“Pernah snorkeling?”

Malu-maluin sih, tapi sampai hari ini pun saya harus menjawab: “Belum pernah.”

Kenapa malu? Jelas malu, saya tinggal di negara yang sebagian besar wilayahnya adalah perairan. Belum pernah snorkeling jadi malu tingkat hamba. Masih kalah dengan malu tingkat dewa: gak bisa berenang. *silahkan loh, kalau mau ketawa jangan ditahan-tahan*

Maka, momen outing #ThinkWeb2Macan ke Pulau Macan, Kepulauan Seribu 5-6 Juni lalu jadi kesempatan perdana untuk mencelupkan diri ke laut & mencicipi sesuatu yang disebut snorkeling.

And I just screwed up. Big time.

Di Minggu sore cerah nan hangat, kloter snorkeling pertama berangkat ke satu area di perairan Kepulauan Seribu untuk menikmati pemandangan bawah laut. Saya ikut rombongan pertama ini.

Baju renang perdana sudah melekat di badan. Life jacket memeluk erat tubuh. Fin mengikat pergelangan kaki. Goggle & alat snorkel siap dipasang. Cuma nyali ketinggalan..

Saya mencoba mencelupkan diri ke laut, sambil berpegang pada apapun. Pada tangga di perahu, pada teman saya, pada papan kayak. Intinya, saya gak mau kehilangan pegangan. Dan ini buruk. Karena inti dari snorkeling bukanlah berpegangan pada apapun.

Ini bukan soal takut tenggelam. Berat jenis (atau, massa jenis?) air laut menjamin saya mengapung. Life jacket pun berfungsi dengan baik.

Jangan tanya. Saya pun masih mencoba memahami apa yang membuat saya begitu takutnya melepaskan pegangan di tempat baru itu.

Maka setelah entah berapa menit saya habiskan bergumul dengan diri sendiri, saya nyerah begitu saja. *saya ngerti kalo di titik ini kamu pengen pindah ke halaman web lain kok*

The next day.. Saat rombongan snorkeling kloter dua berangkat, saya dan beberapa teman bermain-main air ke Pulau Macan 2 (ada juga yang menyebutnya Pulau Macan Kecil atau Pulau Macan Gundul). Di sana, ada teman saya yang gak kapok mengajak saya sekali lagi mencoba berenang dan snorkeling di perairan dangkal. Berbekal rasa penasaran dan dukungan teman saya itu, mencobalah saya mencelupkan diri sekali lagi ke dalam air.

Singkat kata. Hari itu pun saya belum berhasil melepaskan diri dari ketakutan berada di dalam air.

The end? Belum.

Yang di atas tadi itu baru preambule :D

Yang mau saya ceritakan sebenarnya bukan snorkeling di perairan, melainkan snorkeling di pekerjaan. *nah loh!*

Ini berawal dari obrolan dengan mas bos tentang struktur kerja di tim saya. Obrolan kemudian mengarah ke soal ketakutan saya ber-snorkeling-ria yang dianalogikan sebagai ketakutan saya in a bigger picture. Lalu mas bos bilang sesuatu seperti ini : di laut bisa aja lo takut kehilangan sesuatu untuk dipegang, walaupun lo selalu bisa pegangan ke diri sendiri, tapi di kantor ini lo selalu bisa pegangan, paling gak pada orang-orang yang sudah hire lo (dalam lakon ini: mas bos & mbak bos).

Enough said :)

Posted with WordPress for TwirasBerry.

5 thoughts on “Snorkeling di Kantor

  1. 1st of all : uhuk ;)
    2nd of all : kalo diresapi, perkataan mas bos indah ya? Apa sih yg lebih indah di dunia ini drpd seseorg yg menawarkan pegangan? (selain pegangan mutlak sama God Almighty tentunya)
    3rd of all : saya jd sok serius ih. Udah ah. Dadah :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *