Cinta Itu Hal Kecil

Cinta itu hal kecil…

Cinta itu hal kecil seperti menyimpan utuh Pepsi yang diberikan si senior ganteng dari klub sepakbola saat antrianmu diselak senior dari klub basket.

Cinta itu hal kecil seperti menyimpan box cokelat yang sudah meleleh karena ditaruh diam-diam di atas motormu yang diparkir dibawah terik matahari. Bahkan saat kamu tahu box cokelat itu dari si junior berwajah aneh.

Cinta itu hal kecil seperti menyimpan kancing yang tersisa dari perkelahian si senior ganteng dari klub sepakbola vs senior klub basket gara-gara antrian Pepsi. (Bertahun-tahun kemudian kamu baru tau kalau kancing itu bukan milik si senior ganteng ^^)

Cinta itu hal kecil seperti menanam pohon mawar putih dan mendokumentasikan pertumbuhannya. Setelah mawar putih tumbuh dan berkembang, di hari Valentine kamu mencabutnya sampai ke akar dan memberikannya ke junior berwajah-aneh-yang-kini-menjelma-cantik, tetapi dengan bodohnya kamu bilang bunga itu titipan seorang teman.

Cinta itu hal kecil seperti diam-diam memotret wajah si junior berwajah-aneh-yang-makin-hari-makin-cantik. Menyimpan tiap lembar fotonya dalam sebuah notebook. Sebelum meninggalkan kota, kamu meletakkan notebook itu di depan rumahnya.

Cinta itu hal kecil. Yang kemudian berkembang menjadi hal besar.

Setidaknya itu yang saya ‘dapat’ dari film teenage love affair ala Thailand menggemaskan berjudul Crazy Little Thing Called Love (alias A Little Thing Called Love, alias First Love).

Ceritanya seputar cinta-cintaan Nam, si junior berwajah aneh yang kemudian menjelma cantik, dan Shone, si senior ganteng dari klub sepak bola pecinta fotografi. Saling suka, saling berusaha menyatakan perasaan, saling memendam perasaan.. selama bertahun-tahun.

Sekali lagi film romantis komedi dari negeri Gajah Putih berhasil memikat perhatian saya. Mungkin karena ceritanya yang ringan, alurnya yang mengalir, karakternya yang manusiawi, komedi slapstiknya. Atau mungkin karena hal kecil seperti Mario Muarer yang gantengnya bikin saya merasa lahir terlalu cepat. :D

It’s a happy ending, by the way. 9 years later destiny meets them. Just in time, when they are all grown up, yet still keeping the sparkling feeling.

Cek juga movie traillernya di sini.

Posted with WordPress for TwirasBerry.

United religions of God

Dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Amin.

Saya (Kristen) Katolik. Artinya saya mengimani dan mengamini Tuhan yang disebut Allah, Yesus, Kristus dengan tata cara ibadah a la Katolik (Roma, tepatnya).

Dia Kristen. Protestan. Pantekosta.
Dia Budha.
Dia Islam. Muslim.
Dia Hindu.
Dia Kong Hu Chu.
Dia.. percaya akan YME.
Dia tidak.
Dia KTP. Bisa Katolik, Kristen, Budha, Islam, Hindu. Karena pilihannya hanya 5 itu.

Saya khawatir. (Eh, ini bukan agama loh, tapi perasaan.) Saya khawatir kalau agama telah bertransformasi terlalu jauh dari ‘bahasa’ kasih manusia kepada Tuhan menjadi institusi, organisasi, grup, klub.. (bahkan mungkin) koperasi simpan pinjam! Lengkap dengan syarat & ketentuan yang berlaku.

Bukankah intisari pesan semua agama sama? Singkat kata: I love you, God.
Hanya saja cara masing-masing agama menyampaikannya yang berbeda. Sama ‘what’, beda ‘how’.

Don’t get me wrong. Gak ada yang salah dengan perbedaan itu.. Kecuali pada saat perbedaan itu jadi masalah (atau kalau kata ‘masalah’ terlalu besar: halang rintang).

Sudah nonton film indie ‘Cin(T)a’? Film ini bercerita tentang apalagi-kalau-bukan cinta antara perempuan dan laki-laki yang kebetulan (atau justru bukan kebetulan?) menyebut Tuhan dengan nama yang berbeda. Perbedaan itu jadi halang rintang saat keduanya ingin menyatukan hati. Klise memang. Tapi nyata. Senyata cerita seorang sepupu. Senyata cerita seorang teman.

Yah.. lalu halang rintang itu meruncing saat memasuki zona P. Pernikahan.

Karena di tanah air yang kita pijak, institusi bernama agama masih belum terbuka untuk merger dengan institusi agama lain dalam kontrak pernikahan.

Selama institusi bernama agama itu belum terbuka untuk merger.. lebih mudah untuk melupakan ide kontrak pernikahan. Less complication.

Kontrak itu lebih mudah ditandatangani saat kedua insan yang saling mencinta itu bercakap-cakap dengan Tuhan dalam bahasa yang sama.

Maka opsi yang sering muncul adalah pindah agama. Yang tentu lebih rumit dari pindah kantor atau pindah kost. Karena iman, seperti halnya perasaan (apapun), tidak dapat dipaksakan, bukan?

Seperti doa-menjadi-kenyataan bila salah satu insan itu memang terpanggil hatinya untuk mengimani Tuhan dalam bahasa yang berbeda. But hey, have I mentioned it can’t be forced?

Pada sepupu dan teman saya terjadi demikian. Itu pun tidak menjamin kisah keduanya bebas halang rintang. Ada keluarga yang perlu diyakinkan bahwa pilihan ‘convert’nya itu bukan sekadar meluluskan urusan pernikahan melainkan panggilan hati. Ada komunitas yang perlu diyakinkan bahwa ‘transfer pemain’ dari agama yang satu ke agama yang lain tidak ada perhitungan untung-rugi.

Saya jadi kepikiran: wouldn’t it be nice if we all practice only one religion? Semua berbicara dalam bahasa yang sama kepada Tuhan yang disebut dengan nama yang juga sama.

Ok. Saya pun diam-diam protes menentang ide absurd ini. Karena, katanya, perbedaan itu indah; karena, katanya, ada perbedaan maka ada toleransi. Semoga demikian, kata saya.

Posted with WordPress for BlackBerry.

“Membaca” Jane Austen

The Jane Austen Book Club adalah film komedi romantis yang bercerita tentang enam orang membaca dan membahas enam novel Jane Austen dalam enam bulan.

Keenam anggota klub membaca ini datang dengan cerita hidup (baca: cinta) masing-masing: Sylvia (Amy Brenneman) baru ditinggal suaminya, Daniel (Jimmy Smits), demi perempuan lain; Allegra (Maggie Grace), anak Sylvia, menjalani cinta sesama jenis; Bernadette (Kathy Baker) telah menikah enam kali; Jocelyn (Maria Bello) telah lama melajang dan hanya ditemani anjing peliharaannya; Prudie (Emily Blunt) tengah menghadapi godaan dalam perkawinannya dengan Dean (Marc Blucas); dan satu-satunya anggota pria Grigg (Hugh Dancy), penggila karya fiksi ilmiah yang belum pernah membaca Jane Austen, bergabung dengan klub ini karena tertarik pada Jocelyn.

Novel-novel Austen yang dibaca dan dibahas justru menyingkap karakter dan kisah masing-masing dan ‘mengarahkan’ langkah mereka untuk kesempatan kedua.

Film ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Karen Joy Fowler; (naskah) ditulis dan disutradarai oleh Robin Sciword.

Saya mendapatkan info ini dari sana dan dari sini.

VCD film ini saya beli secara impulsif di salah satu toko buku Gramedia, tepatnya dari sebuah keranjang diskon ;) .  Sebelumnya saya pernah mendengar judul film ini, tapi tidak pernah mencari tahu tentang cerita di balik sekelompok pecinta buku Jane Austen.  Begitu juga tentang Jane Austen.

Dari sekian film bergenre komedi romantis yang sudah saya tonton, belum ada satu film yang mampu mengalahkan sang jawara klasik My Best Friend’s Wedding di teater pribadi saya.  Namun, Jane Austen Book Club pun tak akan saya pandang sebelah mata.

Karakter yang menarik perhatian saya tak lain adalah duo Jocelyn dan Grigg.  Berawal dari obrolan singkat di lift sebuah gedung; mereka bertemu kembali dan resmi berkenalan di sebuah bar.

Jocelyn: You know what I’m wondering before I go? How do you feel about older women?
Grigg: Ah, great. I have three older sisters, so I like all women.

Awalnya saya kira Jocelyn menggoda Grigg untuk kepuasannya sendiri.  Rupanya si jomblo bahagia Jocelyn berniat ‘menawarkan’ Grigg sebagai obat pelipur lara bagi Sylvia; sangat tipikal sahabat perempuan, bukan?

Sementara Grigg, yang memang dari awal terlihat tertarik kepada Jocelyn, akan melakukan apapun demi mendekati perempuan ini.

Witting tresno jalaran soko kulino, Jocelyn justru terperangkap jurus mak comblang-nya sendiri – seperti yang sudah kita duga!  Terlambat sudah, Sylvia-Grigg terlihat mulai dekat, dan Jocelyn tersiksa dengan pemandangan baru ini.  Tak heran jika selanjutnya Jocelyn bersikap dingin dan cenderung defensif terhadap Grigg, seperti tersirat dalam percakapan sengit mereka:

Griggs: What about me? Am I your friend? Or am I just some widget to help you make Sylvia feel better about herself? Why did you invite me to be part of your book club? What went through your mind the first time you saw me? “There’s a man who is dying to read every book Jane Austen ever wrote.” Is that what you thought?
Jocelyn: No.
Grigg: But I thought, “What a beautiful woman. I hope she looks over at me.” I thought if I read your favorite books that you would read mine. But, no, no, no, no… You just want to be obeyed. That’s why you have dogs.

Jocelyn: Sex is messy. Maybe Mrs. Dashwood prefers a more well-ordered life.
Grigg: Maybe that’s why she’s such a minor character.
Jocelyn: I think if you read Austen’s novels…
Grigg: Oh, I have. You wanted me to, and I did.
Jocelyn: I think you’ll see she always writes in favor of order and self-control. Nothing unwise.
Grigg: So what, this is a rulebook?

Jocelyn berusaha menyangkal perasaannya.. dan gagal!  Pria tipikal ABCDEFG – A Boy Can Do Everything For Girl – semacam Grigg mampu membobol pertahanannya dan menciptakan sebuah happy ending.  Yaayyy!

Romansa yang berakhir bahagia memang menyenangkan; tetapi wajah culun-tapi-ganteng ala Hugh Dancy, nyentrik ala sci-fi geek, muda, sehat (karena rajin bersepeda), kaya (indikasinya: tinggal di kawasan perumahan elit dan memiliki pekerjaan mapan), dan melakukan banyak hal untuk perempuan yang disukainya.. bisa jadi kombinasi yang berbahaya dalam kehidupan nyata. :)