Tentang Word Crimes

Balada grammar police dalam lagu Word Crimes

 

Selain bekerja penuh waktu pada sebuah digital agency, saya juga bekerja tanpa kenal waktu membela tata bahasa dan ejaan yang tepat. Sebagai pengguna bahasa, saya pikir itu hal paling sederhana yang bisa saya lakukan. Tata bahasa dan ejaan yang tepat memang perlu dibela, karena mereka tidak dapat membela diri sendiri saat disepelekan oleh begitu banyak orang.

Baru-baru ini Weird Al Yankovic merilis 8 video dalam 8 hari dalam rangka promosi album terbarunya, Mandatory Fun. Kedelapannya adalah parodi lagu dan video dari lagu-lagu populer yang sudah ada. Salah satunya, yang menjadi favorit saya, adalah Word Crimes, yang berisi sindiran tentang kesalahan penggunaan kata-kata yang sering terjadi (dalam bahasa Inggris, tentunya).

Pop quiz: Kapan kita menggunakan “It’s less” dan kapan kita menggunakan “It’s fewer”? Simak jawabannya di video ini.

Reaksi pertama saya melihat video ini: THANK YOU, WEIRD AL!

Sebagai yang sering dituduh sebagai grammar police, saya seperti mendapatkan dukungan moral untuk meneruskan misi saya memberantas word crimes, khususnya dalam bahasa Indonesia.

Berikut adalah beberapa “kejahatan” yang sering terjadi di sekitar saya:

Disini. Demi Kamus Besar Bahasa Indonesia, tolong bedakan “di” sebagai preposisi dan “di” sebagai imbuhan! Sebagai keterangan tempat, kata itu seharusnya ditulis sebagai “di sini” (dengan spasi). Sebagai pembentuk kata kerja pasif, kata itu ditulis sebagai “ditulis” (tanpa spasi). Hal yang sama juga berlaku untuk penggunaan kata “ke” dan “dari”.

Aktivitas VS Aktifitas. Dan kata-kata berakhiran -itas lainnya seharusnya ditulis dengan -vitas, dan bukan -fitas. Loh kok begitu? Kan “aktifitas” diambil dari kata dasar “aktif” yang menggunakan “f”? Begini penjelasannya: Bahasa Indonesia menyerap bahasa asing dalam berbagai bentuk, di antaranya kata dasar (active) dan kata berimbuhan (activity). Bentuk kata serapan pun menyesuaikan bentuk aslinya secara penuh, sehingga “active” menjadi “aktif” dan “activity” menjadi “aktivitas”. “Aktivitas” bukanlah bentuk serapan kata ”aktif” ditambah imbuhan -itas (karena Bahasa Indonesia tidak mempunyai imbuhan semacam itu!).

Merubah. Menjadi rubah? Sebagai bentuk kata berimbuhan dari kata dasar “ubah” (yang bermakna menjadi lain atau berbeda dari semula), seharusnya ditulis mengubah, yaitu kata dasar “ubah” dipertemukan dengan variasi dari imbuhan me- (meng).

Sekedar. Sekadar mengingatkan, untuk makna “seperlunya atau seadanya”, “hanya untuk”, dan “sesuai atau seimbang atau sepadan”, penulisan kata yang tepat adalah “sekadar”.

Kedua atau ke dua? Kata ke- yang diikuti kata bilangan (satu, dua, sepuluh, seratus, dll) bertindak sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (contoh: anak kedua, orang ketiga, abad kesepuluh) dan kata bilangan kumpulan (contoh: kedua anak, kesebelas pemain sepak bola) ditulis tanpa spasi. Bentuk kata bilangan ditulis secara berbeda jika bilangan dituliskan dalam angka (1, 2, 10, 100, dll) dan bukan kata (satu, dua, sepuluh, seratus, dll), menjadi: anak ke-2, ke-11 pemain sepak bola, abad ke-10. Pada kondisi tertentu, penulisan kata bilangan dapat menggunakan bilangan Romawi (I, II, X, XX, dll). Di sini, penggunaan ke- luruh, sehingga kata bilangan ditulis menjadi: abad X.

Masih banyak “kejahatan” lainnya yang (terlalu) sering kita — penutur asli Bahasa Indonesia — gunakan. Saya pikir tidak terlambat untuk kita belajar ulang tentang penggunaan Bahasa Indonesia yang tepat guna dari waktu ke waktu.

Untuk sementara waktu, tolong jangan ulangi kesalahan yang sama. Terima kasih.

 

 

 

Tulisan juga dipublish di medium.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles