20130206-163956.jpg

“Ya permisi, bapak-bapak, ibu-ibu dan kakak-kakak sekalian..” sapaan yang sering kita dengar saat berkendara menggunakan bus kota, besar maupun kecil, khususnya di ibukota.

Realita pengamen sudah jadi sahabat kita sehari-hari. Tapi, apakah pernah kita melihat sahabat kita ini seutuhnya; melihatnya menjalani langkah demi langkah sebagai anak jalanan? Mungkin ini yang coba disampaikan Daniel Ziv, sutradara dan produser film dokumenter “Street Ballad” dan “Jalanan”.

Selasa (5 Februari) malam, pemutaran film Street Ballad dan bincang-bincang dengan tim produksi (diantaranya Daniel Ziv, Ernest Hariyanto selaku editor, Meita Eriska selaku sound woman) dan tokoh utama (Titi Juwariyah) berlangsung di SAE Institute, fX.

Street Ballad memotret kehidupan Titi berikut lika-likunya di belantara Jakarta; tentang keluarga, tentang cinta, tentang keuangan, tentang pendidikan, tentang keinginan untuk maju, tentang bertahan hidup. Cerita dituturkan apa adanya, tanpa pretensi. Kadang mengharukan, kadang membuat kita terbahak. Membuka mata.

Dari obrolan dengan keempat pelaku dibalik film ini, diketahui kalau proses produksi film menghabiskan masa enam tahun; empat tahun untuk shooting yang menghasilkan video berdurasi 200 jam saja!

Daniel menuturkan bahwa salah satu tujuan film dokumenter ini adalah untuk memaparkan ke dunia luar Indonesia yang sesungguhnya saat media di luar bercerita tentang Indonesia dari dua sisi yang yang terlalu ekstrim; yang indah-indah saja semacam Bali atau yang buruk-buruk saja semacam terorisme. Bukan tugas yang sederhana untuk membawa film berdurasi 52 menit ini untuk ditayangkan sebagai progam televisi di Amerika dan negara-negara di Eropa, tentunya. But they make it there.

Perjalanan mereka masih panjang. Masih ada film Jalanan yang menyasar ke layar lebar pada bulan Juli. Semoga film-film ini bisa menjadi duta Indonesia di mata dunia juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *