The End

The end of a melody is not its goal: but nonetheless, had the melody not reached its end it would not have reached its goal either. A parable. -Friedrich Nietzsche

Sejak kecil saya berteman dekat dengan beberapa orang saja di tiap lingkaran. Waktu SD malah, seingat saya, baru berteman dekat mulai kelas empat. Hanya tiga empat teman yang benar-benar dekat. Tahun-tahun berikutnya juga sama saja; angka itu cukup konsisten rupanya.

Kalaupun saya nongkrong bareng dengan banyak orang, pasti hanya beberapa di antaranya yang benar-benar dekat. Inner circle, kalau kata Path.

Maka, teman dekat adalah kemewahan buat saya. Tamu sangat penting yang saya izinkan berkeliling melihat lebih dekat bangunan bernama ego, bahkan dari sisi yang paling rapuh sekalipun.

And then life happens.

Teman-teman yang dulu pernah dekat, sekarang terpisah jarak waktu, ruang dan prioritas. Kami tidak lagi bertukar kata, apalagi kalimat, serutin dulu.

Beberapa pribadi masih mudah dikenali. Sehingga mudah menyatukan kembali kepingan yang sempat berceceran ke mana-mana lalu meneruskan puzzle yang kami susun bersama.

Beberapa pribadi sudah sulit dikenali. Beda frekuensi. Dia seperti bersuara, tetapi saya sudah tidak bisa lagi mendengar bunyinya. Kehilangan kemampuan beradaptasi satu sama lain. Kembali menjadi wajah asing.

Ingat pesan Bang Napi? Kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat dari pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan.

Lalu, teman, kenapa kita tidak sedekat dulu? Mungkin karena tidak ada kesempatan. Tapi pasti karena tidak ada niat dari diri kita masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles