi duduk di lantai, sambil menebak-nebak apa yang dilakukan Tia saat ini.

Beberapa menit mereka duduk di posisi yang sama, tanpa kata. Lalu, setelah matahari tenggelam di sisi mereka dan langit berganti warna, mereka masuk ke dalam kamar. Di sana ibu Tia terlihat duduk di kasur memandang ke luar lewat jendela lebar.

“Kamu telat,” katanya saat melihat Tia masuk. “Tadi matahari terbenamnya bagus sekali. Belakangan ini senja lagi bagus-bagusnya. Lain kali datang lebih awal, supaya kamu bisa lihat juga.”

“Oh ya, seperti apa mataharinya, Bu?” tanya Tia antusias.

“Jingga sempurna,” jawab ibu dengan senyum merekah. Saat senyumnya memudar, ibu baru menyadari kehadiran orang lain di kamarnya. Seorang lelaki yang terlihat asing. “Dia siapa?” tanya ibu berbisik ke perempuan yang dikenalnya.

“Ini Elv, Bu. Sahabat Tia,” jawab Tia memperkenalkan Elv ke ibunya.

“Oh, kamu sahabat Tia ya. Berarti sahabat saya juga ya. Kalau kamu mau, besok boleh datang lebih awal juga, supaya bisa lihat matahari terbenam dari sini,” cerocos ibu.

Selesai menyuapi ibu makan malam, dan mendengarkan cerita ibu tentang menyelamatkan bayi yang hampir tenggelam di laut — cerita yang sama yang didengar Tia ratusan kali — mereka pamit ke perawat yang berjaga dan meninggalkan klinik itu.

Dalam perjalanan pulang, dalam diam Elv merunut mundur kepingan cerita yang dia dengar dari Tia, mulai dari hari rambut Tia dicat jingga.

***

Cerita ini juga di-publish di proyek kolaboratif The Saturday Stories.

#WriteEveryDamnDay

Tentang Bicara

image

Saya bukan belum jadi komunikator yang baik. Saya mampu menggunakan pilihan kata dan rangkaian kalimat untuk menyampaikan pesan, tapi tidak selalu mampu menyampaikannya dengan cara yang bisa diterima orang lain dengan baik.

Ada kalanya ketidakmampuan itu mengakibatkan sakit hati, pada pihak yang saya ajak bicara tentunya. Seburuk-buruknya cara saya menyampaikan pesan berujung pada sanksi moral berupa teguran. And I’m okay with that. I was wrong, you can correct me if I’m wrong.

Tapi kalau saya ditinggalkan dalam kebisuan; dalam diam yang ternyata tidak selamanya emas, saya mundur. If this is communication, then I disconnect.

Karena saya bukan cenayang yang mampu membaca pikiran. Haruskah saya mendekat dan mengajak bicara duluan? Atau haruskah saya memberi ruang dan menunggunya keluar dari kebisuannya?

Kalau teguran adalah hukuman untuk cara saya yang salah, maka kebisuan adalah hukuman untuk pribadi saya. And I plead not guilty. And if you disagree, you can always come and talk to me.

#WriteEveryDamnDay

Tentang Lingkaran

Lingkaran kecil
Lingkaran kecil
Lingkaran besar..

Lagu yang mengiringi gambar beruang atau panda pada masa kecil dulu makin relevan pada level social network. Dari lingkaran-lingkaran kecil terbentuk lingkaran besar. Atau setidaknya irisan lingkaran.

Seorang sahabat, sebut saja Dia-Yang-Punya-Seugalanya, punya kebiasaan baik mengenalkan teman-temannya satu sama lain. Saya dari lingkaran pekerjaan berkenalan dengan temannya dari lingkaran hobi. Kami menjadi irisan.

Dari Dia-Yang-Punya-Seugalanya saya belajar untuk membentuk irisan, dari lingkaran-lingkaran kecil tempat saya berada. Mula-mula kagok. Saat teman dari lingkaran satu bertemu dengan teman dari lingkaran lain dan mulai berinteraksi, saya kaget. Loh, kalian saling kenal? Kan lo yang ngenalin Ter. Oh iya ya..

Rasanya menyenangkan punya irisan lebih banyak dan lebih luas.

#WriteEveryDamnDay

Tentang Marilyn Monroe

Hari ini ikutan kelas melukis percobaan di kantor. Kelas coba-coba. Melukis dengan cat air pun coba-coba.

Objek lukisan kami adalah (fotokopian) lukisan wajah Marilyn Monroe, yang kalau dilihat-lihat sangat proporsional. Sangat memudahkan saat mengukur jarak antar elemen wajah pada proses membuat sketsa.

image

Setelah berkali-kali mengoreksi sketsa, akhirnya selesai juga. Tapi tugas belum tuntas. Saatnya bermain dengan cat warna. Memilih warna saja sudah jadi tantangan sendiri, apalagi menyapukannya dengan kuas di atas kertas gambar.

Bayangan tentang wajah sensual Marilyn Monroe mulai pudar. Perlahan berganti menjadi Marilyn Mason, David Bowie, atau — versi saya kata teman-teman lebih mirip — Suzanna.

image

Kira-kira satu setengah jam berusaha menggali potensi kreativitas visual.  Lalu kelelahan. Lelah berusaha dan lelah menertawakan diri. But I had fun.

Dengan caranya sendiri, kelas melukis ini terasa menyenangkan sekaligus menggelikan.

image

#WriteEveryDamnDay

Tentang Narasi

Sore tadi tau-tau terjebak dalam sebuah obrolan santai tapi serius di balkon kantor. Ceritanya lagi ada sesi Kelas Unggulan, di mana Paman Unggul membahas tentang advertising dan marketing dengan caranya yang woles.

Sesi kali ini sedang membahas tentang melatih kepekaan, karena kami yang kecemplung di industri digital marketing ini harus peka terhadap suara-suara audience. Salah satu simulasi melatih kepekaan ini berupa storytelling atas makanan yang kami cicip bersama: potongan basreng alias baso goreng dan potongan ada-break-ada-wafer impor. (Entah apakah metode ini benar adanya, atau bisa-bisaannya paman guru.)

Satu per satu (sebutlah) murid-murid paman guru diminta menerjemahkan rasa yang dikecap menjadi personifikasi: Jika basreng adalah manusia, maka manusia seperti apakah si basreng ini? Lalu, apa yang kira-kira terjadi dalam hidup si wafer, yang menjadikannya seperti saat ini?

Yang menarik, cerita tentang basreng dan wafer itu justru lebih banyak mengukap pribadi murid yang menyampaikannya. Refleksi diri lewat medium cerita, respon terhadap rasa yang dialami lewat mencicip si basreng dan si wafer. Diri yang terwakili lewat narasi.

#WriteEveryDamnDay

Tentang Imitation Game

image

enigma
[uh-nig-muh] 
noun, plural enigmas
1.a puzzling or inexplicable occurrence or situation; 2. a person of puzzling or contradictory character

Pertama-tama saya harus mengaku kalau saya penggemar Benedict Cumberbatch. The Imitation Game got my attention firstly because it has the Cumberbatch factor. Kalau Alan Turing diperankan oleh aktor lain, mungkin saya gak sempat membaca rangkuman plotnya dan hanya memandang film ini sebagai film bertema Perang Dunia II.

Film ini mengingatkan saya pada The Monument Men; melihat sejarah PD II dari sudut pandang yang berbeda. Kalau The Monument Men dari sisi seni, sementara The Imitation Game dari sisi sains.

Setelah mengikuti cerita yang diangkat dari kisah nyata selama 114 menit, saya jadi ragu: manakah tokoh yang lebih enigmatic — Benedict Cumberbatch atau Alan Turing?

Cumberbatch menghidupkan tokoh Turing sedemikian rupa sehingga saya bisa yakin kalau setiap ekspresinya adalah benar ekspresi Turing pada masanya. Setiap kegagapanya saat tertekan, caranya melindungi “Christopher” seolah mesin itu adalah sebagian dari dirinya, ketidakpahamannya akan cara-cara manusia pada umumnya berinteraksi (Apa itu humor? Apa itu flirting?), pemilihan kata dan kalimat yang lugas (yang terlalu sering disalahartikan sebagai kesombongan), kegamangannya menilai diri sendiri (Am I a war hero? Am I a criminal?)

Nama Alan Turing, yang tidak pernah saya dengar sebelumnya, menjadi tokoh yang terasa dekat secara emosional. Yang membuat saya terharu dan ingin memberinya pukpuk sambil bilang: you are not a bad person, bro.

Terlepas dari latar belakang PD II, kisah Alan Turing ini sebenernya ujung-ujungnya tentang cinta. Alan ke Christopher. Alan ke Joan. Joan ke Alan. Dengan cara masing-masing.

Or is it just me romanticising.

#WriteEveryDamnDay

Tentang Kedekatan

Menurut artikel yang saya baca di sini, kita pada dasarnya bisa jatuh cinta pada siapa saja. Dengan kondisi tertentu, tentunya.

Pada eksperimen yang dilakukan, mengikuti teknik yang dijabarkan psikolog Arthur Aron, penulis menyatakan:

We all have a narrative of ourselves that we offer up to strangers and acquaintances, but Dr. Aron’s questions make it impossible to rely on that narrative. Ours was the kind of accelerated intimacy I remembered from summer camp, staying up all night with a new friend, exchanging the details of our short lives. At 13, away from home for the first time, it felt natural to get to know someone quickly. But rarely does adult life present us with such circumstances.

Accelerated intimacy.

Ada masanya saya menikmati kedekatan dipercepat semacam itu. Kami berada pada momen saling menceritakan diri dari satu hal ke hal lain. Sampai kami tiba di titik ini-awalnya-gimana-deh-kok-obrolannya-bisa-sampe-sini. Lalu rangkaian momen semacam itu perlahan-lahan pudar. Pertemanan modus bubar. Kami saya hampir jatuh cinta.

Momen kedekatan untuk saling bercerita, saling membuka diri, rasanya semakin lama semakin langka. Kecuali pada pertemanan yang tulus. Or it’s just me. (Yang punya pengamanan berlapis sebelum orang asing bisa masuk ke ruang tamu pribadi. Yang jika merasa nyaman dengan orang asing itu, gak akan sungkan membukakan ruang-ruang lainnya. Yang jika merasa gak nyaman dengan orang asing itu, gak akan sungkan mengusirnya lalu memasang papan pengumuman “Dilarang melintas.”)

Saya pikir momen kedekatan itu seperti halnya kejahatan: terjadi bukan hanya karena ada niat dari pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah.

#WriteEveryDamnDay

Tentang Tin Man

Tin Man, atau Tin Woodman, adalah katakter manusia robot penebang pohon di dongeng Wizard Of Oz. Jangan tanya seperti apa dongengnya, karena saya pun baru sedang membaca ceritanya.

Tokoh Tin Man mendadak jadi menarik saat Astrid mengajak berduet memainkan lagu Tin Man yang dibawakan America (nama band, bukan nama negara) di intimate gig You & Me Tour 2015-nya Gabriel Mayo. Saya, yang sebelumnya tidak tau tentang lagu itu, menyetel ulang lagu tersebut sampai puluhan kali demi meresapi musik dan liriknya.

Maka lagu Tin Man jadi salah satu lagu yang mengajak saya menyimak bentuk karya lain yang jadi inspirasi di balik lagu tersebut; kali ini dalam bentuk buku. (Wizard Of Oz juga hadir dalam bentuk film.)

Di buku, saya baru bertemu dengan tokoh Tin Man ini. Dan mulai memahami mengapa liriknya demikian:

But Oz never did give nothing to the Tin Man
That he didn’t, didn’t already have

Bonus: versi cover Tin Man oleh Aestes (Astrid + Tere) bisa disimak di sini.

#WriteEveryDamnDay