Roda kereta perlahan bergulir, bertolak dari Gambir menuju Pasar Turi. Kursiku di dekat jendela. Kursi di sebelahku kosong.

Tak lama, dia menghampiri dan menghempaskan tubuhnya ke kursi itu. Tersengal-sengal dia menjelaskan, “Tadi salah masuk gerbong.”

“Gue Dimas.” Tangan kanannya dijulurkan. “Wita,” balasku.

“Perjalanan kita bakal panjang, gak ada salahnya ngobrol kan?”

Sepertinya dia tidak membaca keenggananku melanjutkan percakapan.

Dia bercerita tentang pulang untuk urusan keluarga. Dan latar belakang lainnya.

Kemudian cerita demi cerita mengalir seperti keran bocor. Aku mulai terbiasa bersamanya.

Ketika mata terlalu lelah, kami menyerah dan membiarkan diri dibuai gerakan statis.

Hal terakhir yang kuingat, kami berpegangan tangan.

One thought on “Suatu Malam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *