Tentang 2014

Gak mau kalah sama Youtube, Facebook dan Twitter yang sudah merilis kaleidoskop 2014 masing-masing, saya juga ikutan bikin 2014 year in review versi saya. Gini-gini I’m kinda big…on my blog.

Saya memasuki tahun 2014 dalam hening; tanpa riuh rendah suara petasan, letupan kembang api, maupun nyaring terompet. Maklum, saya melewati malam pergantian tahun di Banda Aceh di mana pemerintah setempat melarang adanya perayaan yang ramai. Hari-hari pertama saya lewatkan di ibukota propinsi Serambi Mekkah bersama tiga travelmates.

Saya ingat kembali ke Jakarta dalam suasana terburu-buru mengejar film The Secret Life Of Walter Mitty, salah satu film dengan powerful quotes yang menginspirasi untuk melangkah lebih jauh. Dan menginspirasi untuk berjalan-jalan lebih jauh. Misi berjalan lebih jauh itu kemudian terealisasi di pertengahan tahun, berpindah dari pulau ke pulau antara Lombok dan Labuan Bajo dan menelusuri tanah Flores, menyeberang ke Kupang sampai ke Rote.

Saya pun melangkahkan kaki dan niat lebih jauh, sampai ke titik aman mendekati Gunung Sinabung yang saat itu baru mengalami (dan sampai sekarang masih dihantui) bencana erupsi. Saya dan Tegar pergi membawa banyak buku cerita untuk anak-anak di posko penampungan, dan pulang membawa banyak cerita dari anak-anak Sinabung.

Selagi mesin masih panas, di awal tahun saya juga menyambut peluang yang datang dari kedua orang tua di kantor untuk berbagi ilmu dengan para mompreneur tentang digital marketing di program mingguan Indiemom di radio 94.7 U-FM Jakarta. Kesempatan untuk berbagi kemudian datang lagi menjelang akhir tahun, dalam sebuah sesi Kelas Inspirasi di Palembang. Misi Kelas Inspirasi ternyata masih relevan bahkan sampai hari ini: berbagi cerita dengan anak-anak SD tentang beragam profesi yang bisa mereka cita-citakan.

Banyak hal baru yang saya coba di tahun ini: berpuisi bersama Komunitas Puisi Bunga Matahari, memulai terjerumus pada hobi koleksi diecast bersama anak-anak Diecast Anonymous yang konon ingin lekas sembuh, menikmati kehidupan kedua di board game, berlatih ukulele, dan bermusik bersama teman-teman kerja dalam sebuah proyek sampingan (yang masih dalam proses produksi sampai sekarang).

Namun, tahun 2014 juga menjadi tahun dengan paling banyak perpisahan. Beberapa teman kerja mengakhiri perjalanan mereka di kantor dan melanjutkan perjalanan di tempat baru. Walaupun berpisah hanya untuk bertemu kembali dengan mereka di lain waktu, dan walaupun beberapa teman kerja baru datang dan mengisi meja-meja kosong, I’m never easy on goodbyes.

Tidak seperti dua tahun sebelumnya, tahun ini saya tidak menghadiahi diri dengan single travel ke tempat yang belum saya jelajahi; terlebih karena keterbatasan budget dan jatah cuti. Sebagai gantinya, saya menghadiahi diri cuti untuk pulang ke rumah, pulang ke titik nol saya. Sudah setahun lebih saya mengambil jarak dari tempat bernama rumah, dengan menyewa sepetak kamar sebagai ruang pribadi; pulang ke rumah adalah kemewahan buat saya. Pulang ke rumah jadi sebuah kebutuhan khususnya di bulan-bulan akhir di tahun ini, saat saya mempertimbangkan ulang keputusan-keputusan yang saya ambil, perkataan dan perbuatan yang saya lakukan; bukan untuk mengubah hal yang sudah terjadi (kehidupan tidak dilengkapi Ctrl Z seperti pada Photoshop), tetapi untuk mempertimbangkan improvisasi apa yang bisa saya lakukan di situasi saat ini.

twirasnet-2014 year on review
Sepenggal lirik Of Monsters And Men – Silhouette

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles