Tentang Sepotong Kue Manis

Lagi-lagi saya lupa kalau tiap orang bertanggung jawab atas perasaannya sendiri.

Termasuk rasa ingin menikmati sepotong kue manis di sore hari.
Mungkin cokelat, mungkin keju, mungkin green tea.
Yang sebenarnya bisa dicari tanpa perlu ada yang menemani.
Paling-paling yang pegal hanya kaki sendiri.

Tentu akan lebih menyenangkan kalau ada yang sejalan.
Apalagi sambil hahahihi atau sumpah serapah persetan.
Pencerita dan pendengar saling bertukar peran.
Bukankah itu gunanya teman?

Ah, tapi tidak semua jalan bersimpangan.
Belok ke toko kue mungkin terlalu memaksakan.
Apakah pencerita siap mendengarkan,
Saat pendengar ingin menyampaikan pesan?

Seharusnya saya cari sepotong kue manis itu sendiri.
Mungkin sekarang lidah saya tidak pahit begini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *