will you still love me in the morning?

Satu pertanyaan yang barusan melintas di kepala dan memecah konsentrasi: Bagaimana saya akan dikenang kelak?

Tenang.  Pertanyaan ini tidak dalam konteks kehilangan nyawa atau sejenisnya.  Tapi, ya, memang mengandung unsur perpisahan.

Dalam hitungan mundur 1 bulan, saya akan meninggalkan kantor ini dan memulai petualangan baru saya di tempat lain – Tuhan tahu entah di mana itu.  Dan pertanyaan tentang bagaimana saya akan dikenang kelak oleh teman-teman sekerja menghantui.  Apakah saya telah memenuhi ekspektasi?  Apakah saya telah cukup berkontribusi? Adakah perubahan dan/atau perbaikan dari keberadaan saya selama ini? Bahkan, lebih personal lagi: Apakah saya telah menjadi teman yang baik?

Selain pertanyaan-pertanyaan tak terjawab di atas, sebuah pertanyaan – atau lebih tepatnya tendangan balik – dari dalam justru menghantam diri: Apakah semua pertanyaan itu  penting, Ter? Ya. Mengapa? Karena..

<< Rewind <<

Baru tahun kemarin berpisah dari teman-teman kantor lama, dan berjumpa dengan teman-teman kantor baru (kantor ini).  Dan beradaptasi.

Saat itu saya merasa yakin telah memenuhi ekspektasi, telah bekontribusi (bahkan berdedikasi), membawa perubahan dan perbaikan, dan menjadi teman yang baik di kantor lama.  Setidaknya saya merasa yakin begitu, sampai opini-opini lain mampir ke telinga dan menggoyahkan keyakinan itu.

Dari seorang teman kantor lama saya tahu ada seorang pegawai baru di sana.  Yang menggelikan/mengerikan adalah bagaimana dia dengan cepat mengasosiasikan nama saya dengan sebuah kata sifat spesifik; “Oh, kalau Tere itu yang galak yah?” katanya.  Menggelikan.  Siapa dia menyebut saya galak saat dia bahkan tidak mengenal saya?  Mengerikan.  Orang itu pasti mendengar sesuatu tentang saya dari seseorang.  Dan dari sekian banyak kata sifat yang dapat menggambarkan saya, hanya galak yang diingatkah?

(Dalam perjalanan pulang semalam, saya bertemu dengan seorang teman Gereja yang pernah sama-sama aktif dalam kegiatan kepemudaan.  Dalam percakapan singkat kami, saya berkata “.. lo tau sendiri kan gimana kalo gue marah?” dan dia menjawab “iya..” dengan nada lemas. Hahaha.. Kalian!)

Saya tidak menyangkal bahwa saya (pernah) galak.  Tapi, apa hanya itu yang kalian kenang dari saya?  Lalu apa kabar sikap dan sifat saya yang lain?

Mirror Mirror Hanging on the Wall..

Wah.. ternyata.. betapa laparnya dan hausnya saya akan pengakuan dari orang lain.  Tidak hanya di tempat kerja, tapi juga dalam hubungan dengan manusia lain (pertemanan, persahabatan, apapun namanya).

Betapa saya ingin diakui telah berbuat ‘sesuatu’, menjadi ‘seseorang’ bagi orang lain.  Saya tahu saya tidak dapat memaksakan ini.  Saya hanya dapat berusaha berbuat sesuatu dan menjadi seseorang bagi orang lain.  Dan semoga tidak hanya yang mengandung unsur ‘galak’.

Sudahlah.  Saya semakin terdengar seperti abege labil penuntut.  Apa yang terjadi, terjadilah.. all I know is you love me just the way I am.. or else! Hahaha.. :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles