Tentang Bangsat di Jalanan Jakarta

Bangsat Satu menurunkan paksa penumpang sebelum tiba di tujuan masing-masing, karena dia mau memutar balik dan mengambil penumpang dari jalur sebaliknya.

Bangsat Dua menyetir angkot rongsoknya pada kecepatan penuh, mengambil lajur berlawanan demi melewati mobil demi mobil di depannya. Lalu menepi di dekat warung, menunggu penumpang. Sambil lalu dia mengeluh pada teman-temannya yang sedang duduk-duduk di sana. “Si Bangsat Satu kurang ajar sih, puter balik seenaknya, ngambilin sewa gua!” Temannya menimpali, “”Ya, namanya ngejar setoran. Maklum, baru punya bayi.” “Ya kaga bisa gitu, gua juga ngejar setoran kan!” si Bangsat Dua membela diri. Sementara para penumpang di dalam angkot bertanya dalam hati, mau sampai kapan si Bangsat Dua ngetem di sana?

Bangsat Delapan melaju di atas motor melewati jalan layang yang tidak diperbolehkan untuk kendaraan tersebut. Dia melawan arah lajur, membuat kagok mobil boks dan taksi yang melintasi.

Bangsat Empatbelas menginjak-injak pedal gas dan rem bertukaran di atas garis-garis hitam putih di dekat lampu lalu lintas, membuat pejalan kaki was-was kalau-kalau bus berwarna jingga itu akan menabraknya saat menyeberang jalan.

Bangsat Duapuluh Lima menekan-nekan klakson, berpindah dari lajur kiri ke lajur kanan, seolah mengumandangkan puisi ketergesaan. Mengeluhkan macetnya Jakarta dari dalam kabin ber-AC, ditemani lagu-lagu kesukaannya di radio, CD atau MP3.

 

Sudah terlalu banyak bangsat di jalanan Jakarta. Please don’t be one.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles