Hari ini saya menutup perjalanan bekerja di dua perusahaan sekaligus. Sekaligus, karena selepas perusahaan yang satu saya langsung pindah ke perusahaan yang lain, a sister company, yang secara fisik masih numpang di ruang kantor perusahaan yang satu. Jadi, ya begitulah.

Hari ini ada beberapa orang yang menanyai saya: Sedih, gak? 

Mungkin karena saya memajang tampang yang biasa-biasa saja.

***

Jumat lalu saya sudah mengepak hampir semua barang pribadi yang menemani hari-hari saya selama 6 tahun 8 bulan di dua perusahaan ini. Layaknya adegan dalam film Hollywood, saya membawa barang-barang tersebut dalam suatu kardus; bekas satu pak kertas A4, tepatnya.

Sebelumnya, saya melewatkan waktu beberapa jam di area kantin kantor sambil ngobrol bersama beberapa dedengkot kantor. Saya belum siap pulang dan menghadapi sepi yang menyelinap masuk ke dalam kardus itu.

Sabtu pagi saya bangun dan sarapan duel dengan pikiran-pikiran yang menggerogoti dari dalam: Jangan-jangan keputusan resign sebelum mengamankan tempat kerja berikutnya ini sangat tidak benar? Setelah hari terakhir nanti, akankah hal-hal berubah? Akankah saya masih bisa berkomunikasi dengan teman-teman kerja yang terlanjur saya sayangi seperti saat ini? How would I navigate my life after this?

Saya sadar semua kekhawatiran ini berlebihan, karena saya mengkhawatirkan hal-hal yang belum terjadi. Saya tidak atau belum dapat melakukan apapun untuk mengubah hal-hal yang saya khawatirkan dapat terjadi, karena memang belum terjadi.

Namun saya juga sadar ada emosi dalam pikiran-pikiran ini yang ingin hadir dalam tubuh saya, maka saya izinkan dia hadir. Saya memberi ruang dan waktu untuk emosi itu menampakkan wujudnya; tetes-tetes air yang mengalir dari mata, suara-suara yang jarang meluncur dari diafragma, dan nafas yang seperti baru mengenal oksigen.

Sabtu sore saya dan sahabat menghadiri konser perpisahan Cause, band dengan musik yang menyenangkan hati, di Bogor. Untung saya sudah menjadwalkan menonton konser pada hari itu; jika tidak, mungkin sepanjang hari itu saya hanya akan larut dalam pertunjukkan emosi sendiri.

Menonton Cause membawakan 25 lagu dalam 2 jam bersama sahabat saya ini mengingatkan saya akan sisi lain perpisahan: bahwa pada akhirnya semua akan baik-baik saja. 

Sahabat saya ini pernah sekantor di perusahaan yang satu, sebelum dia resign sekitar dua-tiga tahun lalu. Sampai hari ini kami masih berkomunikasi dengan baik, masih menyempatkan waktu melakukan hal menyenangkan bersama, masih bertransaksi tukar pikiran. Kami pernah berpisah, tetapi sampai sekarang kami masih bersahabat. Pada akhirnya, persahabatan kami baik-baik saja. Mengingat hal ini membuat saya lebih tenang.

Minggu lalu saya kembali diingatkan tentang kekhawatiran lewat kutipan ini:

Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?

Merenungkan kutipan ini membuat saya semakin tenang.

***

Hari ini ada beberapa orang yang menanyai saya: Sedih, gak?

Biasa saja. Karena saya sadar, pada akhirnya, semua akan baik-baik saja.

2 thoughts on “Sedih, Gak?

  1. It might not felt okay for first couple months and it’s okay. But after that, believe me, it’s a whole exciting new adventure out there. Have fun!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *