Suasana Hujan

​​Siang tadi, saat berjalan kaki dalam gerimis menuju ke tempat makan, saya tersadar kalau saya merindukan hujan. Hujan yang walaupun ada kalanya membawa khawatir (maklum, pada masanya saya mengalami banjir tiap lima tahun sekali) tetapi selalu memberi perasaan nyaman.

Di bawah lindungan payung saya masih bisa merasakan ujung sepatu mulai basah dan kecipak air membasahi ujung celana, dan saya masih bisa menikmatinya tanpa merasa terganggu atau menjadi tergesa-gesa.

Dalam hujan yang setia turun sampai sore hari saya berbagi cerita dengan seorang teman tentang hal-hal yang selama ini bergumul dalam pikiran, dengan perspektif baru; mengakui amarah tanpa marah-marah.

Saat malam datang, masih dengan sisa-sisa hujan hari ini, saya kembali merindukan hujan. Hujan, yang ditemani kopi atau teh dan obrolan tentang hidup, bersama dia yang mengenal dalamnya hati. Hujan, yang meninggalkan hanya rasa nyaman.

Khususnya hari ini, saya menaruh harapan pada hujan yang membasahi Jakarta supaya membersihkan kami dari kebencian pada satu sama lain. Obliviate.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles