Tentang Skenario

Tiap orang adalah sutradara, penulis skenario, sekaligus pemain dalam kehidupannya. Saat berinteraksi dengan sutradara/penulis skenario/pemain lainnya, ada kalanya skenario keduanya tidak sejalan. Sayangnya, tidak setiap sutradara/penulis skenario/pemain siap berimprovisasi dengan skenario sutradara/penulis skenario/pemain lainnya. Sehingga penuturan cerita satu dan lainnya terlihat berbeda di mata penonton.

Dari kursi penonton saya bisa berkomentar: Ini konyol! Gue tau maksud si A begini, sementara maksud si B begitu.

Tapi lain halnya saat saya berdiri sebagai sutradara/penulis skenario/pemain. Skenario di tangan saya mengarah ke sebuah ending, dan saya berasumsi skenario di tangan lawan main saya — walaupun tidak persis — mengarah ke ending yang sama. Nyatanya, di tengah pertunjukkan, lawan main saya justru berputar haluan, meninggalkan saya bertanya “Apa sih mau lo?”

Tidak mudah memahami maksud dan tujuan orang lain. Apa lagi saat dia tidak menyatakannya secara terus terang. Mengarahkan pada asumsi (apalagi ekspektasi) yang berbahaya.

Solusinya bisa jadi semudah bertanya secara frontal: Apa sih mau lo?

Jadi.. Apa sih mau lo?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *