Tentang 2017

Menjelang akhir tahun 2017 saya lagi-lagi tergoda untuk membuat daftar kejadian penting di tahun ini. Selayang pandang. Kaleidoskop. Apapun namanya itu. Sepertinya alam bawah sadar saya butuh mengatur apa yang sebenarnya berantakan.

Mari kita mulai:

1) To resign and to resign

Kalau menurut Google Dictionary, ada 2 makna resign, dan tahun ini saya menjalani keduanya.

re·sign
rəˈzīn
verb
1.
voluntarily leave a job or other position.
“he resigned from the government in protest at the policy”
2.
accept that something undesirable cannot be avoided.
“he seems resigned to a shortened career”

Resign yang meninggalkan suatu pekerjaan atau posisi bahkan terjadi dua kali di tahun ini; ini bukan sesuatu yang saya banggakan. Resign yang pertama memang terjadi setelah melewati pemikiran dan pertimbangan panjang, walaupun mungkin tidak disertai dengan rencana lanjutan jangka panjang. Resign yang kedua mestinya tidak terjadi kalau saja saya tidak terlalu mudah terjerumus modus (atau kalau kata Astrid: bius) teman yang mengajak saya bekerja untuk timnya. Selepas kedua resign, saya melewati beberapa bulan menjadi pengangguran dan “membakar” sejumlah uang (layaknya startup) untuk bertahan hidup. Seorang teman menyebut saya “pengangguran bermartabat” karena saya terlihat baik-baik saja dan masih bisa ngopi fancy di kedai kopi. Ini mungkin memang bawaan self defence mechanism saya yang ingin menunjukkan wajah saya ke dunia kalau saya baik-baik saja, walaupun wajah yang saya tunjukkan ke diri sendiri belum tentu begitu.

Resign yang menerima bahwa hal-hal yang tidak diinginkan tidak dapat dihindari juga terjadi, dan bertautan dengan resign sebelumnya. Meninggalkan pekerjaan tanpa mengamankan pekerjaan di tempat lain (seperti yang dilakukan orang-orang pada umumnya) atau tanpa rencana lanjutan yang pasti membuat saya harus menjalani hari-hari tanpa juntrungan. Meninggalkan pekerjaan tanpa menyimpan “dana pensiun dini” dengan penuh perhitungan membuat saya harus “membakar” sejumlah uang untuk biaya hidup mandiri, sampai akhirnya harus menerima “kekalahan” dengan pulang ke rumah orang tua. Dua hal ini bukanlah yang saya inginkan, tetapi terjadi, dan saya menerima keduanya.

2) Till death do us apart

Bukan. Bukan pernikahan yang saya maksud dengan sub-judul ini.

Di awal tahun ini saya membeli tato pertama saya dari seorang tattoo artist di Jakarta. Mungkin ini komitmen terpanjang saya terhadap sesuatu; saya bersedia membawanya hingga maut (memisahkan).

3) Latte-an

Dalam rangka mengisi waktu kosong yang entah berapa lama, saya mengajukan diri untuk bekerja di suatu kedai kopi dekat rumah. Tanpa ekspektasi menjadi barista kekinian, saya hanya ingin mengisi waktu dengan kegiatan yang produktif. Ci Lidya, si pemilik kedai kopi, menerima saya sebagai barista magang dan mempersilakan saya menggunakan sumber daya yang dimilikinya–dari biji kopi, mesin espresso, sampai SDM–untuk belajar tentang kopi. Dari adik-adik barista part-timer yang rata-rata anak kuliahan, saya belajar menyajikan minuman kopi, khususnya espresso, latte dan manual brew. Setelah menjalani masa magang selama dua bulanan (dengan jadwal bebas beberapa jam sehari dan beberapa hari seminggu), saya mendapati bahwa menyajikan kopi tidak semudah kelihatannya. Sampai “hari ujian” bersama Ci Lidya, saya masih belum berhasil menyajikan latte art yang sederhana dan layak dilihat.

 

(Tenang. Yang di video itu bukan saya.)

4) I don’t know boredom. I only know fandom.

Pada suatu malam bergadang sambil kerja di rumah Astrid, saya melangkahkan kaki saya ke jurang tak berujung bernama fandom. Waktu itu video musik “DNA” dari BTS baru-baru saja rilis. Saya yang sudah beberapa kali mendengar nama BTS dari Astrid dan Nandari jadi penasaran dengan lagu baru mereka. Dari satu video musik ke video musik lainnya, lanjut ke video dance practice, tahu-tahu entah sudah berapa video Youtube yang saya tonton (beberapa lebih dari satu kali); belum lagi video-video di sumber lain; belum lagi meme di Instagram dan Pinterest. Semua berawal dari hanya ingin tahu nama tiap-tiap member, tahu-tahu saya sudah jadi Army.

5) Jadi freelancer itu…

…kaya gini ya rasanya? Kadang ada, kadang gak ada. Kadang gabut, kadang hard carry.

Sejauh beberapa project (yang bisa dihitung dengan satu tangan) ini sih saya masih menikmati pola bekerja dan mencari uang ala gig economy ini. Entah sampai kapan.

6) “You did well.”

Dari BTS fandom, saya mulai mengeksplorasi K-Pop secara umum; mengenali, mendengarkan musik, menyimak musik video dan variety show grop dan solo lainnya; mengapresiasi K-Pop sebagai produk secara umum dan “kegilaan” fandom-nya.

Maka ketika seminggu yang lalu beredar berita Jonghyun dari grup SHINee meninggal, saya bisa memahami duka yang dirasakan Shawol (nama fandom SHINee) dan fandom K-Pop pada umumnya. (Untuk ukuran penikmat K-Pop newbie seperti saya, their music makes life less shitty.) Terlebih lagi Jonghyun disinyalir bergumul dengan depresi, sebelum akhirnya (diduga) bunuh diri. (Dan isu kesehatan mental semakin relevan seiring paparan tentang isu ini.)

Di catatan yang dituliskan Jonghyun dan dititipkan ke sahabatnya untuk dirilis ke publik jika dia “menghilang dari dunia”, Jonghyun menulis: Katakan saya telah berbuat baik.

Dunia perlu lebih banyak orang untuk mengatakan “You worked hard, you did well” ke satu sama lain. It might save a life.

7) “In the end, it will all be alright.”

Ini kalimat yang kemudian diinterpretasikan Charlie menjadi desain tato yang kini melekat di lengan kanan saya. Saya ingin kalimat itu menjadi pengingat buat saya, bahwa pada akhirnya semua akan baik-baik saja. “Everything is temporary; emotions, thoughts, people and scenery,” katanya. And I’m okay with that.

 

Selamat menikmati 7 hari terakhir di 2017. Selamat mengejar cicilan resolusi tahunan bagi yang merayakannya ;)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles