Pintu Teater Satu Telah Dibuka

Buat saya menonton di bioskop itu seperti ibadah: lakukan menurut kepercayaan masing-masing. Dan, kepercayaan saya dalam hal ini, nonton bareng menyenangkan, tapi sendiri lebih baik.

Ada sensasi yang menyenangkan saat menonton sendiri di bioskop. Memasuki bioskop yang semerbak harum popcorn, melihat poster film-film yang sedang tayang atau akan tayang, memilih seat, menerima tiket yang telah dirobek petugas penjaga pintu teater, menyusuri tangga menuju seat pilihan, bertanya dalam hati penonton seperti apakah yang akan ada di kiri/kanan saya, menonton trailer film-film yang akan datang, detik-detik layar dibuka lebih lebar dan lampu dipadamkan, mengunyah popcorn bahkan sebelum film dimulai, menandaskan minuman bahkan sebelum film mencapai klimaksnya, atau tidak makan/minum sama sekali selama di dalam bioskop. Semua jadi rangkaian pengalaman dua jam yang menyenangkan.

Ya.. tidak selamanya menonton di bioskop menyenangkan sih. Faktor perilaku penonton yang tidak pada tempatnya, atau faktor gangguan teknis penayangan film bisa jadi merusak mood yang sudah dibangun sejak memasuki pintu bioskop. Kalau sudah begini, saya cuma bisa menghibur diri : ya udahlah, Ter, namanya juga fasilitas umum.

Yang paling menyenangkan dari menonton di bioskop melakukan apapun sendiri adalah saya bebas memutuskan apa yang saya mau, atau membatalkan apapun yang sempat saya mau itu, tanpa harus berkompromi dengan kemauan atau ketidakmauan orang lain.

Ya.. kalau sudah begini sih, ego yang angkat bicara. Dududududu..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *