You Don’t Have to Score

Ada masanya dalam hidup, kita disalahpahami oleh orang lain. Dituduh berbuat tidak baik terhadap orang lain itu, walaupun kita tau perkataan, perbuatan, bahkan pikiran kita tidak begitu.

Kita pun berupaya mengurai benang yang kusut.

Lalu saat kita kira kesalahpahaman sudah diluruskan, tiba-tiba kita dengar kabar dari orang ketiga bahwa si orang lain masih mengganggap kita sebagai orang jahat.

Kita tidak terima. Kita bahkan mungkin marah. Kita setidaknya merasa dikhianati. Kita ingin mengajak si orang lain kembali duduk berhadapan; kembali beradu argumen. Kembali ingin menjelaskan bahwa kita tidak jahat; si orang lain hanya salah paham.

“Ikhlasin.”

“You don’t have to score.”

Seburuk kedengarannya, nasihat di atas benar adanya.

Terima saja. Silakan marah. Silakan sedih. Tapi gak perlulah kembali mencoba menjelaskan diri. You did that already. If it was not enough for that person, it’s never gonna be enough.

Dan gak akan mudah. Saya berkali-kali kepikiran untuk kembali melakukan konfrontasi, supaya kelak saya mati saya tau kalau orang lain itu tidak salah paham terhadap saya. Namun, pada akhirnya, apapun yang orang lain itu pikirkan tentang saya gak relevan; saya gak bisa mengendalikan pikiran orang lain.

“I’m only responsible for what I say or do, I’m not responsible for what you understand.”

Dan kehidupan terus berlangsung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles