What’s the Buzz?

Pekerjaan di industri digital, tepatnya social media, memperkenalkan saya pada istilah ‘buzzer‘ (khususnya) di twitter.

Buzzer, menurut pemahaman saya, diambil dari kata kerja ‘buzz’ (Bahasa Inggris) yang menurut Dictionary Instant bermakna :

To make a low, continuous, humming or sibilant sound, like that made by bees with their wings. Hence: To utter a murmuring sound; to speak with a low, humming voice.

Beberapa waktu lalu saya sempat memantau pertikaian di twitter (istilah kerennya : twitwar) antara satu buzzer dengan banyak buzzer lainnya. Perkaranya, sesosok akun twitter pseudonym — yaitu yang tidak menggunakan nama pemilik akun sebenarnya — mencerca akun-akun twitter lainnya tentang keberadaan mereka sebagai buzzer (istilah lainnya : selebtwit).

Pada kejadian ini, si akun pseudonym menerjemahkan buzzer sebagai tombol bel; yang kemudian dianalogikan sebagai bel tukang siomay.

Bebas aja sih..

Yang menarik justru bagaimana akun-akun twitter lain (tentunya yang merasa diri mereka buzzer) terpancing menanggapi provokasi tersebut.

Ah, kalian, orang yang gak berani nunjukin identitas aslinya aja dikasih panggung..

Hal lain yang menarik tentang fenomena bernama buzzer ini..

Mundur beberapa waktu sebelum kejadian twitwar ini, kantor saya mengundang beberapa twitter buzzer, baik yang sudah pernah diajak bekerjasama maupun yang belum, untuk sebuah gathering. Nama gathering ini cukup menjelaskan : #bukberbuzzer. See..

Sebagian buzzer yang diundang adalah ‘anak lama’ di dunia perbuzzeran (karena ‘dunia entertain’ terlalu mainstream); sebagian kecil ‘anak baru’. Disclaimer : pembedaan anak lama vs anak baru ini tentu saya sepemahaman saya, sebatas nama-nama yang saya amati secara pribadi. Don’t expect me to know all those tens of millions of twitter users in Indonesia alone.

Sepanjang acara yang berlangsung hanya beberapa jam ini, saya mengamati perbedaan diantara kedua kelompok buzzer ini. Beberapa anggota gank anak lama nyeletuk kalau mereka merasa risih dengan nama acara (yang secara sukarela mereka twit). Kata beberapa diantara mereka, istilah ‘buzzer’ terlalu blak-blakan jualan’.

Maaf ya, gak sempet bikin nama lain..

Lain halnya dengan gank anak baru. Dengan tanpa malu-malu mereka memproklamirkan diri sebagai ‘buzzer’; beberapa diantaranya bahkan semacam pasang papan reklame : buzzer dengan harga terjangkau. (Disclaimer : ini bisa jadi analogi saya yang berlebihan.)

Apeulah kalian..

Ya.. begitulah tingkah laku para buzzer yang saya amati akhir-akhir ini.

Tapi, kembali ke pertanyaan mendasar deh : siapa sih buzzer itu?

In my opinion, the label ‘buzzer’ is much like respect :

Respect is earned, not given.

 

PS : happy buzzing :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *