Recycle Bin

Saya baru saja membaca blog post seorang teman di http://wp.me/pSBFD-pJ.

Mengutip kolom celoteh seorang Samuel Mulia pada sebuah harian edisi Minggu: ada 3 folder penempatan teman. Folder pertama, teman yang kita simpan seumur hidup. Folder kedua, teman yang sekadar hi-bye. Folder ketiga, teman yang kita tinggalkan.

Ternyata saya juga punya teman di folder ketiga. Sudah saya delete. Dan sekarang dia berada di recycle bin. Dan saya punya 2 pilihan: 1) shift+del, 2) restore.

Dia bukan sembarang teman. I was in serious love-hate relationship with this person. (Notice that this kind of relationship goes one way.) Saya sempat menganalogikan saya dan dia seperti superwoman dan kryptonite. Keberadaanya di dekat saya membuat saya kehilangan kekuatan lebih, membuat saya jadi lemah.

Long story short. Saya memilih untuk memindahkan dia dari folder pertama ke folder ketiga. And I did it the ugly way. Saya belajar membenci dia. (Ya, belajar, dengan banyak latihan dan ulangan.) Saya sadar ini adalah bentuk self defence mechanism paling primitif yang saya lakukan.

Sampai sekarang pun serpihan kryptonite itu masih ada. Dalam bentuk nomor handphone di phonebook, contact di messenger, foto yang di-tag bersama di facebook, mention di twitter, dan mutual friends. Dan biarlah serpihan itu seperti apa adanya. Saya belum bisa memilih untuk shift+del atau restore.

Atau bahkan saya tidak harus memilih. Dan membiarkan dia di recycle bin selamanya.

Entahlah.

Hey Kamu

Kamu berubah.

Kamu gak lagi meluangkan waktu untuk aku, untuk kita, untuk kami.

Gak ada lagi makan siang bareng. Gak ada lagi makan malam bareng. Dan sepertinya pungguk-merindukan-bulan berharap kamu mau makan tengah malam bareng.

Gak ada lagi obrolan ngalor ngidul yang kadang serius kadang santai bareng kamu.

Seperti ada jarak. Seperti ada dinding pemisah. Yang seperti angin — tidak terlihat tapi terasa.

Ah kamu. Aku, kami cuma kangen kamu kok. Kangen adanya kamu ditengah-tengah kami. Gak usah makan bareng, gak usah ngobrol bareng. Cukup ada kamu diantara kami.

-Aku,
Si pemilik tulisan cakar ayam pada sebuah post-it yang diam-diam ditempelkan ke botol minum kamu.

opposite psychology

Serorang teman mengalami hari yang buruk. Dan saya tidak tahu bagaimana cara menemaninya melalui hari itu.

Kalau dia perempuan, sudah pasti saya akan memaksanya bercerita; sedikit melepaskan beban yang tengah dipanggulnya dan mungkin mencari jalan keluar bersama. Konon itu adalah prilaku stereotipe perempuan. Saya tidak setuju, tidak pula menentang. Saya tidak merasa seperti itu, tepatnya. Saya cenderung memendam ‘current issue’ dalam hidup saya sendiri, menyelesaikannya sendiri, menceritakannya hanya kepada orang-orang tertentu, membawanya ke dalam doa dan tangis dan tidur.

Tetapi, kawan saya ini lelaki – yang katanya berasal dari mars, yang tidak suka menceritakan masalah yang dihadapinya, apalagi dicarikan solusinya bersama. Katanya, kalau pria mengalami masalah, biarkan dia masuk ke gua pribadinya, menyelesaikannya sendiri, sambil menunggu dia keluar dalam keadaan seperti semula. Itu katanya. Tentang pria pada umumnya.

Selama ini saya sering diolok sebagai perempuan ke-laki-laki-an, wantia ke-pria-an. Katanya karena prilaku saya yang tidak feminin. Tidak masalah. Saya tetap manusia normal. Namun hari ini saya seperti membuktikan diri sebagai mahkluk feminin – saya tidak berhasil menyelami kerangka berpikir maskulin. Saya bertanya: Apa yang akan dilakukan seorang pria, saat teman prianya mengalami hari yang buruk? Saya tidak tahu. Buat saya ini bukti telak bahwa saya sangat feminin! (hehe.. self defense mode: on)

Akhirnya saya biarkan kawan saya itu begitu. Tidak berusaha menginterogasinya mengenai hal buruk yang dialaminya di hari itu – hanya sedikit memancing; saya justru mengarahkan percakapan kami ke hal-hal ringan-cenderung-tidak penting (hal semacam orang Jepang menemukan alat penerjemah bahasa anjing) yang menurut saya bisa jadi pengalih yang efektif. He will tell if he wants to, pikir saya. And he did.

Mengalami hari itu, saya jadi berpikir: Apa benar cara berpikir pria dan wanita (sangat) berbeda?