Para-Para

Sekali lagi saya dikejutkan oleh pertanyaan seorang teman terkait Bahasa Indonesia. Teman yang sama yang menanyakan cara menulis kutipan di dalam kutipan.

Hari ini dia bertanya tentang kata “para-para”.

para-para
n 1 anyaman bambu dsb tempat menaruh perkakas dapur; pagu; 2 rak untuk menjemur ikan; 3 rak atau jala untuk menaruh barang-barang (di kereta api)

~sumber: Kateglo

Wah! Nambah kosakata baru nih.

Dugaan sementara, teman saya itu sedang menulis (atau mengedit) artikel tentang proses pengolahan kopi. Wajar rasanya kalau kata para-para muncul dalam konteks ini.

Agak rumit menemukan referensi foto untuk menggambarkan bentuk para-para yang digunakan petani kopi, atau untuk menggambarkan bentuk benda-benda sesuai definisinya. Saat googling kata ini, hasil pencarian justru merekomendasikan sejenis joget. Kecuali satu artikel dari tahun 2010 ini. Walaupun dalam resolusi kecil, foto ini cukup mejelaskan bentuk dan fungsi benda bernama para-para dalam konteks proses pengolahan kopi.

Kontrol pasca penen juga tidak luput dari perhatian. Jika sebelumnya para petani biasa menjemur biji kopi di lantai atau di atas tanah, kini mereka menjemur biji kopi dengan menggunakan para-para (bambu) atau menggunakan alas semen. Teknik penjemuran ini dilakukan untuk menjaga kualitas kopi agar tidak beraroma tanah mengingat sifat kopi yang mudah menyerap bau.

~sumber: WWF

para-para

Yang menarik, “para-para” ini bisa masuk ke kategori “rak”. Kalau selama ini kita umumnya menggunakan kata “rak” saja, maka kita bisa merujuk pada rak yang berbentuk anyam, yaitu yang saling tindih-menindih atau silang-menyilang, sebagai “para-para”. Definisi ketiga justru dengan jelas menanamkan gambaran bentuk “para-para” di kereta.

Jadi, lain kali naik kereta bisa bilang, “Biar gak menghalangi jalan, tas kamu ditaruh di para-para saja.” :D

 

Salam,

Belajar Bahasa Indonesia menyenangkan kan ;)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles