Surfing Saigon

Momen tambah usia kali ini, saya menghadiahi diri single trip ke Saigon/Ho Chi Minh City, Vietnam. Single trip, bukan solo trip, karena memang begitu.

Berbekal tiket PP promo Air Asia, booking 1 bed untuk malam pertama di female dorm Phan Anh Backpacker Hostel di Pham Ngu Lau street, itinerary asal-asalan hasil nyontek buku pinjaman Rini, guide dari Ario, Trip Advisor; dan kontak beberapa nama user Couch Surfing di sana, saya berangkat dengan penuh kegalauan pada Sabtu, 17 November sore.

Perjalanan dari Soekarno Hatta ke Tan Son Nhat berlangsung selama 3 jam, dalam kabin pesawat yang super dingin. Cici kebangsaan Vietnam yang duduk di sebelah saya, sampai mengeluhkan kedinginan dengan bahasa tubuhnya. Lucunya, saya mencoba mengajak bicara dalam bahasa Inggris, tapi si cici tetap membalas dalam bahasa tarzan.

Ketemu cici itu sepertinya peringatan buat saya kalau kedepannya saya akan ngobrol dalam bahasa isyarat dengan orang Vietnam kebanyakan. Dan benar saja begitu.

Xin Chao! (Hello!)

Hari pertama di Saigon saya habiskan bersama Ha Hoang, salah satu kenalan dari Couch Surfing, dan teman-teman kuliahnya.

Janjian di patung Tran Nguyen Han, di seberang Ben Thanh Market, kami berkeliling dari satu tourist attraction ke tourist attraction lain. Diantara yang kami kunjungi pada hari itu adalah Notre Dame Cathedral, Saigon Central Post Office, Reunification Palace, dan War Remnant Museum.

Notre Dame Cathedral terbilang cukup ramai pada Minggu pagi itu. Bukan ramai oleh umat yang akan beribadah, tapi ramai oleh pasangan calon pengantin yang tengah bersesi foto pre-wedding — sepertinya di setiap 10 meter di sekeliling area gereja ada saja pasangan yang berpose.

Dari gereja kami lanjut ke Saigon Central Post Office. Kata Ha Hoang, saya gak boleh foto-foto di dalam gedung. Gak apa-apa deh, karena tujuan saya ke sana untuk mengirim kartu pos ke teman-teman di Jakarta.

Di kantor pos, kami nyebrang ke sebuah taman teduh tempat anak-anak muda nongkrong sambil minum es kopi susu, ngemil, dan jammin’ dengan gitar & cajon. This is probably the best spot in Saigon that I visited.

Tran Nguyen Han - Ben Thanh
Tran Nguyen Han – Ben Thanh
Nge-jam & ngemil
Suasana taman di Minggu pagi

;

Meet Ha Hoang & friends

Setelah beristirahat sejenak dan berkenalan dengan teman-teman Ha Hoang yang kebetulan di taman, kami melanjutkan perjalanan ke Reunification Palace.

Reunification Palace ngasih gambaran seperti apa pemerintahan Vietnam di masa lalu. Numpang rombongan turis mancanegara dan guide berbahasa Inggris, saya dan rombongan dedek-dedek mahasiswa International Relation ini menyusuri satu per satu ruangan yang digunakan presiden untuk menjamu para petinggi dalam negeri dan luar negeri, sampai ke lantai bawah tanah tempat presiden dan angkatan bersenjata mengatur strategi perang.

Hari sudah siang, dan perut kami mulai minta belas kasihan.

Dari teman kantor, Ario, saya mendapat rekomendasi untuk mencicip Pho Hoa di Pasteur street. Tapi, menurut dedek-dedek ini, Pho Ngan lebih enak dan lebih murah. Kebetulan Pho Ngan berjarak beberapa petak dari Pho Hoa.

Benar saja kata seorang teman, begitu mencoba Pho asli Vietnam, segala macam Pho di restoran di Jakarta terasa palsu.

Selesai mengisi perut, kami lanjut ke War Remnant Museum. Ini mungkin tourist attraction paling memilukan yang saya kunjungi selama di Saigon. War Remnant Museum memaparkan secara visual masa-masa kegelapan Perang Vietnam.

Reunification Palace – War Remnant Museum
Pho Ngan

Kehadiran Ha Hoang dan kawan-kawannya sungguh membantu saya, khususnya dalam hal berkomunikasi. Sampai hari itu, hanya mereka, pengurus hostel dan petugas Taksi Vinasun di airport yang mau & mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Sisanya.. saya mengandalkan bahasa tarzan.

From Indonesia With Love (Tulisan di T-shirt saya hari itu)

Setelah akhirnya gagal ketemuan dengan kenalan CouchSurfing lainnya, saya memutuskan merantau ke Cholon, Chinatown-nya Saigon — yang gak kelihatan seperti chinatown, karena penampilannya terlihat mirip dengan sisi lain kota Saigon yang sudah saya telusuri kemarin.

Berbekal gambar peta minimalis dari buku Lonely Planet yang teronggok di hostel, saya berniat mengunjungi kuil Thien Hau, pagoda Quan Am & Ong Bong yang, menurut peta, terkonsentrasi di satu area di Cholon.

Satu jam berkeliling dari terminal bus Cholon, meniti satu belokan ke belokan lain, menyusuri satu jalan ke jalan lain, menyeberang dari satu sudut ke sudut lain di area yang penuh pedagang ini.. saya tidak berhasil menemukan kuil & pagoda yang saya cari.

Saya lelah. Lalu melipir ke sebuah warung kopi dan memesan es kopi susu. Oh, betapa segarnya es kopi susu itu di saat saya merasa tersesat di hari tambah usia.

Dan universe sepertinya senang bercanda. Ketika saya berdamai dengan diri sendiri dan mengaku menyerah dalam misi pencarian kuil & pagoda ini, langkah kaki saya justru dibawa ke hadapan sebuah gereja Katolik — yang sudah lama tidak saya kunjungi bahkan di Jakarta. Oke, universe, kamu menang. Saya pun berlulut, numpang berdoa.

Dari Cholon, saya bertolak ke Dong Khoi street, District 1 yang kaya dengan bangunan perkantoran & mal mewah, kali ini tanpa mengandalkan peta maupun Google Maps. Di sana saya menyaksikan bangunan-bangunan yang sering saya lihat saat browsing tentang Saigon.

Dong Khoi – City Hall – Opera House

Nah.. mumpung saya sedang merayakan tambah usia, siang hari itu saya mentraktir diri sendiri dengan makan di tempat yang terbilang mewah (untuk ukuran budget travel), SH Garden di 98 Nhuyen Hue street, dengan city view. Kalau kata Ario, sebaiknya mampir ke sini di malam hari dan menikmati pemandangan Saigon dari atas. Tapi ya.. mumpung sudah di sana, sikat saja lah!

Siang itu saya mencicip makanan yang cukup ajaib : udang rebus ketemu kelapa muda bakar. Ajaib, karena saya tidak menemukan harmoni rasa.

Yang tersisa dari makan siang hari itu – Belanja yuk!

The so-called birthday lunch is done. Saatnya belanja!

Thuong Xa Tax alias Tax Trade Center ini ada di 135 Nyuyen Hue street, berseberangan dengan SH Garden. Menurut Ario, kalau mau belanja oleh-oleh tapi malas nawar, di sini tempatnya. Pakaian, makanan, kerajinan tangan semua dijual dengan harga pas — katanya. Faktanya sih, cici-cici yang jualan pun mengeluarkan jurus bujuk rayu “Bantu saya dong.. beli di sini aja.. nanti saya kasih diskon.” Phew.

Sisa hari itu saya habiskan sekali lagi berkeliling di sekitar Pham Ngu Lau, mencari sedikit oleh-oleh untuk teman-teman dan mencari makan malam.

Menurut Ha Hoang, ada makanan khas Vietnam selain Pho Bo, namanya Bun Bo. Tapi nih.. mencari Bun Bo ini seperti mencari.. jodoh, mungkin. Saya yang sudah hampir hafal setiap belokan di Pham Ngu Lau, masih kesulitan mencari penjaja Bun Bo. Mendatangi satu per satu gerobak yang sepertinya menjual makanan berkuah sambil menunjukkan halaman notes yang bertuliskan “BUN BO?”. Pada entah belokan ke berapa dan gerobak ke sekian, akhirnya saya menemukan jodoh perut di tangan seorang tante yang menyerocos dalam bahasa Vietnam.

Hari itu saya juga berkenalan dengan sesama single traveler yang nginep di hostel. Ada traveler dari Jepang yang mengajari salah satu pegawai di hostel membuat origami burung bangau. Traveler dari Finlandia yang kebetulan sedang kuliah pertukaran di Universaitas Udayana, Bali. Traveler dari Kanada bernama Terry (atau sesuatu yang terdengar seperti itu) yang tiba-tiba curhat kalau dia ditawari paket day tour oleh cici-cici Vietnam dengan pakaian minim.

Saya, yang hari itu mulai kehilangan semangat traveling dan mulai kangen suasana familiar di rumah dan di kantor, seperti mendapat suntikan semangat baru setelah ngobrol dengan sesama single traveler itu.

Cam On. (Thanks.)

20 November diperingati sebagai Happy Teacher’s Day di Vietnam. Harinya para murid memberi apresiasi kepada para guru/dosen dengan acara-acara yang mirip pentas seni di sini.

Siang harinya saya sekali lagi janjian dengan Ha Hoang, untuk mengantar selendang batik yang saya bawa-bawa dari Blok M. Tapi sebelum itu saya sempat mampir ke beberapa tempat yang tidak sengaja saya temui.

Belum jam 9 dan saya sudah mencicip 2 sloki liquor lokal yang kebetulan dijual di sebuah toko dekat hostel. Minuman yang pertama hasil fermentasi buah dan dikemas dalam botol keramik berbentuk buah tersebut. Yang kedua hasil fermentasi kelapa dan dikemas dalam botol batok kelapa. Sayang saya tidak menemukan keduanya saat belanja penghabisan di airport pada malam harinya.

Sekali lagi saya naik bus no.1 yang membawa langkah kaki ke Cholon. Kali ini tidak untuk mencari kuil atau pagoda, tapi untuk melihat-lihat apa yang saya lewatkan kemarin saat terlalu fokus mencari kuil dan pagoda itu. Siapa sangka kalau saya akan melewati sekolah (tingkat menengah pertama sepertinya) yang tengah mengadakan opening ceremony Happy Teacher’s Day?

Dari sana saya lanjut dengan bus yang sama, ke arah berlawanan, melewati District 1 dan tiba-tiba sampai di pesisir Saigon. Daerah apa namanya, saya pun gak yakin. Yang pasti saya melihat dermaga yang sepertinya menjadi titik tolak day tour menuju sungai Mekong. Di sana saya sempat ngaso di sebuah cafe untuk nge-charge handphone dan ngelurusin kaki, sebelum beranjak ke Ben Thanh market (lagi) untuk ketemu Ha Hoang.

Ben Thanh market seperti kebanyakan pasar tradisional-spesialis-oleh-oleh semacam Beringharjo di Jogja atau Sukowati di Bali. Hanya saja sepertinya para pedagang kurang agresif menawarkan ini itu (bahkan jika dibandingkan dengan para pedagang di Tax Trade Center kemarin). Tujuan saya ke sana kali ini mencicip makanan lokal yang tersedia di sana.

Beruntung saya menemukan makanan lokal berjudul Ban Cuon Nong, karena makanan perpaduan dumpling berisi daging babi & jamur, potongan daging babi asap & cakwe udang ini… teramat sangat lezat sekali, pemirsa! Saya sampai terharu kalau mengingat rasa yang tercipta saat potongan demi potongan makanan ini mendarat di lidah. (Oke, saya sudah mirip Yoichi si bocah cita rasa, belum?)

Lupakan Pho, lupakan Bun Bo, saya tahbiskan Ban Cuon Nong sebagai makanan khas Vietnam paling lezat! #sikap

Dan percayalah, bukan saya saja yang berpendapat demikian. Saat makan siang itu, saya duduk bersebelahan dengan seorang Vietnam & seorang bule Amerika Serikat yang bekerja untuk organisasi kesehatan & pendidikan. Si bule, yang ternyata sudah belasan tahun tinggal di Vietnam, bahkan paling tidak menyempatkan mencicip makanan enak ini dua kali dalam seminggu. Segitu enaknya tuh!

Local Liquor – Ban Cuon Nong

Trip pamungkas saya di Saigon justru menyelundup ke acara Happy Teacher’s Day di fakultas International Relations bareng Ha Hoang & teman-teman. Satu jam saja saya di sana menyaksikan dedek-dedek kampus membawakan tarian tradisional Laos (karena banyak anak dari Laos di kampus itu) dan games bareng dosen-mahasiswa.

Oh, yang juga menarik adalah pemberlakuan karcis bus khusus pelajar & mahasiswa yang harganya bisa jadi sepertiga dari tarif normal. Syaratnya, penumpang bus itu harus bisa menunjukkan kartu pelajar jika dimintakan.

***

Masih banyak kepingan cerita selama 3 malam 3 hari di Saigon yang tidak saya tuliskan di sini. Hal-hal kecil baik yang menarik maupun yang sepele.

Yang paling menyenangkan dari trip kali ini adalah kesempatan untuk mengeksploasi tempat-tempat baru (bukan hanya tempat-tempat yang direkomendasikan untuk turis), budaya & kebiasaan berbeda yang saya dapatkan dari berinteraksi dengan beberapa orang lokal, dan tentu saja.. the art of getting lost when you least expected.

Surfing Saigon ini sendiri mencoret 2 daftar di to do list saya: 1) traveling single (sekali lagi, single, bukan solo), dan 2) mengunjungi Vietnam, for sentimental reason.

Tapi saya masih penasaran mengunjungi Vietnam bagian Hanoi & Ha Long Bay kok…

Yuk?!

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles