Tentang “Emma”

​​Kalau ada manusia –selain kedua atau salah satu orangtua– yang bisa menerima dan menyayangi kita apa adanya, kemungkinan besar adalah nenek atau kakek. (Atau kalau kamu cukup beruntung, ada “dia” –siapapun definisi “dia” di kamus kamu; kalau kamu belum beruntung, “dia” bahkan belum tentu membaca apalagi membalas pesan yang kamu kirim via WhatsApp. *pukpuk*)

Tanpa bermaksud ke-Amerika-Amerika-an, mari ikut merayakan National Grandparents Day, dengan mengenang –jika yang tersisa hanya kenangan– tentang nenek atau kakek kita.

Saya hanya mengenal salah satu dari lima peluang nenek/kakek (lima karena ibu saya punya ibu angkat) semasa kecil. Nenek dan kakek lainnya sudah tiada saat saya mulai bisa mengingat; sementara nenek angkat tidak dekat secara fisik dan emosional.

“Emma” (seperti Emma pada Emma Thompson) adalah nama panggilan kami untuk beliau. Di-Inggris-Inggris-kan dari panggilan “emak”. Emma meninggal di akhir bulan April saat saya duduk di bangku SD kelas… saya bahkan sudah lupa kapan Emma meninggal.

Walaupun mengenal Emma hanya sesaat, kenangan samar-samar tentang Emma masih terasa hangat.

Emma adalah teman main pertama saya, sebelum saya bermain petak umpet atau petak benteng dengan anak-anak seumuran di dekat rumah, dan bermain lompat tali (karet) atau bersepeda bersama teman-teman sekolah.

Permainan pertama kami adalah Jalan Kembang, yaitu berjalan-jalan sore mengitari rumah-rumah sekitar tempat tinggal –tidak jauh-jauh, paling hanya radius setengah kilometer– sambil sesekali memetik kembang di pohon-pohon pembatas jalan.

Permainan lain yang sering saya lakukan bersama adik, dan melibatkan Emma, adalah Jangan Ketahuan Emma. Tidak seperti petak umpet di mana pihak yang mencari sudah tahu kalau dia harus mencari, di permainan ini saya dan adik akan tiba-tiba menghilang dari pandangan Emma –bersembunyi di balik pintu atau di kolong ranjang– sampai Emma mulai mencari-cari kami. Setelah Emma meninggal, saya pikir permainan ini cukup jahat.

Sesekali Emma akan menjepit hidung saya di antara jempol dan telunjuknya. “Biar mancung,” katanya. Sayangnya hidung saya sampai sekarang masih setia pada model hidung Benyamin.

Lalu ada dua foto (yang kini entah di mana; mungkin hanyut bersama banjir) saya dan Emma, yang masih terlihat jelas di lemari arsip memori jangka panjang. Kedua foto itu diambil saat ulang tahun pertama adik saya; berarti saya sekitar umur tiga setengah tahun. Di satu foto, saya dengan rambut bob berponi dan dress selutut berlengan buntung bersandar pada tubuh Emma (yang selalu) dengan kebaya potongan kutubaru berlengan panjang dan kain batik semata kaki dililit pada pinggang; Emma sedang membetulkan salah satu kancing pada baju saya. Di foto lain, kami masih di sofa kulit sintetis merah marun yang sama, saya mengangkat salah satu kaki sambil menggigit kuku jari tangan, Emma di sebelah saya menggaruk rambut berubannya yang selalu dikonde; kacamata plusnya tersangkut di hidung.

Dulu saat saya dijemput pulang dari sekolah teriring kabar Emma meninggal, saya tidak ingat apakah saya menangis. Sekarang saat usia sudah berkali lipat dari usia SD dan hati ini sudah berkali lipat mengenal rasa kehilangan, saya rasanya ingin menangis. Bukan menangisi kenangan manis, tetapi menangisi betapa terbatasnya waktu untuk mengenal Emma; dan kekhawatiran sampai kapan saya bisa menyimpan kenangan tentang Emma dengan baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles