Sawatdi Kha, Thailand

Sawatdi adalah kalimat yang diucapkan saat memberi salam di Thailand (wai). Kalau kamu perempuan akhiri dengan “kha”, kalau kamu lelaki akhiri dengan “khrap”. Walaupun pada praktinya, khususnya di kalangan orang lokal, cukup dengan penggalan “kha” atau “khrap”.

Kalau pada penambahan usia sebelumnya saya menghadiahi diri dengan bertandang ke negeri Paman Ho, tahun kemarin saya membawa diri lost in translation ke Thailand. (Dari perjalanan kali ini saya mendapati fakta bahwa wajah saya memang tipikal oriental Asia Tenggara. Selama perjalanan di Vietnam saya sering disangka orang lokal; begitupun selama di Thailand.)

Untuk tips dan trik traveling ke Thailand, silakan cari-cari di travel website dan travel blog di luar sana, karena di sini saya hanya akan cerita tentang hal-hal menarik yang saya temui selama empat hari di Bangkok dan empat hari di Chiang Mai.

Puas-puasin Makan di Thailand

Saya percaya “eat like locals” adalah koentji untuk menikmati kuliner terbaik di suatu tempat. Saya berusaha mencari tempat makan yang banyak orang lokalnya, atau setidaknya minim turis, untuk mendapatkan cita rasa khas lokal. Urusan komunikasi memang jadi agak tricky; kalau bahasa Thai yang saya catatkan di notes dan hafalkan gagal, maka bahasa tubuh jadi bahasa negosiasi. Umumnya saya tinggal tunjuk gambar di menu untuk memesan, dan bilang “Ne tao rai” untuk bertanya berapa harganya.

Bangkok terkenal dengan street food-nya. Dan bukan sekadar tourism marketing gimmick, jajanan di jalanan Bangkok memang nikmat!

Dari jajanan sate-satean di gerobak…

Solo travel Bangkok street food 1

Solo travel Bangkok street food 2

…jus buah yang segar…

Solo travel Bangkok street food 3

…entah kue apa ini yang garing di luar, lembut dan semriwing di dalam…

Solo travel Bangkok street food 4

…sampai warung tenda di pinggir jalan, atau restoran rumahan di gang.

Solo travel Bangkok eat like locals 1

Solo travel Bangkok eat like locals 2

Dan condiment minyak ikan, acar cabai hijau, atau minyak cabai yang menambah rasa gurih pedas segar…

Solo travel Bangkok eat like locals 3

Belum lagi mango sticky rice! Demi seribu wat di Thailand, MANGO STICKY RICE!

Solo travel Bangkok eat like locals 4

For the records, saya sebelumnya selalu berpikir paduan mangga dan ketan gak bakal cocok. Begitu saya coba sendiri, seporsi mango sticky rice (yang harganya bahkan lebih mahal dari pada seporsi makan malam di Bangkok) ludes dalam hitungan menit. Mangga Bangkok punya tekstur yang berbeda dari mangga yang selama ini saya makan, dan tekstur ini melengkapi tekstur dan rasa ketan diguyur saus santan dan ditaburi cacahan kacang. Eeenaaak!

Chiang Mai pun gak kalah memanjakan lidah saya dengan menu makanan yang sama nikmat, dan dengan harga yang jauh lebih murah daripada harga di Bangkok. Apalagi saat tiba Chiang Mai, saya mendapati Sunday Night Market di dalam Old City…

Solo travel Bangkok eat like locals 6

Solo travel Bangkok eat like locals 7

Belum lagi pilihan menu babi di sana, yang tampil sederhana tapi dengan rasa spesial. Kapan lagi makan siang daging babi dan telur setengah matang dengan total kerusakan 40 Baht. Enam. Belas. Ribu. Rupiah.

Solo travel Bangkok eat like locals 5

Bangkok dan Chiang Mai juga dijamuri kedai-kedai kopi fancy, selain kedai es kopi di pasar yang memang sudah lama ada.

Coffee shop in Thailand 1

Coffee shop in Thailand 2

Coffee shop in Thailand 3

Coffee shop in Thailand 4

Oke. Cukup wisata kulinernya.

Transportasi dan Lalu Lintas

Sebenarnya tujuan awal liburan saya ini Chiang Mai. Namun setelah ke sana ke mari mencari info, khususnya dari seorang teman yang baru saja numpang hidup di Thailand, saya mempertimbangkan untuk mengintip Bangkok juga.

Sebelumnya saya sering mendengar orang medeskripsikan Bangkok sebagai “Ya, mirip lah sama Jakarta.” Setelah menghabiskan empat hari di saya kok ya saya ingin mengajukan pendapat yang berbeda. Jakarta lah yang mirip sama Bangkok, tapi dengan lalu lintas dan disiplin pengguna jalan yang kacau. Jakarta traffic is like a twisted version of Bangkok.

Kadang halte busnya hanya sekadar papan keterangan nomor bus yang melintas. Tapi semua berdiri teratur dekat papan itu, dan tanpa perlu rebutan naik turun bus.

Bangkok traffic 4

Penyempitan jalan juga ada di mana-mana (di Bangkok) kok.

Bangkok traffic 3

Kadang ada kenek bus yang sepertinya terlalu lelah, seperti bapak ini. Kadang ada bus yang tidak menarik biaya penumpang (entah atas kebijakan apa). Kadang ada bus yang menurunkan penumpang sebelum sampai titik akhir rutenya, karena bapak sopir dan kenek sepakat untuk putar balik.

Bangkok traffic 2

Dan jangan salah, sopir tuktuk ngehe yang motong jalan seenak udelnya juga ada kok. Belum lagi macet di ruas-ruas jalan utama, seperti dari Bandara Don Mueang ke tengah kota Bangkok, dan di beberapa kawasan wisata.

Bangkok traffic 1

Perbedaanya dengan lalu lintas di Jakarta TERDENGAR jelas. Jarang sekali — dan maksud saya jarang banget — terdengar suara klakson bertalu-talu. Selama empat hari di Bangkok seingat saya hanya satu kali saya mendengar suara klakson. Itupun bukan koor klakson, tapi solo klakson. (Mungkin orang Jakarta?)

Jika di Bangkok ada banyak pilihan transportasi, pilihan transportasi di Chiang Mai cukup terbatas — mungkin karena lebih banyak yang mengandalkan kendaraan pribadi. Mekanisme transportasi umum terbatas pada tuktuk dan songthaew. Songthaew sendiri tidak memiliki rute pasti, melainkan berdasarkan kesepakatan pengemudi dan penumpang; begitupun ongkosnya, berdasarkan kesepakatan bersama. Suatu kali saya naik songthaew dari pasar ke arah Old City; tawar menawar disepakati pada angka 30 Baht. Lalu dalam perjalanan, sopir kembali mengambil penumpang yang kebetulan searah. Hampir mendekati titik tujuan saya, si sopir malah menawar turun harga ongkosnya, “You, 20 Baht, okay.” OKAY!

Kearifan Lokal

Itinerary Bangkok yang awalnya sekadar numpang-lewat-saja-deh jadi melar karena kebetulan ada festival seni yang memungkinkan untuk dikunjungi: Noise Market 5 di Museum Siam. Komunitas Noise Market mendeksripsikan festival ini sebagai ajang untuk aktivitas DIY, indie music, art, craft, decor, printing, writing dan underground film.

Menarik karena saya jadi ingin tau bagaimana orang lokal mengapresiasi kegiatan nyeni seperti ini. Dan ternyata menyenangkan. Tiba di area outdoor Museum Siam saya disambut hamparan lampu-lampu gantung, tenda-tenda para pengrajin muda, tenda-tenda camilan yang terlihat menggiurkan, dan sayup-sayup musik dari area panggung. Suasana ini terasa familiar. Dan makin terasa familiar saat tak sengaja saya mencuri dengar obrolan keluarga Indonesia di dekat tempat saya duduk sambil menyeruput minuman.

Noise Market 5-2

Noise Market 5-3

Lost in Translation (?)

Sebelumnya, rekor terlama saya berada di negara yang bahasanya tidak saya mengerti hanya sampai empat hari di Vietnam. Rekor ini pecah di Thailand dengan tujuh hari berada di dua kota yang cukup awam dengan kunjungan turis mancanegara.

Namun, seperti yang saya sebut di awal, wajah tipikal Asia Tenggara sub-genre oriental ini tidak banyak menolong, malah sering kali bikin canggung; saya sering kali dikira orang Thai. Begitu saya buka mulut dan mengeluarkan kalimat dalam bahasa Inggris, reaksi orang Thai cukup beragam rupanya.

“Where you from?” Ini yang paling sering saya dengar. Saat saya sebutkan kalau saya dari Indonesia, ada kalanya mereka menanggapi “You look like Thai, that’s why I talked to you in Thai.” It’s okay, khun. Ada juga khun penjual jajanan yang malah mengeluarkan jurus bahasa Indonesianya. “Forty Baht. Empat puluh.” Cie khun bisa bahasa Indonesia.

Mayoritas warga Bangkok enggan (atau segan?) meladeni komunikasi dalam bahasa Inggris. Pertama kali saya menunggu bus di halte, saya coba bertanya kepada khun yang kelihatannya mahasiswa (mestinya bisa bahasa Inggris dong?), dia malah dadah-dadah ke arah kamera. Yang meladeni saya berbahasa Inggris justru tante-tante yang kebetulan mau ke pasar di area chinatown juga. Di lain kesempatan, pada suatu rumah makan di pinggir jalan saya mengambil tempat duduk di meja untuk empat orang. Lalu datanglah dua khun mencari tempat duduk. Saat mereka menghampiri meja saya dan ngoceh dalam bahasa lokal (saya berasumsi mereka meminta berbagi meja), saya jawab dengan “You can join me if you want to.” Mereka malah balik kanan grak dan mencari meja lain yang juga bisa ditebengi. Huft. Yang paling sulit adalah berkomunikasi dengan sopir Uber. Saya menginfokan posisi saya dalam bahasa Inggris, dia ngoceh dalam bahasa Thai. Saya cuma pasrah “Please try to find me, okay.”

Pada hari keempat saya berpindah dari Bangkok ke Chiang Mai. Di bandara saya sempat melihat warga Indonesia (terlihat dari passport hijaunya) dan mengajak ngobrol. Waktu itu saya baru ngeh betapa sepinya tiga hari sebelunya; betapa minimnya komunikasi verbal dengan manusia di sekitar saya.

Seperti direkomendasikan di beberapa website travel, Chiang Mai lebih akomodatif terhadap turis, khususnya dalam hal berkomunikasi. Mayoritas warga di sana cukup ceriwis meladeni komunikasi bahasa Inggris. Dari pengelola hostel, pengelola rental sepeda, tukang pijat, sampai sopir songthaew. Hanya satu dua yang mengeluarkan jurus bahasa Tarzan.

Menginap di kamar dorm hostel juga jadi keputusan yang baik untuk kesehatan jiwa: saya jadi bertemu beberapa solo traveler yang bisalah diajak ngobrol basa-basi. Punya kenalan (temannya teman) di Chiang Mai yang bisa diajak makan malam bareng juga seru. Saya bertemu teman-temannya dan ngobrolin hal-hal penting (Hah? Westlife lo bilang oldskul? Gimana NKOTB?) sampai yang kurang penting (sebut saja teori konsprasi dengan muatan kearifan lokal). Atau, mencuri dengar obrolan dua anak muda Indonesia saat antri masuk suatu  resto yang direkomendasikan Foursquare (Foursquare makin relevan saat bepergian, don’t you think?). Pertanyaan “Kalian Indonesia?” berlanjut dengan ngobrol puas berbahasa Indonesia sambil berbagi makan di satu meja.

Jadiii…

Bangkok dan Chiang Mai untuk solo traveler itu:

  • Sudah banyak info dan rekomendasi tentang dua kota ini di website dan blog travel, jadi mestinya mempersiapkan perjalan lebih mudah.
  • Kendala bahasa pasti akan terjadi (khususnya di Bangkok); coba persiapkan diri dengan contekan bahasa Thai yang kemungkinan akan sering kamu gunakan (misal: Harganya berapa? Toilet di mana? Terima kasih.) Pelajari juga angka, khususnya satuan hitungan uang.
  • “Investasi” pada SIM card lokal dengan paket data yang disesuaikan dengan waktu kunjungan. Berteman baiklah dengan Chrome, Google Maps, dan Foursquare.
  • Sempatkan jalan kaki; peluang untuk melihat hal-hal unik lebih besar saat kaki kamu menjejak tanah. Pakai sepatu dan sendal jepit yang nyaman di kaki (walaupun mungkin gak nyaman di mata).
  • Pilih hostel. Kamar dorm. Kemungkinan ketemu sesama solo traveler, untuk sekadar ngobrol basa-basi maupun tanya-tanya rekomendasi.

And please enjoy your travel. You worth it.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles