Tentang Bayangan Bocah di Cermin

20140312-221156.jpg

Sebenarnya saya gak suka menjelaskan diri, tapi dengan mengatakan ini pun saya sudah menjelaskan diri.

(Emangnya apa isi blog ini kalau bukan penjelasan diri?)

Pada dasarnya saya adalah manusia berkebutuhan khusus. Saya butuh dimengerti tanpa saya harus menyatakan diri. Saya pikir mereka yang dekat dengan saya sudah tau tentang saya, tanpa saya harus mengucap kalimat “Gue tuh orangnya blablabla…” Namun, pikiran saya itu rupanya ekspektasi yang ketinggian. Saya menelan kecewa saat mereka yang dekat dengan saya justru tidak/salah paham tentang diri saya.

Dan reaksi saya — pikiran, perkataan, perbuatan — sama pahitnya seperti kecewa yang saya telan. Saya jadi pasif-agresif. Diam tapi awas-aja-lo-senggol-gue-bacok. Marah, tapi sebenarnya lebih marah ke diri sendiri. Sedih tapi harus-jaga-diri-jangan-sampe-keliatan-orang-kalo-gue-nangis. Dan pikiran-pikiran negatif seliweran seperti kendaraan-kendaraan di jalanan Jakarta yang gak tau aturan.

Pikiran-pikiran negatif itu selalu bermuara pada pertanyaan besar: Am I not good enough?

Am I not good enough untuk kalian tinggalkan sebentar kesibukan kalian dan temenin gue cari sepotong kue manis? (Ya, hal seremeh sepotong kue manis pun cukup untuk jadi pelatuk yang menembakkan pertanyaan besar itu.)
Am I not good enough sehingga kalian bebankan rasa bersalah atas kelalaian kalian menjaga hubungan?
Am I not good enough sehingga lo lebih percaya dia hanya karena dia berlabel “anak kreatif”?

Dan pertanyaan besar itu adalah bayangan di cermin dari bocah yang belum menemukan dirinya. Bahkan sampai sekarang.

1 Thought.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *