Bukan Cerita Cinta Biasa

Bangkok Traffic (Love) Story adalah kisah cinta dengan setting kota Bangkok modern dimana Mei Li yang berusia 30 tahun berjuang untuk menemukan cinta sejati. Ketika Mei Li tak sengaja bertemu Loong, seorang insinyur kereta cepat nan tampan yang ia anggap sebagai orang yang tepat, ia pun berencana untuk membuat langkah pertama. Meskipun rintangan terus datang menghambat langkahnya, ia tidak menyerah.

Disutradarai oleh Adisorn Tresirikasem, naskah ditulis oleh Benjamaporn Srabua, Navapol Thamrongruttanarit dan Adisorn Tresirikasem, dan diperankan oleh Sirin ‘Cris’ Horwang (Mei Li) dan Theeradej ‘Ken’ Wongpuapan (Loong), kisah komedi romantis ini menjadi film Thailand terlaris tahun 2009.

Cerita cinta klise dalam film ini semakin ‘mengena’ dengan latar belakang perempuan muda kelas menengah di kota sibuk – yang seumur itu masih numpang tinggal dengan orang tua; memudahkan penonton semacam saya untuk mengidentifikasikan diri. oops! :)

Film ini banyak mengambil set di kereta cepat ala Bangkok; tak heran, film ini memang disponsori oleh BTS Skytrain yang merayakan 10 tahun operasional pada tahun 2009.  BTS Skytrain adalah sistem transportasi cepat-massal di Bangkok yang dikelola oleh Bangkok Mass Transit System Public Company Limited (BTSC).  Sistem transportasi ini bekerja pada 2 lajur: lajur Sukhumvit dari Mo Chit ke On Nut dan lajur Silom dari National Museum ke Wongwian Yai; keduanya bertemu di Stasiun Siam.

Sesuai judulnya, Bangkok Traffic (Love) Story memperlihatkan keadaan lalu lintas Bangkok yang rupanya sebelas-dua belas dengan Jakarta.  Setelah mengalami insiden saat mengendarai mobil dan kunci mobil disita sang ayah, Mei Li terpaksa menggunakan kendaraan umum menuju dan dari kantor – yang saking jauh dan penuh perjuangan mungkin berlokasi di Mordor. :)   Jadilah Mei Li sambung menyambung naik-turun ferry, tuk-tuk dan ojek; layaknya di Jakarta, taksi bisa jadi pilihan paling berisiko bagi kelangsungan finansial.

Cerita cinta tentu tidak lengkap tanpa adegan romantis.  Dan film ini mengemas romantisme di Bangkok dengan sederhana tapi apik.  Mei Li dan Loong menghabiskan waktu bersama selama Festival Songkran.  Festival ini adalah perayaan tahun baru tradisional Thailand yang jatuh pada 13-15 April.  Selain berdoa dan membawa makanan untuk para biksu ke kuil Buddha, penduduk Thailand merayakannya dengan turun ke jalan untuk perang air yang pada mulanya bertujuan ‘memberkati’ orang yang dijadikan sasaran dengan guyuran atau tembakan air – yang kadang dicampur dengan bedak mentol.  (Air memang dikenal sebagai medium membersihkan diri di banyak perayaan adat dan budaya.)

Mei Li dan Loong juga diceritakan menyambangi beberapa tempat wisata lokal, diantaranya Bangkok Planetarium, Taksin Bridge dan Suvarnabhumi Airport.  Loong bahkan diceritakan tinggal di sebuah kontrakan di tepi sungai Chao Phraya.  hmm.. romantis to the max nih :)

Yang menarik dari Bangkok Traffic (Love) Story adalah caranya mengemas ‘kampanye wisata’ dengan lalu lintas, festival rakyat dan wisata lokal ala Bangkok lewat cerita cinta urban.  Tapiii.. yang paling menarik tentu saja si ganteng Loong! Kalau nemu yang kaya gini di Jakarta, tolong tag satu buat saya. :)

“Membaca” Jane Austen

The Jane Austen Book Club adalah film komedi romantis yang bercerita tentang enam orang membaca dan membahas enam novel Jane Austen dalam enam bulan.

Keenam anggota klub membaca ini datang dengan cerita hidup (baca: cinta) masing-masing: Sylvia (Amy Brenneman) baru ditinggal suaminya, Daniel (Jimmy Smits), demi perempuan lain; Allegra (Maggie Grace), anak Sylvia, menjalani cinta sesama jenis; Bernadette (Kathy Baker) telah menikah enam kali; Jocelyn (Maria Bello) telah lama melajang dan hanya ditemani anjing peliharaannya; Prudie (Emily Blunt) tengah menghadapi godaan dalam perkawinannya dengan Dean (Marc Blucas); dan satu-satunya anggota pria Grigg (Hugh Dancy), penggila karya fiksi ilmiah yang belum pernah membaca Jane Austen, bergabung dengan klub ini karena tertarik pada Jocelyn.

Novel-novel Austen yang dibaca dan dibahas justru menyingkap karakter dan kisah masing-masing dan ‘mengarahkan’ langkah mereka untuk kesempatan kedua.

Film ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Karen Joy Fowler; (naskah) ditulis dan disutradarai oleh Robin Sciword.

Saya mendapatkan info ini dari sana dan dari sini.

VCD film ini saya beli secara impulsif di salah satu toko buku Gramedia, tepatnya dari sebuah keranjang diskon ;) .  Sebelumnya saya pernah mendengar judul film ini, tapi tidak pernah mencari tahu tentang cerita di balik sekelompok pecinta buku Jane Austen.  Begitu juga tentang Jane Austen.

Dari sekian film bergenre komedi romantis yang sudah saya tonton, belum ada satu film yang mampu mengalahkan sang jawara klasik My Best Friend’s Wedding di teater pribadi saya.  Namun, Jane Austen Book Club pun tak akan saya pandang sebelah mata.

Karakter yang menarik perhatian saya tak lain adalah duo Jocelyn dan Grigg.  Berawal dari obrolan singkat di lift sebuah gedung; mereka bertemu kembali dan resmi berkenalan di sebuah bar.

Jocelyn: You know what I’m wondering before I go? How do you feel about older women?
Grigg: Ah, great. I have three older sisters, so I like all women.

Awalnya saya kira Jocelyn menggoda Grigg untuk kepuasannya sendiri.  Rupanya si jomblo bahagia Jocelyn berniat ‘menawarkan’ Grigg sebagai obat pelipur lara bagi Sylvia; sangat tipikal sahabat perempuan, bukan?

Sementara Grigg, yang memang dari awal terlihat tertarik kepada Jocelyn, akan melakukan apapun demi mendekati perempuan ini.

Witting tresno jalaran soko kulino, Jocelyn justru terperangkap jurus mak comblang-nya sendiri – seperti yang sudah kita duga!  Terlambat sudah, Sylvia-Grigg terlihat mulai dekat, dan Jocelyn tersiksa dengan pemandangan baru ini.  Tak heran jika selanjutnya Jocelyn bersikap dingin dan cenderung defensif terhadap Grigg, seperti tersirat dalam percakapan sengit mereka:

Griggs: What about me? Am I your friend? Or am I just some widget to help you make Sylvia feel better about herself? Why did you invite me to be part of your book club? What went through your mind the first time you saw me? “There’s a man who is dying to read every book Jane Austen ever wrote.” Is that what you thought?
Jocelyn: No.
Grigg: But I thought, “What a beautiful woman. I hope she looks over at me.” I thought if I read your favorite books that you would read mine. But, no, no, no, no… You just want to be obeyed. That’s why you have dogs.

Jocelyn: Sex is messy. Maybe Mrs. Dashwood prefers a more well-ordered life.
Grigg: Maybe that’s why she’s such a minor character.
Jocelyn: I think if you read Austen’s novels…
Grigg: Oh, I have. You wanted me to, and I did.
Jocelyn: I think you’ll see she always writes in favor of order and self-control. Nothing unwise.
Grigg: So what, this is a rulebook?

Jocelyn berusaha menyangkal perasaannya.. dan gagal!  Pria tipikal ABCDEFG – A Boy Can Do Everything For Girl – semacam Grigg mampu membobol pertahanannya dan menciptakan sebuah happy ending.  Yaayyy!

Romansa yang berakhir bahagia memang menyenangkan; tetapi wajah culun-tapi-ganteng ala Hugh Dancy, nyentrik ala sci-fi geek, muda, sehat (karena rajin bersepeda), kaya (indikasinya: tinggal di kawasan perumahan elit dan memiliki pekerjaan mapan), dan melakukan banyak hal untuk perempuan yang disukainya.. bisa jadi kombinasi yang berbahaya dalam kehidupan nyata. :)