Saya ingin menggugat siapapun yang berencana resign untuk mempersiapkan rekan-rekannya jauh-jauh hari.
Kalau HRD mensyaratkan one month notice, rekan-rekannya punya hak yang sama untuk mengetahui keputusan resign lebih awal.
Kita umumnya menghabiskan lebih banyak waktu dalam sehari dengan rekan kerja, daripada dengan sahabat dan keluarga sendiri. Dan hubungan yang terjalin bukan hanya profesional, tetapi juga personal (by saying personal, I mean a good personal relationship). Setidaknya di perusahaan tempat saya bekerja begitu. Maka wajar saat seorang rekan resign, ada rongga tak kasat mata yang menganga — minimal secara fungsional, dan apalagi personal.
Hampir empat tahun menjalin hubungan profesional-personal di kantor ini, sudah beberapa kali saya “ditinggal wisuda” — yang meninggalkan rongga fungsional saja, maupun rongga kombo fungsional-personal.
Bedanya, rongga fugsional jadi urusan manajemen, sementara rongga personal jadi urusan pribadi tiap-tiap orang. Dan ini bukan perkara mudah.
(Minimal) sembilan jam sehari, lima hari seminggu, orang ini di bersama kita; bertemu muka, ngopi bareng, ngobrol ini-itu, berbagi cerita, dan hal-hal lain yang membuat kita dekat.
Tiba-tiba.. now you see him/her, now you don’t.

Don’t get me wrong.
Keputusan untuk resign adalah hak penuh siapapun yang merencanakannya. Dan resign bukan perpisahan permanen. (Toh masih bisa ketemu lagi!)
Tapi..

Gak ada tapi.
Saya cuma lagi terlanjur emosional saja karena baru ditinggal wisuda berondong kesayangan :)

4 thoughts on “Tentang Perpisahan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *