Suatu Panggilan Telepon

Jumat pagi saya masih berada di rumah teman di Bogor, setelah semalamnya saya memilih lanjut ngebir bersama dua orang teman yang sedang menyiapkan pernikahan mereka sehabis ngobrol dengan vendor dekorasi; toh sudah terlambat untuk mengejar kereta terakhir pulang ke Jakarta. Selesai mandi saya mengecek ponsel dan melihat ada panggilan yang terlewat dari bapak saya. Saya abaikan; saya sudah mengabari semalam kalau saya akan menginap.

Dalam perjalanan di atas ojek menuju Stasiun Bogor, bapak saya menelepon lagi. Saya tolak. Namun terbersit di pikiran kalau-kalau ada sesuatu yang mendesak terjadi di rumah. Saya menelepon dari atas motor yang berjalan–kegiatan yang saya benci untuk lihat apalagi lakukan. Ternyata dia hanya menanyakan keberadaan saya. Dalam hati saya protes: Kalo cuma nanya lagi di mana, kenapa gak Whatsapp aja bapakeee?!

Dalam perjalanan di kereta saya mempertanyakan diri kenapa begitu sensitif terhadap suatu panggilan telepon.

Saat saya masih SD benda bernama telepon belum ada di rumah saya. Namun ada telepon umum di dekat rumah. Sayangnya, jarak dari rumah ke telepon umum versus jarak dari rumah ke rumah teman sekolah terdekat sama saja. Saya merasa keberadaan telepon tidak terlalu istimewa pada saat itu.

Saat saya masuk SMP, telepon masuk ke rumah. Saya mulai menarik kabel telepon dari kamar orang tua ke kamar saya untuk ngobrol dengan teman atau pedekate dengan gebetan. Sementara orang tua saya mulai meninggikan suara mereka setiap kali melihat tagihan telepon. Waktu itu biaya telepon masih jadi belum jadi prioritas anggaran belanja.

Pada usia SMA, saya kemudian menerima lungsuran ponsel lengkap dengan nomornya dari seorang sahabat. Ponsel saya saat itu masih sekadar untuk bertelepon dan berkirim SMS–dua fitur yang sangat berguna untuk komunikasi apalagi di tahun-tahun itu saya sedang getol berkegiatan dalam komunitas.

Saat saya bergerak menuju kampus di Depok, teknologi ponsel bergerak ke pengembangan multimedia–fitur yang rasanya sekadar krim dan irisan stroberi di atas potongan kue. Bahkan sampai di tahun-tahun ini pun hanya kami anak-anak yang menggunaan ponsel; orang tua saya masih cukup dengan telepon kabel di rumah.

Sejak mengenal ponsel dan bertahun-tahun sesudahnya saya ingat ada rasa senang saat menerima panggilan telepon, kecuali dari telemarketing asuransi atau kartu kredit. Sampai aplikasi messenger hadir.

Seiring kehadiran aplikasi messenger yang semakin masif, saya semakin nyaman menggunakan fitur messeger–dan fitur berbasis teks lainnya yang mengizinkan ruang jeda untuk membalas. Sementara panggilan telepon bergeser dari fungsi komunikasi utama suatu ponsel menjadi fungsi komunikasi hanya untuk hal-hal yang penting atau mendesak, atau ya untuk mendengarkan penawaran asuransi atau kartu kredit.

Suatu panggilan telepon menyiratkan kebutuhan komunikasi penting atau mendesak, dan menuntut balasan langsung. Entah mana yang lebih saya hindari: hal penting atau mendesak atau hal membalas langsung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles