Tiga Puluhan

Gambar dari sini

Saya ingat betapa antusiasnya menyambut usia kepala tiga beberapa tahun lalu. Buat saya saat itu tiga puluh adalah angka psikologis; legitimasi kalau saya perempuan dewasa. Saya menantikan usia tiga puluh sejak lama; sejak memandang salah satu kakak sepupu yang memancarkan aura “perempuan dewasa” di usia tiga puluhannya.

And then lyfe happens.

Menginjak usia tiga puluh seperti berjalan menggunakan sandal jepit swallow yang alasnya sudah botak di atas ubin basah baru saja dipel. Tergelincir. Terpeleset. Tahu-tahu saya sudah tiga puluh empat.

Tunggu! Apa saja yang terjadi di 30, 31, dan 32?

Tenang, saya masih ingat kok apa saja yang terjadi di tahun-tahun itu. Kalaupun tidak ingat, saya bisa melihat catatan di jurnal analog.

Seperti inilah menjadi tiga puluhan versi saya: Menjadi selektif terhadap hal-hal mana yang penting untuk diingat dan diperhatikan.

Beberapa hal penting dalam setahun terakhir yang ingin saya bagikan khususnya ke kamu yang belum terperosok ke lembah usia tiga puluhan dan ke diri saya sendiri (karena suatu hari saya akan perlu diingatkan lagi):

1) Yuk Jalan-Jalan: Sendiri, Beramai-Ramai, atau Berdua Saja

Setahun ini rupanya saya cukup sering berjalan-jalan: sendiri ke Bangkok dan Chiang Mai, beramai-ramai bareng teman-teman dekat ke Cirebon, road trip bareng beberapa teman kerja ke Ngawi, dan “survey trip” berdua bareng sahabat ke empat kota di Jepang.

Cerita terbaru buat saya adalah berjalan-jalan berdua saja bareng sahabat; sebelum-sebelumnya paling sedikit bertiga. Cara baru yang masih saya evaluasi, resapi, dan endapkan.

Masing-masing cara tentu punya kelebihan, kekurangan, dan cerita sendiri. Masing-masing menyenangkan dengan caranya tersendiri.

2) Orang Tua Kita Semakin Tua

Satu hal yang semakin hari semakin saya sadari adalah bahwa orang tua kita semakin tua. Banyaknya cerita tentang kondisi kesehatan orang tua teman-teman yang menurun, ditambah lagi insiden patah tulang ibu saya sekitar dua tahun lalu, membuat saya menyadari bunyi detik jam yang semakin terdengar jelas.

Kenyataan bahwa mereka semakin tua dan suatu hari akan meninggalkan dunia bukan sesuatu yang tabu dan perlu kita hindari kok.

3) Mereka Juga Keluarga

Awal tahun ini salah satu anjing peliharaan di rumah meninggal. Sudah tua dan lelah, memang, tapi tetap terasa mengejutkan.

Kita juga perlu bersiap kehilangan anggota keluarga non-manusia. Apalagi kalau mereka sudah terlalu lama tinggal di hati kita.

4) Investasi Pada Kesehatan

Tenang. Saya tidak sedang mempromosikan produk asuransi kesehatan dengan keuntungan investasi. Saya mengajak kamu untuk menyisihkan sebagian penghasilan untuk memeriksakan kondisi kesehatan, baik secara umum maupun khusus.

Sejak tiga puluh, sudah dua kali saya memeriksakan kondisi kesehatan reproduksi. Maklum, ada kondisi khusus di area dapur saya itu. Biaya yang dikeluarkan memang lumayan, tapi sebanding dengan manfaatnya. Saya jadi tahu status kondisi saya dan tahu harus melakukan apa untuk menjaga diri tetap sehat.

5) Rasakan Suara

Tahun ini saya belajar mendengarkan suara perasaan dengan lebih baik berkat mengikuti program Act and Feel. Di program ini saya belajar untuk mengidentifikasi tiap reaksi perasaan atas aksi perbuatan yang aktif (yang saya lakukan dan dalam kendali diri) dan pasif (yang terjadi dan di luar kendali diri).

Selain suara perasaan, saya juga belajar mendengarkan suara tubuh. Sesederhana mengenali suara tubuh yang kurang tidur, masuk angin, atau butuh istirahat; sekompleks mengartikan suara tubuh yang ngidam cokelat. (Konon artinya tubuh kurang magnesium, sehinga bisa dipenuhi dengan kacang-kacangan, ikan, sayuran hijau, dan tentu saja cokelat.)

Suara lain yang perlu kita dengarkan adalah suara mereka yang kita percaya–yang menyampaikan hal yang tidak menyenangkan tentang kita di depan muka, bukan di balik punggung; yang masih menemani kita, walaupun tidak bisa membantu, dalam situasi buruk.

6) In the End, It’s Gonna Be Okay

Trump terpilih jadi presiden AS. Ahok resmi berstatus tersangka kasus penistaan agama. Bandung kebanjiran (lagi). Young Lex ngerap freestyle. Coldplay gak mungkin konser di Indonesia.

Ya sudah. Gak apa-apa. Karena pada akhirnya Trump, Ahok, Bandung, Young Lex, dan Coldplay cuma atribut dalam hidup kita.

(Sayangnya hidup belum berakhir, so we gotta deal with them.)

7) I’m (Still) Okay

Teman-teman seusia dan bahkan lebih muda dari saya pada umumnya sudah berkeluarga dengan satu atau dua anak, pada jenjang karir tinggi, berkendara sendiri, tengah menyicil KPR, berjalan-jalan lintas benua, memakai tas dan sepatu merek premium, dan/atau bisa pesan makanan tanpa pusing mikirin harganya.

Saat ini saya antitesis dari semua itu, dan saya baik-baik saja. (Oke, saya iri pada mereka yang bisa pesan makanan tanpa pusing mikirin harganya, tapi selebihnya saya baik-baik saja.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles