Tentang Pak Pos

Tanpa saya sadari rupanya sosok seorang pak pos telah menjadi bagian dari hidup saya.

Saya memulai berkirim surat sejak kelas 4 SD, dengan seorang sahabat pena di Palembang. Dia mengetahui nama dan alamat saya dari surat pembaca tabloid Fantasy. Saya lupa, saya mengirim surat pembaca ke tabloid itu dalam rangka apa.

Selain sahabat di Palembang, saya juga berkirim surat dengan sahabat pena di Ungaran. Saya lupa bagaimana kami memulai berkenalan.

Kami terus bertukar cerita lewat surat sampai saya di tingkat SMU. Saya tidak ingat bagaimana atau kenapa kami berhenti berkirim surat.

Selama hampir sepuluh tahun saya selalu menantikan datangnya pak pos ke rumah. Pak pos yang bertugas mengantar surat ke alamat saya adalah seorang bapak berkumis, dengan timbre suara sedang, bertubuh ramping. Saya masih ingat bagaimana suaranya saat menyebut empat suku kata nama saya.

Tahun-tahun sesudah saya tidak lagi berkirim surat dengan sahabat pena, pak pos yang sama masih datang ke rumah. Tapi kali ini kirimannya berupa tagihan atau paket saja. Tak ada lagi panggilan nama saya.

Lalu, pak pos itu pun tergantikan oleh pak pos yang lain. Dan kini tergantikan oleh kurir jasa pengiriman paket. Tak ada lagi pak pos kesayangan saya.

Tanpa saya sadari rupanya sosok seorang pak pos telah hilang dari hidup saya.

pak pos

Sampai akhirnya saya menemukan buku ini, yang bercerita tentang seorang tukang pos yang bertugas di desa kecil di Korea Selatan. Lewat mata dan pikiran si tukang pos, ia menuturkan cerita-cerita kehidupan orang-orang di sana.

Lalu kenangan tentang pak pos kesayangan saya kembali hadir.

Terima kasih, Pak, telah mengantarkan cerita-cerita saya dan sahabat-sahabat pena saya selama tahun-tahun itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles