Persaudaraan Perempuan yang Positif

Terlahir sebagai anak perempuan satu-satunya di keluarga, saya harus merengut karena iri melihat kedekatan teman-teman dengan kakak/adik perempuannya sejak jaman SD. Peluang kedekatan dengan kakak-kakak sepupu perempuan juga tidak terbangun karena jarak yang lebih dan jam main yang kurang. “Kayanya enak punya saudara perempuan, bisa saling pinjam baju,” begitu pikir saya versi bocah.

Seiring waktu saya belajar bahwa persaudaraan perempuan lebih dari sekadar perkara bertukar isi lemari tetapi juga isi pikiran. Saya beruntung berteman dengan beberapa orang di lingkaran pertemanan dekat yang bisa saya anggap saudara perempuan sendiri. Saya mendapat porsi persaudaraan perempuan dan persahabatan dalam satu paket.

Lalu pada Minggu sore lalu saya mengikuti kegiatan obrolan santai tentang Positive Sisterhood yang digerakkan oleh Kolektif Betina dalam rangkaian 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, inisiatif #OrangeTheWorld UN Women Indonesia. Di kegiatan ini empat perempuan dari Kolektif Betina dan beberapa peserta obrolan berbagi pengalaman dan pendapat mereka tentang membina persaudaraan perempuan yang asyik di tengah masyarakat yang masih saling mengadu perempuan dengan perempuan lainnya.

(Mendengar cerita-cerita para perempuan–dan lelaki–di sore itu, saya langsung teringat pada seorang sahabat sekaligus saudara perempuan yang telah berbagi kebersamaan selama tujuh tahun terakhir. Kepada dia, saya dapat berbagi pikiran bahkan yang “tergelap” sekalipun. Thank you, sist. You know who you are.)

Iya juga ya. Masyarakat umum, media dan budaya populer ternyata masih lebih senang mempromosikan persaingan antar perempuan daripada persaudaraan perempuan. Istilah cat fight yang menempel pada perempuan. Mean Girls. Kampanye media tentang Naomi Campbel versus Tyra Banks di kancah top model berkulit hitam. (Kartika Jahja, salah satu dari Kolektif Betina, bilang seolah hanya boleh ada satu perempuan di posisi top model berkulit hitam, padahal kenapa tidak keduanya sekalian.) Emak-emak dasteran versus emak-emak dandan. Ibu rumah tangga penuh waktu versus ibu bekerja. Cewek feminin versus cewek tomboy. Dan segala tindakan bully sekecil apapun yang dilakukan perempuan kepada perempuan lainnya.

2016 hampir selesai. We need to stop competing and start embracing. Bertindak aktif untuk menciptakan kondisi yang nyaman dan aman untuk setiap keunikan perempuan; kondisi saling mendukung bukan saling menghakimi. Ada amin di sini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles