Tentang Memilih Bahagia

Salah satu ucapan selamat ulang tahun yang saya terima baru-baru ini disertai ucapan:

Semoga terus memilih bahagia

Dan ucapan itu datang dari seseorang yang — bagaimana menyampaikannya ya? — seseorang yang ingin saya buat bangga karena telah membantu saya membentuk diri, tapi malah saya kecewakan karena tindakan gegabah yang saya lakukan, yang selalu dia hindari.

Dan kekecewaan itu berlaku buat saya juga. Dan saya tidak bahagia, apalagi bangga, akan hal itu.

Maka perkara memilih bahagia tidak semudah menuliskannya di atas kertas untuk kemudian digantungkan pada sebuah pohon di tengah ruang publik.

Perkara bahagia, buat saya, dimulai dengan mendefinisikan apa itu bahagia, bagaimanakah bahagia itu, kapan saya bahagia.

Dan saya kesulitan menjawab pertanyaan yang saya ajukan ke dalam diri tersebut. Yang saya tau justru apa itu tidak bahagia, bagaimanakah ketidakbahagiaan itu, kapan saya tidak bahagia.

Boleh kan saya berangkat dari situ? Dari memahami ketidakbahagiaan dan tidak memilihnya. Boleh kan saya menghindari ketidakbahagiaan sebagai langkah pertama saya memilih bahagia?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles