Putih Merah Hidup

Kemarin topik #jamansd berkeliaran di timeline akun twitter saya. Hmm.. Jadi nostalgila.

Saat saya ingat-ingat lagi, rupanya banyak juga kejadian berkesan selama masa 6 tahun itu yang terarsip rapi di laci memori. Malah, kalau boleh dibilang, masa sd adalah masa keemasan; smu keperakan dan smp keperungguan.
Jaman sd saya mengambil setting di Jakarta antara tahun 1989-1995. Saya bersekolah di sebuah SD swasta katolik dekat rumah.

Hal pertama yang saya ingat tentang jaman sd adalah rapor, dengan angka ranking yang melipat ganda (dengan sendirinya) setiap tahunnya. Kelas 1 saya ranking 1, kelas 2 ranking 2, kelas 3 ranking 4, dan seterusnya.. You do the math!

Saya juga ingat bakat ‘seksi keamanan’ yang mulai ditunjukkan sejak jaman sd. Pada salah satu kesempatan, saya pernah ‘memberi pelajaran’ kepada bully di kelas; membentaknya sambil memukulkan penggaris papan tulis (yang berbentuk busur atau segitiga, sepertinya) ke meja di depan.. sampai penggaris itu patah. Dari reka adegan di memori, sepertinya saat itu saya berada di ruang kelas 2. Hmm.. Gak heran deh kalau di tahun-tahun (belasan, puluhan) berikutnya mereka bilang saya galak.

Dari 6 wali kelas yang pernah jadi ‘orang tua kedua’ saya, ada 2 yg paling berkesan. Salah satunya wali kelas 3A, Ibu Eka. Yang membuatnya istimewa adalah sosoknya yang ayu, pintar, ramah, tegas dan mandiri; definisi ‘guru ideal’ di kamus saya. Mungkin pengaruh muse inilah yang akhirnya membentuk cita-cita tulus pertama saya menjadi seorang guru — selain cita-cita ‘delusional’ menjadi detektif swasta, tentunya.

Suatu hari di tahun-tahun pertama bekerja, saya bertemu kembali dengan Ibu Eka — yang pada saat itu telah mengajar kelas menengah pertama di sekolah yang sama. Dan aura ‘guru ideal’nya masih terasa. Dan, yang lebih penting, dia masih ingat saya! (“Kamu seangkatan Inge kan ya?”) *biarpun figuran, teuteup terharu :D

Sosok kedua yang membuat jaman sd terasa menyenangkan adalah Ibu Clara, wali kelas 5A. Waktu itu Ibu baru pindah tugas ke SD kami; kelas 5A jadi kelas pertama yang diasuhnya. Sosoknya keibuan, kalem dan teliti. Hukuman andalannya: cubit pantat! Eh..saya pernah kena jurus cubit pantatnya gak ya?

Saya dan kelompok belajar waktu itu sering main ke rumah Ibu yang kebetulan bertetangga dengan rumah Icha yang dijadikan ‘markas besar’. Yang menyenangkan kalau ke rumah Ibu, tak lain dan tak bukan yah.. camilan gratis! Sebagai ‘bayaran’, Ibu meminta kami bantu mengoreksi hasil ulangan sesuai kunci jawaban. Bayangkan perasaan saya saat itu: mengoreksi hasil ulangan teman sendiri! Jadi bocah-bocah pertama yang tau hasil ulangan yang baru akan dibagikan besok! Oh, betapa sok jumawa-nya saya! Tapi dari sana saya jadi ngerti bahwa guru pun mengerjakan PR usai sekolah.
Oh ya, kelompok belajar saya beroperasi di tahun ke-5 dan ke-6. Kami punya jadwal kopdar tetap: jam 1:15. Tempat ditentukan berdasarkan mufakat ‘cap tunjuk’ atau siapapun yang sukarela ‘open house’. Umumnya sih kami efektif ngerjain PR selama 1-2 jam. Sisanya, ekstrakurikuler: main karet, dampu, sepedaan, nyodok pohon mangga tetangga, nintendo atau sega, baca manga atau nonton film kungfu dari laser disc.

Masih banyak memori ‘perintilan’ dari masa keemasan saya: Ikut paduan suara dan manggung di Bentara Budaya Jakarta, menyanyikan lagu tentang guru dan jemari. Jadi tau kalau cicak panik, dia mutusin ekornya dan kabur, gara-gara teman kaget ketiban cicak. Ekspresi imut-imut Wima, teman sekelas yang tuna rungu, saat minjam serutan sambil bilang ‘ngutan’. Menjelaskan arah mata angin menggunakan tubuh sebagai alat peraga (“kepala gue utara, tangan kiri timur, kaki selatan, tangan kanan barat”). Duduk bertetangga dengan duo Herry dan Jeffry yang kalau bercanda saling meper ingus (yang kemudian jadi olok-olok massal saat kami reuni). Jadi tau arti ‘sontoloyo’ yang sering di-serapah pak guru kelas 4 (Oh teacher, please don’t do this at school!). Keluyuran sampai magrib atas nama Hari Anak Nasional, dan pulang ‘disemprot’ si Mama. Cinta monyet (pada teman sekelas/tetangga). Cinta monyet season 2 (pada teman jenius yang sekarang menjadi dokter). Misi kudeta buku-harian-bersama ‘gank’ lain (Tiap kali ingat ini saya dilema, antara merasa bersalah dan merasa bersemangat. Maaf ya, kawan). Praktek olahraga di lapangan belakang Rumah Sakit Jiwa (sambil berbaur dengan para penghuninya). Langganan makan siang nasi kuning selama masa pelajaran tambahan jelang Ebta & Ebtanas. Tamasya perpisahan di Cisantana, Sukabumi… The list goes on.

Banyak yang terjadi di dalam dan di luar kelas pada jaman saya berseragam putih-merah. Dan enam tahun bukan waktu yang singkat untuk membentuk karakter awal saya.

So.. Here I am. This is me.

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles