Dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Amin.

Saya (Kristen) Katolik. Artinya saya mengimani dan mengamini Tuhan yang disebut Allah, Yesus, Kristus dengan tata cara ibadah a la Katolik (Roma, tepatnya).

Dia Kristen. Protestan. Pantekosta.
Dia Budha.
Dia Islam. Muslim.
Dia Hindu.
Dia Kong Hu Chu.
Dia.. percaya akan YME.
Dia tidak.
Dia KTP. Bisa Katolik, Kristen, Budha, Islam, Hindu. Karena pilihannya hanya 5 itu.

Saya khawatir. (Eh, ini bukan agama loh, tapi perasaan.) Saya khawatir kalau agama telah bertransformasi terlalu jauh dari ‘bahasa’ kasih manusia kepada Tuhan menjadi institusi, organisasi, grup, klub.. (bahkan mungkin) koperasi simpan pinjam! Lengkap dengan syarat & ketentuan yang berlaku.

Bukankah intisari pesan semua agama sama? Singkat kata: I love you, God.
Hanya saja cara masing-masing agama menyampaikannya yang berbeda. Sama ‘what’, beda ‘how’.

Don’t get me wrong. Gak ada yang salah dengan perbedaan itu.. Kecuali pada saat perbedaan itu jadi masalah (atau kalau kata ‘masalah’ terlalu besar: halang rintang).

Sudah nonton film indie ‘Cin(T)a’? Film ini bercerita tentang apalagi-kalau-bukan cinta antara perempuan dan laki-laki yang kebetulan (atau justru bukan kebetulan?) menyebut Tuhan dengan nama yang berbeda. Perbedaan itu jadi halang rintang saat keduanya ingin menyatukan hati. Klise memang. Tapi nyata. Senyata cerita seorang sepupu. Senyata cerita seorang teman.

Yah.. lalu halang rintang itu meruncing saat memasuki zona P. Pernikahan.

Karena di tanah air yang kita pijak, institusi bernama agama masih belum terbuka untuk merger dengan institusi agama lain dalam kontrak pernikahan.

Selama institusi bernama agama itu belum terbuka untuk merger.. lebih mudah untuk melupakan ide kontrak pernikahan. Less complication.

Kontrak itu lebih mudah ditandatangani saat kedua insan yang saling mencinta itu bercakap-cakap dengan Tuhan dalam bahasa yang sama.

Maka opsi yang sering muncul adalah pindah agama. Yang tentu lebih rumit dari pindah kantor atau pindah kost. Karena iman, seperti halnya perasaan (apapun), tidak dapat dipaksakan, bukan?

Seperti doa-menjadi-kenyataan bila salah satu insan itu memang terpanggil hatinya untuk mengimani Tuhan dalam bahasa yang berbeda. But hey, have I mentioned it can’t be forced?

Pada sepupu dan teman saya terjadi demikian. Itu pun tidak menjamin kisah keduanya bebas halang rintang. Ada keluarga yang perlu diyakinkan bahwa pilihan ‘convert’nya itu bukan sekadar meluluskan urusan pernikahan melainkan panggilan hati. Ada komunitas yang perlu diyakinkan bahwa ‘transfer pemain’ dari agama yang satu ke agama yang lain tidak ada perhitungan untung-rugi.

Saya jadi kepikiran: wouldn’t it be nice if we all practice only one religion? Semua berbicara dalam bahasa yang sama kepada Tuhan yang disebut dengan nama yang juga sama.

Ok. Saya pun diam-diam protes menentang ide absurd ini. Karena, katanya, perbedaan itu indah; karena, katanya, ada perbedaan maka ada toleransi. Semoga demikian, kata saya.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *