Tentang Emansipasi VS Diskriminasi

“Bulan emansipasi sih, tapi jadi motoris perempuan bukan berarti bisa potong jalan seenak jidat, neng!”

Begitu kata seorang teman di twitter. Yang kemudian di-retweet seorang teman lain.

Gara-gara satu (re)tweet, saya jadi panas hati.

Pertanyaan saya: Kenapa kelalaian harus dikaitkan dengan gender, dan (apalagi) Hari Kartini? Apakah kalau kelalaian itu dilakukan oleh lelaki, mereka akan sesinis itu dan bawa-bawa “bulan emansipasi”?

Karena, menurut saya, kelalaian has nothing to do with gender, dan sangat gak relevan dengan “bulan emansipasi”.

Lalai yah lalai. Mau perempuan kek, mau lelaki kek, sama saja. Iya, memang perempuan lekat dengan stereotype kurang lihai berkendara. Tapi, bukan berarti setiap makhluk lelaki pasti lepas dari “dosa” lalai berkendara.

Lalu, apa pula “bulan emansipasi” itu? Emansipasi yah emansipasi, gak pake bulan gak pake hari. Hanya karena Hari Kartini jatuh di bulan ini, apa berarti hanya di bulan ini kata “emansipasi” punya makna?

Oke. Mungkin mereka lelah. Sudah beraktivitas seharian, di jalan masih harus ketemu pengendara perempuan yang lalai.

Kalau kondisinya: mereka lelah sesudah beraktivitas seharian, lalu di jalan ketemu pengendara lelaki yang lalai. Mungkin tweet-nya akan sama sinisnya, tapi gak bawa-bawa “emansipasi.” Mungkin.

Saya pikir inti dari emansipasi perempuan itu adalah meniadakan diskriminasi terhadap perempuan. Kartini meniadakan diskriminasi terhadap perempuan untuk “makan bangku sekolahan.”

Saya bersyukur terlahir di jaman yang sudah mengupayakan emansipasi untuk perempuan. Saya perempuan, dan punya hak yang sama (dengan lelaki) untuk bersekolah, bekerja, menyampaikan pendapat, mengambil keputusan, memimpin kelompok, memiliki rumah atau kendaraan (jika mampu). Perempuan diikutsertakan dalam kegiatan-kegiatan yang tidak mungkin terjadi pada jaman Kartini (dan jaman sekarang, di belahan bumi lain).

Tapi diskriminasi terhadap perempuan masih ada. Membedakan treatment atas hal-hal tertentu hanya karena orang yang bersangkutan adalah perempuan. Yang membuat tidak nyaman, tentunya. (Kalau “dibedakan” dalam bentuk ladies parking di mal, gerbong wanita di Commuter, dan ladies’ area di TransJakarta tentu menyamankan.)

Menurut saya, tweet teman saya itu adalah bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Treatment (dalam bentuk tweet) jadi berbeda hanya karena teman saya itu berhadapan dengan perempuan. Dan itu membuat perempuan semacam saya gak nyaman saat membacanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *