Suatu Malam di Negri Sihir

poster from indonesiakaya.com

Inilah kisah tentang Jenderal Besar SIE JIN KWIE, yang memimpin pasukan Tang berperang ke Barat. Sayang sekali, dalam pertempuran, Siejinkwie terluka parah, nyaris sekarat. Arwahnya sempat melayang ke akhirat. Sebelum dikembalikan ke dunia fana, Siejinkwie diperlihatkan masa depan. Kelak, dia akan menemui ajal di tangan putra sendiri.

Inilah kisah tentang SIE TENG SAN. Setelah mati oleh anak panah ayahnya sendiri, Siejinkwie, dia dihidupkan kembali dan dijadikan murid oleh seorang petapa sakti. Kini, Sietengsan diperintahkan membantu sang ayah keluar dari kepungan musuh.

Inilah kisah tentang HWAN LI HOA. Seorang gadis sakti dan pemberani. Oleh gurunya, dia diramalkan berjodoh dengan Sietengsan. Masalahnya, ayah Hwanlihoa adalah jendral pasukan Seeliang, musuh Kerajaan Tang.

Takdir apa yang menanti para tokoh lakon ini?

(sumber : teaterkoma.com)

Jumat (9/3) malam saya, Fitri & Ellie ber-Friday night di ‘negri sihir’.  Gak jauh kok, negri sihir ini ada di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismalil Marzuki. Tentu saja yang saya maksud adalah pentas teater Sie Jin Kwie – Di Negri Sihir.

Produksi ke-126 Teater Koma ini mengangkat roman karya Tio Keng Jian dan Lok Dan Chung, yang disadur dan disutradarai oleh Nano Riantiarno.

Seperti sinopsis di atas, roman ini berkisah seputar kehidupan Sie Jin Kwie, Sie Teng San & Hwan Li Hoa. Takdir mempertemukan ketiganya dalam penggalan perjalanan hidup. Ada kegetiran diantara sang Jenderal Besar Sie Jin Kwie dan Sie Teng San. 12 tahun yang lalu, panah sang jenderal tak sengaja mengenai putranya dan mencabut nyawanya. Sie Jin Kwie & Teng San harus berperang melawan kebencian satu terhadap yang lain. Ada juga ramalan perjodohan diantara Sie Teng San dan Hwan Li Hoa. Perjodohan yang mustahil sepertinya, karena Teng San & Li Hoa terus menerus dipertemukan dalam pertentangan.

  

  

Lebih dari sekadar pentas teater, lakon Sie Jin Kwie – Di Negri Sihir ini juga menyajikan wayang kulit Cina Jawa,  wayang TAVIP (medium wayang yang diambil dari nama si pemrakarsa), seni tari, musik, dan batik. Untuk detil kostum, tim desainer busana Teater Koma tak tanggung-tanggung melakukan perjalanan ke Trusmi-Cirebon, Pekalongan, Semarang, Jepara, Rembang, Lasem, Solo & Yogyakarta untuk mempelajari kembali sejarah motif batik Cina Jawa.

Perjalanan di negri sihir ini berlangsung 4-4,5 jam (menurut hitungan waktu negri manusia) dan tebagi dalam 2 babak. Walaupun babak ke-2 terasa panjang (salah satu teman saya bahkan sempat tertidur di bangkunya), saya dibuat penasaran akan kelanjutan kisah ketiga tokoh utamanya. Ini kedua kalinya saya menonton pentas produksi Teater Koma, dan saya masih terpukau akan keseluruhan ide yang menjadikan panggung teater ini lebih menarik daripada layar bioskop dan panggun konser musik.

Walaupun mungkin tak seterkenal George Clooney atau Ryan Gosling, nama Budi Ros dan Dudung Hadi sudah akrab di telinga peminat pentas teater. Budi Ros bertindak sebagai dalang roman kepahlawanan ini, sementara Dudung Hadi memerankan ‘preman’ gunung bernama Touitho. Kedua tokoh ini dibawakan jenaka tapi berwibawa (adu, apa yah kata sifat yang tepat) oleh kedua pemeran.

Sie Jin Kwie, Sie Teng San dan Hwan Li Hoa masing-masing diperankan Rangga Riantiarno, Ade Firman Hakim dan Tuti Hartati. Ketiganya memerankan para tokoh utama secara make-believe.

photo from vivanews.com

Sebagai pentas penutup trilogi, lakon Sie Jin Kwie – Di Negri Sihir ini digelar sepanjang Maret, sekaligus untuk memperingati hari jadi Teater Koma yang ke-35.

Selamat menonton!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *