rupiah

Uang bukan masalah; uang itu rejeki.  Cari uang juga bukan masalah; cari uang itu kerja.  Buang uang*.. nah, itu baru masalah!

Buang uang jadi masalah karena kegiatan ini gampang-gampang-susah (lebih banyak gampang daripada susah).

Gampang karena buang uang dapat dilakukan dalam sekejap mata – seperti pada aksi pesulap menghilangkan koin dari kedua tangannya (tanpa memunculkannya kembali dari balik telinga seorang penonton).  Uang begitu gampang meluncur dari tangan kita, meninggalkan kita sendiri, tertunduk memaknai frase ‘gone too soon’.  Kadang kita perlu menekan tombol rewind dan slow motion untuk mengingat kembali ke mana uang itu berlalu.  Ah.. saya ingat sekarang!  Makan siang di Burger King.  Nonton film kartun di XXI.  Ngopi di Starbuck.  Pulang naik Blue Bird.  Borong DVD (beli 10 gratis 1, cuy!).  Belanja buku di Gramedia (mumpung diskon 30% nih!)… and the list goes on.

Gampang karena kita selalu tahu bagaimana menghabiskan uang – terlepas dari bagaimana kita mengumpulkan pundi-pundi tersebut.  Notebook canggih.  Smartphone gaya.  Jam tangan gaul.  Wisata kuliner dan outlet di Bandung.  Backpaking ke Vietnam.  Kredit motor mathic.  Beli sepeda lipat.  Kuliah ekstensi.  Buka toko… and all the things money can buy.

Susah karena kita TIDAK selalu tahu bagaimana menghabiskan uang DENGAN BIJAK – mengingat bagaimana kita mengumpulkan pundi-pundi tersebut.  Mengutip kalimat ustad Zainuddin MZ: Intinya pengendalian diri :D.  Hal pertama yang saya catat dari ‘ceramah’ perencanaan keuangan dari banyak  mulut: anggaran alias budget, yaitu belajar mengendalikan nafsu buang uang dengan membuat anggaran belanja yang disesuaikan dengan pendapatan.  Mengendalikan nafsu?  Gampang.  Membuat anggaran belanja sesuai pendapatan?  Juga gampang.  Setia pada anggaran?  Benar-benar menjalankan perencanaan keuangan sesuai anggaran?  Benar-benar mengalokasikan uang hanya pada pos-pos yang sudah dianggarkan? Susah! Susah!! Susah!!!  (Tidak perlu saya jelaskan mengapa, kan?)  Pencerahan ke dua tentang perencanaan keuangan: prioritas, yaitu mengalokasikan anggaran menurut tingkat kepentingan. Nah loh?! Jebakan nih!  Semuanya sama penting; sama-sama dibutuhkan, sama-sama diinginkan.  Eh, tunggu dulu.. yang ini masih bisa ditunda kok.. yang itu juga kalau ada tabungan lebih saja deh.. yang ini, boleh lah sesekali.. yang itu, sudah lah, toh saya gak akan mati (jiwa, kalau tidak raga) kalau tidak kesampaian.

Perencanaan keuangan bisa jadi pelajaran paling sulit ke dua (setelah ‘relationship 101’) di sekolah bernama kehidupan ini, tapi sekaligus menantang.  Dan saya suka pelajaran ini.  Kalau kamu?

*bukan dalam arti kata sebenarnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *