Tentang Detox

20130717-232537.jpg

Seorang teman mengaku kalau dia sedang menjalani smartphone detox, ngurang-ngurangin buka smartphone demi baca buku atau tujuan lain yang ‘lebih mulia’.

Reaksi pertama saya: Yakin bisa?

Ya, saya skeptis. Di era too-much-information ini rasanya sulit membayangkan generasi haus informasi (baca: kepo) seperti kita berada jauh dari smartphone. Sulit, bukannya tidak bisa.

Apa sih goodaan terbesar smartphone sehingga sebaiknya sesekali dia ditinggalkan? Di luar akses komunikasi lewat suara atau teks yang memang sudah hakikat telepon selular, tentunya.

Emails, social media channels, blogs, news portals, forums, online documents, games, videos, musics, pictures, maps… every thing online. You name it. Sebagian memang esensial. Sebagian lainnya? Mungkin distractions ini yang teman saya coba hindari — ya, minimal dikurangi.

So what if I don’t want or need any smartphone detox? Ya gapapa, chill aja.

Tapi bisa jadi ini kesempatan untuk berinteraksi secara personal dengan cara ‘tradisional’: ngobrol. Memangnya gak sedih kalau di Facebook bisa komen, di Twitter bisa reply, di Path bisa kasih emoticon senyum, tapi di kehidupan nyata boro-boro ketemu mata?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *