Awalnya Tegar bercerita tentang ingin berbuat sesuatu terhadap korban bencana erupsi Gunung Sinabung, khususnya terhadap anak-anak di sana. Dia lantas datang dengan sebuah ide, dan meminta bantuan saya dan Lele membuat copytext (dan Acha membuat desain grafis) untuk poster ini:

poster CUAS

Dalam beberapa hari kami mengumpulkan banyak buku cerita, komik, mainan dan uang tunai. Kemudian pak bos mengusulkan menantang kami untuk turun tangan ke lokasi sekaligus, tidak sekadar mengirimkan donasi barang ke posko penampungan di sana. Dengan biaya perjalanan yang ditanggung penuh oleh kantor. Tahu-tahu, Tegar dan saya sudah memegang tiket PP Jakarta-Medan.

Tegar sudah mengusahakan kontak dengan rekan relawan yang bisa kami tebengi. Seperti berjodoh, kami bertemu dengan Komunitas Merah Putih (KMP) yang juga berniat mengarahkan bantuan tenaga dan barang untuk anak-anak Sinabung. Maka terjadilah perjalanan ke Kabanjahe dan Berastagi.

Anak-anak pengungsi Sinabung ini berasal dari Desa Payung, Simacem, Kuta Tengah, Berkerah, Kuta Mbelin, Kuta Gugung, Sigarang-Garang dan Kuta Raya, Kabupaten Karo. Mereka terpaksa mengungsi untuk menghindari bahaya akibat erupsi Gunung Sinabung. Mereka telah berada di pengungsian yang tersebar di sejumlah lokasi di Kota Kabanjahe dan Berastagi sejak beberapa bulan yang lalu dengan kondisi seadanya.

Perjalanan kami dimulai Jumat 31 Januari 2014 pagi jelang siang di meeting point Bandara Kuala Namu, Sumatera Utara. Hari itu kami habiskan dengan belanja camilan (susu, biskuit dan jelly) dan menyiapkan goodies bag berisi camilan tersebut dan alat belajar untuk anak-anak usia PAUD dan SD.

Terberkatilah Kak Nani Tan yang menyediakan rukonya untuk kami menggelar ratusan kilo barang yang kami bawa dari Jakarta, ruang istirahat, dan asupan makanan dan minuman selama 3 hari 2 malam di Kabanjahe.

nani tan

Sabtu, 1 Februari 2014 pagi kami bertolak ke lokasi pengungsian di Universitas Karo 1 dan 2. Hari itu cukup cerah, sebelum akhirnya hujan abu vulkanik mengguyur. Hujan abu vulkanik menandakan Gunung Sinabung telah kembali memuntahkan isi perutnya. (Later on kami tahu bahwa benar terjadi erupsi Gunung Sinabung yang memakan korban jiwa.) Di sana kami menyempatkan mendongeng dan bermain bersama anak-anak di pagi dan sore hari. Malam harinya kami mengajak mereka menonton bareng film Tendangan Dari Langit.

Kunjungan pada Minggu, 2 Februari 2014 berlangsung lebih cepat, karena tim KMP akan kembali ke Jakarta pada sore harinya.  Kami mengunjungi kamp pengungsian Kepala Besar, Desa Lou Gumba dan Lapangan Futsal Desa Lou Gumba; keduanya di Berastagi. Di lokasi pertama kami sempat mendongeng dan bermain, sementara di lokasi kedua kami hanya mengajak anak-anak bermain. Siang itu hujan abu vulkanik kembali mengguyur.

Setelah diskusi dan koordinasi, hari itu kami menyerahkan sisa donasi barang yang kami bawa ke rekan-rekan pecinta alam Giriwana dari Medan untuk meneruskan bantuan ini ke lokasi pengungsian lainnya.

Kondisi di keempat kamp pengungsian yang kami kunjungi ala kadarnya. Pengungsian UK 1 dan 2 masih cukup beruntung karena memiliki bangunan permanen kampus untuk tempat tinggal mereka, cukup terlindung dari udara dingin di malam hari. Sementara, kamp pengungsian di Lou Gumba hanya memanfaatkan area lapangan yang ditutupi dinding terpal. Kondisi dapur dan fasilitas MCK di masing-masing tempat tidak jauh berbeda: sama-sama darurat.

Namun, di luar kondisi yang serba terbatas itu, masih ada anak-anak dengan kreativitas dan imajinasi tanpa batas. Mereka menyambut kedatangan kami dengan tangan terbuka, literally. Kebanyakan di antara mereka gak segan mendekati kami.. bahkan menggandeng, menubruk, menggelayut. Seperti tidak mengalami apa-apa, mereka masih bisa menerbar senyum dan tawa. Bermain dengan apapun yang mereka temui di depan mata; bermain lompat tali dari karet gelang yang dijalin, bulu tangkis atau sepak bola jika beruntung.

Mereka pun gak segan berbagi cerita. Seperti Maya, yang bercita-cita menjadi penyanyi. Sebelum mengungsi kegiatan sehari-harinya adalah membantu mamaknya mencuci piring, baju dan membersihkan rumah, sepulang sekolah. Maya juga sering menelusuri kaki gunung selama serengah jam menuju ladang kopi milik keluarganya. Ketika ditanya alasan mengapa ia ingin menjadi penyanyi, dia menjawab kalau kakaknya bercita-cita menjadi pramugari tetapi sang ibu tak punya uang. Ketika Maya menjadi penyanyi nanti dia akan membantu mewujudkan cita-cita kakaknya dan membawa sang ibu pindah dari Sinabung yang menurutnya berbahaya.

Ah, semangat anak-anak ini luar biasa!

anak sinabung 1 anak sinabung 2 anak sinabung 3

Cerita dalam foto dari anak-anak Sinabung lainnya bisa kamu lihat di sini.

3 thoughts on “Tentang Anak-anak Sinabung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *