Dua minggu terakhir ini saya kerap berbenah barang-barang pribadi, di rumah dan di kos. Setidaknya pada tiap hari berbenah ada sekantong barang yang saya relakan untuk keluar dari kamar dan hidup saya; sebagian saya giring langsung ke tempat sampah, sebagian saya teruskan ke orang lain yang masih bisa menerima manfaat dari barang tersebut, sebagian sedang saya tawarkan ke calon pemilik baru.

Di antara barang-barang​ yang dibenahi, yang sering kali sulit dieliminasi tentu saja barang-barang yang mengandung emosi atau kenangan tertentu, seperti jurnal dari jaman kuliah, lembaran lagu-lagu dari kegiatan kepemudaan gereja, dan kartu-kartu ucapan. Namun belakangan ini saya semakin tega “membuang kenangan”. Mungkin karena beberapa kenangan itu sudah tidak lagi relevan dengan hidup saat ini, dan hanya akan jadi beban jika saya biarkan tetap tersimpan dalam barang-barang tertentu.

Saya tidak membaca detil metode KonMari tapi setahu saya ada cara mendekap barang sambil bertanya dalam hati, “Does this thing spark joy?” Cara ini mungkin mirip dengan metode berbenah saya: lihat kondisi barang (jika berupa jurnal, kalau perlu baca dari halaman ke halaman), senyam-senyum sendiri sambil mengingat-ingat emosi yang disimpan barang tersebut. Namun, alih-alih bertanya apakah barang ini bikin saya bahagia (karena kemungkinan besar jawabannya “Ya” lalu saya tidak menemukan alasan untuk membuangnya), saya bertanya ke diri sendiri, “Kenapa sih barang ini masih ada di sini? Mau sampai kapan disimpan terus?” Kalau saya tidak bisa menjawabnya, maka barang masuk ke kantong pembuangan; kalau saya bisa menjawabnya, maka bisa jadi barang itu kembali ke tempat penyimpanan.

Selain Marie Kondo, ada juga Jane Saruwatari, penulis buku Behind the Clutter yang mengajak kita tidak hanya berbenah secara fisik tetapi juga secara mental

Decluttering isn’t just about getting your desk and closet in order. It’s about relieving yourself of all the stuff you’re hanging onto from past careers, relationships, and unfinished business. 

Beberapa barang hadir dengan beban yang melebihi bobotnya. Selipan daun maple kering jadi berbeban lebih dari sekadar sehelai daun karena mengingatkan pada teman yang pernah dekat; potongan karcis bioskop jadi berbeban lebih dari sekadar potongan kertas karena mengingatkan pada gebetan yang tak sampai; selembar surat keterangan jadi berbeban lebih dari sekadar selembar informasi karena mengingatkan​ pada kecewa yang belum juga lewat.

Laci, kontainer, dan kotak sepatu penuh dengan barang-barang yang sudah tidak relevan, sementara hati dan pikiran penuh dengan masa lalu dan urusan yang belum selesai, yang juga sudah tidak relevan. Mungkin ini yang membuat saya rajin berbenah belakangan ini: ingin menjadi relevan dengan hidup saya saat ini.

Yang mengherankan buat diri sendiri​, saya bahkan sudah tidak ingat barang-barang dan emosi apa saja yang dulu pernah saya simpan erat-erat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *