Tentang Paser

Awalnya mas bos di kantor bercerita tentang pengalamannya berbagi di salah satu sekolah di Jakarta dalam rangkaian kegiatan Kelas Inspirasi. Dia berbagi cerita ke murid-murid sebuah SD tentang bagaimana membuat gambar bergerak (animasi) secara sederhana. Ada yang menyentil hati saat tahu kalau tipikal gambar yang dihasilkan anak-anak SD itu masih seputar dua gunung, matahari terbit dari antaranya, jalanan berkelok dan sawah di kanan-kiri. Gambar tipikal itu belum berubah sejak jaman saya SD. Dan itu terjadi di SD yang berada di ibukota — dengan akses informasi yang lebih terbuka lebar. Lalu, mas bos “menantang” kami untuk ikutan berbagi di Kelas Inspirasi berikutnya, dengan jaminan cuti tidak dipotong dan biaya didukung kantor.

Challenge accepted!

Jadilah saya nekat mendaftarkan diri untuk Kelas Inspirasi berikutnya dan memilih Paser sebagai destinasi. Kenapa Paser? Karena saya tidak tahu apapun tentang Paser. Informasi tentang Paser terbatas, tidak seperti informasi tentang Jawa Timur dan Balikpapan — keduanya juga merupakan destinasi Kelas Inspirasi di gelombang yang sama.

Sekilas tentang Kabupaten Paser akhirnya saya temukan di Wikipedia.

Pemandangan Tana Paser, ibukota Kabupaten Paser

 

Bahkan Google Maps gak bisa mengalkulasi jarak dari Balikpapapn ke Paser
Bahkan Google Maps gak sanggup mengalkulasi jarak dari Balikpapan ke Paser

 

Persiapan yang saya lakukan cukup sederhana; selain membekali diri dengan tiket pesawat pergi-pulang Jakarta-Balikpapan dan booking hotel di Tana Paser, saya menyiapkan materi sharing untuk murid-murid SD di sana. Di kesempatan ini saya berbagi tentang bercerita (storytelling), walaupun profesi utama saya di bidang digital marketing. Saya bermaksud mengajak anak-anak di Paser untuk bercerita lebih banyak tentang tempat mereka lahir dan dibesarkan; karena dari merekalah kelak Paser bisa dikenal lebih baik oleh orang-orang di luar Paser.

Perjalanan Dimulai!

Perjalanan menuju Kabupaten Paser ditempuh dengan terbang dari Jakarta ke Balikpapan, lanjut menyeberang selat menggunakan speedboat sederhana, perahu “klotok” atau kapal ferry dari Pelabuhan Semayang (atau pilihan dua pelabuhan lainnya di Balikpapan) ke Kabupaten Penajam Paser Utara, lalu menyetir atau menumpang kendaraan umum yang disebut “taksi” selama 3-4 jam (dengan kecepatan ala sopir AKAP) ke Kabupaten Paser.

Tiba di Balikpapan, saya dijemput tim Pengajar Muda Paser. (Dan selama di sana saya ditemani mereka.) Pengajar Muda (PM) adalah relawan yang mendedikasikan diri mereka selama satu tahun untuk program Indonesia Mengajar. Dari mereka, saya mendapat banyak cerita menarik tentang hampir setahun ‘mblusuk’ ke pedalaman Kabupaten Paser. Ternyata kondisi seperti di film Laskar Pelangi masih terjadi di sana: bangunan sekolah yang tidak layak, akses ke sekolah yang sulit, kondisi lansekap yang menantang, dan segala usaha untuk mendekati pihak administratif setempat demi mendapat dukungan networking dan fasilitas.. semua terjadi di tempat yang berjarak beberapa jam dari ibukota.

Kelas Inspirasi (KI) sendiri adalah sebagian kecil dari usaha meluaskan pengetahuan anak-anak sekolah tentang keberadaan beragam profesi yang bisa mereka pilih menjadi cita-cita. Kenyataannya, cita-cita yang anak-anak ini kenal hanya terbatas di profesi-profesi yang nyata di depan mata mereka. Saya dan relawan KI lainnya cukup beruntung ditempatkan di sekolah-sekolah di “tengah kota” Kabupaten Paser, di mana anak-anak bisa dengan lantang menyebut bercita-cita menjadi tentara, dokter, atau pemain sepak bola. Sementara anak-anak di pedalaman Kabupaten Paser bahkan tidak mengerti harus bercita-cita menjadi apa. Saat ditanya mau jadi apa besar nanti, jawaban mereka malah: “Saya mau jadi bunga, Bu!” atau “Saya mau jadi helikopter!” Ini terdengar menggemaskan sekaligus mengenaskan.

Cita-cita murid-murid kelas VI-A SDN024, Tana Paser
Cita-cita murid-murid kelas VI-A SDN024, Tana Paser

 

Selain saya, ada dua orang lagi dari Jakarta — Mbak Kiki, staff senior di Bank Indonesia , dan Egi, staff di Sekretariat Negara. Kami sempat “dituduh” salah memilih lokasi KI di formulir pendaftaran online. Segitu gak yakinnya para PM ini kalau kami sudi berangkat dari Jakarta ke Paser. Huft :D

Saya, Egi & Mbak Kiki dari Jakarta
Saya, Egi & Mbak Kiki dari Jakarta

 

Sebelum beraksi di kelas masing-masing, kami dibekali tips dan trik memimpin kelas; dengan praktik class management dan ice breaking. Salah satu lagu dan gerak untuk ice breaking di kelas yang menjadi favorit di beberapa sekolah adalah tentang hewan-hewan di laut. Lagu dan geraknya begini:

 

Kelas Inspirasi berlangsung hanya satu hari, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Kesamaan waktu memang disengaja oleh pihak panitia KI sebagai pengingat kalau masih banyak yang bisa dilakukan oleh pemuda pemudi Indonesia. Dari puluhan sekolah di Kabupaten Paser, memang hanya 10 sekolah yang didatangi para relawan KI — maklum ada keterbatasan jumlah relawan. Semoga di lain waktu sekolah-sekolah lainnya bisa didatangi para profesional lainnya. Siapa tahu, kamu yang sedang membaca tulisan ini juga berminat?

Di akhir pelaksaanaan KI di sekolah masing-masing diadakan perayaan penutupan kecil-kecilan. SDN024 yang saya kunjungi menutup hari inspirasi dengan melepas balon-balon yang membawa semangat dan cita-cita para murid ke langit. Setidaknya itu yang kami rencanakan. Pada pelaksanaannya, perayaan penutupan malah lebih seru dari rencana kami :D

 

Ternyata…

Yang saya dapatkan dari KI Paser malah melebihi ekspektasi. Semangat anak-anak untuk berbagi cerita dengan saya — yang adalah orang asing di mata mereka — begitu meluap-luap. Saya berangkat membawa sebuah cerita, dan pulang membawa ceita-cerita mereka tentang Paser dan cita-cita.

Dan yang lebih mengejutkan adalah panitia Kelas Inspirasi, yang terdiri dari para Pengajar Muda Paser untuk Indonesia Mengajar dan relawan setempat. Semangat mereka untuk mengajak banyak orang berbagi cerita tentang profesi masing-masing ke adik-adik di Paser begitu kuat; lebih dari cukup untuk menaklukan segala tantangan keterbatasan akses dan fasilitas di lapangan. Salut untuk Kelas Inspirasi!

Relawan dari Jakarta bersama para Pengajar Muda Paser
Relawan dari Jakarta bersama para Pengajar Muda Paser

 

 

 

BONUS

Yang perlu kalian tahu tentang Kabupaten Paser:

  • Serba ungu. Gedung-gedung pemerintahan daerah, zona menyeberang jalan, lapangan di depan kantor bupati, tempat sampah, mobil dinas pemerintahan daerah… the list goes on.
  • Cara unik masyarakat setempat menikmati mie instan: cukup sobek bungkus mie instan, sisihkan kantong bumbu, seduh mie di dalam plastik dengan air panas, tunggu beberapa saat, buang bungkus, campur mie seduhan dengan bumbu pelengkap. Selamat menikmati.
  • Ramedho — tempat paling “happening” se-Tana Paser. Tempat buat ngopi-ngopi dan cemal-cemil cantik sambil nyanyi-nyanyi di open karaoke. Tapiii… cuma boleh menempati 1 meja (seberapapun banyaknya rombongan yang kamu bawa!) dan cuma boleh pilih 4 lagu (seberapapun besarnya hasrat untuk nyanyi 4 album!)
  • “Jerman Barat” vs “Jerman Timur” — istilah yang saya dengar dari para PM tentang kesenjangan yang terjadi di masyarakat Tana Paser yang hanya dipisahkan Sungai Kandilo. Lansekap di “Jerman Barat” lebih modern, sementara di “Jerman Timur” aspal pun jarang.
  • Taman Siring (CMIIW), yaitu area di pinggir Sungai Kandilo, dekat jembatan penghubung “Jerman Barat” dan “Jerman Timur”, tempat masyarakat Tana Paser berekreasi. Lengkap dengan fasilitas permainan seperti seluncur dan jungkat-jungkit, dan jajaran pedagang jajanan. Sayangnya, saya tidak menemukan jajanan khas Paser.
  • Bukan Belum jadi destinasi wisata. Untuk ukuran hotel paling mahal se-Tana Paser, yang saya dapatkan hanya ruang kamar yang lebih mirip kamar kos sederhana yang kurang terawat. Begitulah.

 

Cerita (dalam foto) tentang Kelas Inspirasi Paser juga bisa kamu lihat-lihat di Facebook saya :)

6 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles