Tiga hari terakhir (23-25 September) saya kebagian jatah me-live tweet dari event Java Soulnation 2011. Kebetulan, salah satu klien di kantor menjadi sponsor utama. Dan kebetulan, kantor saya dijatahi ID pass.

Jangan harap saya akan mengulas satu per satu performance di sana ya..

Hal paling menarik dari event ini adalah fakta bahwa event semacam ini — yang dibandrol harga tiket lumayan mahal — jadi semacam etalase siapa dan seperti apa masyarakat pecinta musik.

Seperti apakah mereka? Ciri-cirinya sebagai berikut:

  • Berkacamata dengan frame RayBan-sejuta-umat
  • Menenteng kamera DSLR, dari yang amatir sampai profesional (yang saya maksud tentunya bukan pewarta foto)

Err.. Sepertinya saya salah kaprah. Tapi di sana terlalu banyak pemandangan seperti ciri-ciri di atas sehingga saya pikir itulah gambaran masyarakat pecinta musik saat ini :D

Buat saya pribadi, ada beberapa hal yang menarik dari JSF2011 ini.

Musik Indonesia Asik!
Saya bukan pendengar musik yang pemilih. Tapi bukan juga yang selalu update dengan pilihan musik yang (sebenarnya) ada. Upaya maksimal saya sekadar pasang Top 100 Youtube dan FM radio — yang playlistnya itu lagi itu lagi :|

Makanya saya suka kagum sendiri saat menemukan musisi lokal yang musiknya asik. Ya.. walaupun definisi asik tidak selalu berbanding lurus dengan manggung di ajang barometer musik lokal semacam Dahsyat atau Inbox.

Musisi lokal yang karyanya baru pertama kali saya dengar di JSF2011 diantaranya: Sir Dandy dan Agrikulture. Ada juga Tika & The Dessident yang sebelumnya pernah saya dengar, juga di sebuah event musik hasta karya sang klien. Dan langganan festival musik: Maliq & D’Essentials.

   

And they’re awesome!

Soulful Enough

Saya gak ngerti sama pengkotak-kotakan genre musik. Kenapa LMFAO, Sophie Ellis-Bextor dan Depapepe bisa masuk kategori soul? Bukannya soul itu semacam R&B, hip-hop & funk gitu? (Seseorang, tolongg selamatkan saya dari misinterpretasi ini.)

Saya sih senang-senang saja bisa mendengar berbagai macam warna musik dalam satu area.

Yang paling menarik bisa jadi musik yang disajikan di atas panggung Global Organic. Yang kadang electronic, kadang funk, kadang jazzy, kadang rock & roll. (Tuh kan, lagi-lagi saya terjebak dalam istilah yang saya gak ngerti.) Pokoknya panggung ini ‘bunyinya’ agak beda dibanding panggung-panggung lainnya deh.

Musisi yang paling banyak manggung (yes, mereka tampil 3 kali dalam 3 hari) dan sukses bikin abegewati histeris adalah Valerius. Band asal Belanda ini bermuka ala boyband dan bermusik ala Incubus. (Semoga Incunesia gak protes dengan pembandingan ini.) Gak perlu saya jelaskan kenapa mereka digilai abegewati kan?

Nah, yang juga gak kalah seru tentunya penampilan si manekin Sophie Ellies-Bextor. Tante yang satu ini kece banget ya! Tampil sederhana, interaktif sama penonton (yang sudah berdesak-desakan demi nyai, eh, demib tante), and she moves like Jagger.

Terakhir, yang saya sempatkan menonton sendirian adalah Depapepe. Catatan buat yang gak tau seperti apa musik Depapepe: kalau kamu suka nonton acara-acara in-house-nya Trans TV atau Trans 7 dan denger alunan musik gitar akustik.. Nah, itu Depapepe.

Apa jadinya duo gitar akustik dengan lagu-lagu tanpa vokal di atas panggung? Ternyata seru juga menyaksikan interaksi mereka dengan penonton, bahkan dalam keterbatasan kata. Sebagai ganti lirik, penonton diajak bertepuk tangan atau sekadar ber-lalala mengikuti denting gitar. And it sounds great. Dan, disaat musisi luar negeri lainnya mentok di kosakata ‘Apa kabar’ dan ‘Aku cinta kalian semua’, duo Jepang ini selangkah lebih maju dengan ‘Mantab.’

Persembahan Terakhir

Jadi, apa yang bikin festival musik ini istimewa?

Sebenarnya gak ada bedanya dengan festival musik lainnya, yang punya cerita masing-masing kan?

Yang beda adalah, tugas live tweet ini jadi persembahan terakhir untuk sang klien — yang sudah lama jadi klien bahkan saat saya pertama masuk kantor, lebih dari setahun yang lalu. We did good, we did better, we did great. Tapi yah.. all good things come to an end ;)

Catatan: saya akan menambahkan foto-foto dari event ini. Baik itu dari kamera poket dari loker kantor atau ‘pinjam’ dari hasil jepretan orang lain ya..

2 thoughts on “Ter-Soulnation-isasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *