Tentang Pied Piper

WARNING: Mengandung spoiler serial Silicon Valley S01

 

 

Beberapa hari menjelang libur Lebaran lalu saya sempat mengumpulkan beberapa file video film yang direkomendasikan teman-teman untuk ditonton selama berlibur.

Salah satu judul film seri yang kemudian saya selesaikan selama masa hibernasi di rumah dan kost adalah Silicon Valley (SV) — yang dirangkum HBO sebagai berikut:

In the high-tech gold rush of modern Silicon Valley, the people most qualified to succeed are the least capable of handling success. A comedy partially inspired by Mike Judge’s own experiences as a Silicon Valley engineer in the late 1980s. Dari judulnya, saya kira serial itu akan serius. Namun, teman saya sudah memperingatkan di awal kalau serial itu bergenre komedi.

Yang tidak saya duga justru banyak adegan di dalam serial itu yang menggambarkan kisah klise tentang kehidupan startup, sebagaimana yang diceritakan di media. Tidak dalam pengertian negatif. Momen-momen klise itu justru memberi beberapa pelajaran (hidup). Di antaranya…

Hidup selalu memberi pilihan sulit: yang baik vs yang baik. (Karena pilihan yang baik vs yang buruk terlalu mudah.) Di SV diceritakan Richard si computer programmer dihadapkan pada dua pilihan setelah memaparkan produk algoritma kompresi file bernama Pied Piper: A) 10 juta dollar dari Gavin untuk membeli kepemilikan produk startup itu, atau B) 200.000 dollar dari Peter untuk berkontribusi dalam pengembangan produk dan startup milik Richard.

Barang yang sudah dicuri tidak dapat dikembalikan. (Atau dapat?) Richard kemudian menolak tawaran Gavin dan menerima tawaran Peter. Ada perang psikologis yang berlangsung antara Gavin dan Peter. Gavin lantas mencuri ide Richard dan mengembangkan produk serupa Pied Piper, yang dinamai Nucleus. Curi-mencuri pun tidak berhenti di ide, tapi juga di personel. Salah satu personil tim Gavin, Jared, memutuskan resign dan bergabung dengan tim Richard. Lalu Gavin merebut salah satu personil tim Richard, Big Head, dengan iming-iming gaji yang lebih memuaskan. Klise. Di industri digital agency tempat saya beraktivitas pun, curi-mencuri ide dan personil sudah jadi cerita sehari-hari.

Determinasi. Negosiasi. Argumentasi. Richard sangat kukuh untuk menggunakan nama Pied Piper untuk startup-nya, walaupun mereka tahu kalau sudah ada perusahaan lain yang menggunakan nama tersebut. Richard, yang selalu gugup saat berkomunikasi dengan orang lain, terpaksa mendekati pemilik perusahaan Pied Piper lainnya untuk merundingkan kepemilikan nama perusahaan. Walaupun mengalami beberapa hambatan karena kesalahpahaman, dan lewat negosiasi dan argumentasi yang masuk akal Richard akhirnya memenangkan kepemilikan nama perusahaan Pied Piper.

Beberapa orang memang dilahirkan menyebalkan, tapi kita tetap membutuhkan mereka. Admit it. Ada beberapa orang (kalau tidak bisa disebut banyak) di sekitar kita yang menyebalkan dalam berbagai level. Kadang (atau sering) kita berharap tidak harus berhadapan, apalagi berinteraksi, dengan orang-orang tersebut. Namun, kita juga harus mengakui kalau kita butuh orang-orang tersebut, untuk berbagai alasan. Dalam kondisi mabuk, Richard sempat menjanjikan Erlich, pemilik rumah tempat startup Pied Piper tumbuh dan berkembang, kapasitas sebagai anggota direksi. Pernyataan Richard tersebut membuat anggota tim yang lain bertanya-tanya; Erlich bukanlah orang yang Richard dan anggota tim lainnya bayangkan sebagai anggota direksi. Singkat cerita, pada akhirnya Richard mengakui kalau dia memang membutuhkan Erlich.

Identitas diri. You are what you think you are. You are what you say. You are what you eat. Atau apapun statement tentang identitas diri. Pada sebuah startup, identitas itu salah satunya ditunjukkan dalam sebuah logo perusahaan. Setelah sukses membeli nama perusahaan Pied Piper, Richard dan tim harus mempertimbangkan sebuah logo. Erlich yang nyentrik menyewa graffiti artist berbayaran mahal untuk membuatkan logo. Logo buatannya tidak hanya eksentrik tetapi juga menimbulkan keresahan sosial. Setelah melewati fase khilaf itu, Pied Piper kemudian kembali ke logo tipikal dengan inisial huruf kecil. Banyak cara untuk mengidentifikasi diri. Yang penting kita mau benar-benar jujur pada diri sendiri dan orang lain.

It’s never too old to learn, and never too young to teach. Pada suatu titik, Richard dan tim mengalami kesulitan dalam pengembangan produk mereka. Mereka terpaksa menyewa tenaga kerja tambahan untuk meyelesaikan beberapa coding. Pilihan mereka jatuh kepada Kevin, seorang bocah muda jenius yang terkenal dengan aksinya meretas kode website sebuah bank. Richard belajar beberapa hal dari Kevin, begitupun sebaliknya. Gak perlu gengsi lah kalau harus belajar kepada yang lebih muda (usia dan pengalaman).

Bring it on! Pada kondisi-kondisi tertentu dalam hidup, kita harus benar-benar beraksi untuk bisa maju selangkah ke depan, atau ke atas, atau ke samping. Tidak hanya memimpikan mimpi, tapi juga menghidupi mimpi. Richard dan tim ambil bagian dalam TechCrunch Distrupt untuk mempresentasikan Pied Piper. Untuk kesempatan mendapatkan investor. Untuk mendapatkan kepercayaan publik. Walaupun produk mereka masih belum benar-benar “matang”. Kalau kata orang sih: Kalau nunggu siap, sampai kapan pun gak bakal siap.

Stick to the plan, but be flexible. Saat semua rencana tersusun rapi, sisakan ruang terbuka di ujung jalan. Bukan karena kita tidak percaya kalau rencana tersebut dapat diwujudnyatakan. Justru karena kita sadar bahwa perubahan selalu datang di detik-detik yang tidak kita duga. Pada TechCrunch Distrupt, Gavin mempresentasikan Nucleus tanpa cela. Pied Piper mulai terancam dicap sebagai versi KW-nya Nucleus. Semua anggota tim, kecuali Jared, mulai pasrah dengan kekalahan. Mereka mengalihkan perhatian mereka dari Pied Piper ke hal-hal ringan seperti menghitung kemungkinan Erlich jerking off seluruh pendatang TCD dalam waktu singkat. Siapa sangka hal-hal ringan yang mereka diskusikan secara serius itu justru jadi ruang terbuka di ujung jalan bagi Richard untuk mengarahkan Pied Piper sebagai ide lain yang lebih brilian daripada Nucleus. They nailed it.

Cerita-cerita klise tentang berkembangnya sebuah startup dari Silicon Valley mungkin sudah sering kita dengar. Tapi banyak hikmah yang bisa kita ambil dari cerita-cerita klise tersebut.

 

 

 

Tulisan juga dipublish di Medium.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles