Tentang Digital VS Analog

20140212-224056.jpg

Tadi siang posting gambar ini di Path, sambil bilang: why go digital, when you can stay physical. Lalu ada teman yang komentar: why go digital? because you work in a digital agency.

The other day, sempat berbalas tweet sama teman perkara digital thingy juga. Menurut dia, kita sibuk mengejar kekinian teknologi dan social media. Menurut saya, kita bisa memilih untuk tidak mengejarnya.

And get left behind.
What’s the worst that could happen if we’re left behind?
That would be fine if you’re not working inside the industry.
In that case, yes. Outside the industry, being human, we can still choose not to.

Iya, saya memang bekerja di industri digital, di mana perkembangan teknologi dan social media melesat secepat Usain Bolt. Tapi gak berarti kita harus digital melulu. Pekerjaan yang-serba-digital itu hanya sebagian dari diri saya. Selebihnya saya manusia analog.

Pakai jam tangan analog. Lari di jalanan, bukan di treadmill. Lebih nyaman baca buku fisik daripada e-book. Lebih nyaman mencatat di notes daripada di notes app. Lebih suka dikirimi kartu pos fisik daripada e-card (ya, karena e-card udah lewat masa jayanya juga sih..). Lebih nyaman menyatakan pikiran dan perasaan secara frontal daripada #kode.

Oke, mungkin contoh-contoh tadi kurang menggambarkan kehidupan yang gak melulu digital. But you do get the point. (You SHOULD.)

Dan, ya, saya juga menikmati nge-blog, main Path dan Twitter, berkomunikasi via email dan instant messenger, foto-edit dikit-posting ke Instagram, beli tiket pesawat dan booking hotel online, googling Benedict Cumberbatch, donwload lagu via iTunes.

Digital atau analog itu cuma cara kita melakukan sesuatu. Hanya karena saya “anak” digital, bukan berarti saya gak bisa memilih cara yang tidak digital.

Speaking of not so digital.. pernah turn off semua unsur smart dari smartphone? It feels good, right?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *