Quit. Let Go.

“All the art of living lies in a fine mingling of letting go and holding on.” ~Havelock Ellis

Salah satu posting tinybuddha.com yang saya baca di twitter & newsletter-nya.

Kebetulan, saat ini saya juga sedang baca The Dip-nya Seth Goding. Guess what The Dip says? The extraordinary benefits of knowing when to quit (and when to stick).

Serupa. Tak sama. Relevan dengan hal-hal yang saya alami, yang baru saya pikirkan belakangan ini.

Saya bukan orang yang mudah melakukan dua hal ini : letting go & knowing when to quit. Tidak mudah loh, bukannya tidak bisa.

Dimulai dari hal kecil. Hal semacam naksir. Atau patah hati. (Disclaimer : besar kecilnya ukuran naksir atau patah hati tergantung dari siapa yang melihatnya ya..)

Dalam hal naksir, saya mengalami kesulitan pada ‘to quit’. Padahal sadar diri kalau saya naksir pacar orang. Atau naksir orang yang cuma manfaatin saya. Pilihan ‘to stick’ itu lebih romantis, lebih menjanjikan saya dengan harapan. Siapa tau dia itu jodoh lo. Bisa aja dia sekarang pacaran sama orang lain tapi berjodoh sama lo. Gak kok, dia gak lagi manfaatin lo. Itu cuma caranya untuk deket sama lo. My sister and my brother, kalau kamu pernah membodoh-bodohi diri sendiri/orang lain dengan ide seperti ini.. say amen with me!

Dalam hal patah hati, saya mengalami kesulitan pada ‘letting go’. Khususnya saat realitas berkonspirasi dan menyatakan kepada saya : you can never be his woman. Pilihan ‘holding on’ itu lebih heroik, lebih menggoda. Cinta kan gak harus memiliki. Try say that again..

Tapi, ah, naksir & patah hati itu hal kecil. Sepele. *pasang tameng, siap-siap menghadapi aksi protes kalian*

Ada hal lebih besar daripada naksir & patah hati yang mengganggu pikiran saya akhir-akhir ini. Yang menghadapkan saya pada pilihan : letting go or holding on; to quit or to stick.

Hal lebih besar itu bernama : pekerjaan.

2 comments

  1. Semangat Shia! :D *keren juga manggil shia* ah terlalu keren :))
    Sepertinya tak ada waktu tersisa untuk hal2 sepele itu yah. Siap2 aja kalo pekerjaan lo udah mulai tenang, misalnya lo naek pangkat gitu. nah lo bakal punya waktu lebih buat hal2 sepele itu *ngomong apa sih guwe?* -__-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles