Sepuluh tahun waktu yang cukup lama untuk dijalani berdua saja di rumah ini.

Tidak susah untuk mencintainya. Pertama kali bertemu aku langsung jatuh suka. Suaranya, gerak-geriknya, dan energi positif yang dipancarkannya.

Apalagi dia koki yang hebat. Selera makananku memang agak ‘ajaib’, tapi dia bisa menyulap masakan biasa jadi istimewa.

Yang paling kusuka adalah saat kami berada di taman di dekat rumah. Sekadar berjalan santai, tanpa banyak bicara.

Tapi sekarang aku lelah. Tak sanggup lagi berjalan sore-sore di taman.

Kelak aku tiada, dia harus menemukan penggantiku. Harus! Sulit membayangkan dia sendirian, tanpa pendamping.

Dan dia akan selalu jadi sahabat terbaikku.

“Guk!”

One thought on “Sahabat Terbaikku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *